Renjana mendengarkan rekaman itu tiga kali sebelum berbicara.
"'Jalanannya licin akhir-akhir ini. Banyak kecelakaan'," ulangnya pelan, suara Damar masih bergema dari speaker ponsel di pantry sepi malam itu. Ia mematikannya. "Itu bukan kiasan, Alga."
"Saya tahu."
"Kamu nggak paham." Renjana menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak lama Alga melihat ketakutan yang sesungguhnya di wajah konsulen itu—bukan untuk dirinya, tapi sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam. "Kata 'kecelakaan' dari mulut Damar bukan ancaman umum. Itu metode. Itu yang dia pakai untuk Larasati. Mobil yang keluar jalur di jalan kering, malam terang. Polisi bilang ngantuk." Tangannya mengepal di sisi tubuh. "Begitu nama kamu dan saya ada di buku kulit dengan status 'DIJADWALKAN', itu bukan ancaman lagi. Itu rencana yang sudah ditulis. Dan sekarang dia baru saja memberi tahu kamu, ke wajah kamu, bahwa dia mengaktifkannya."
Mereka mengubah segalanya malam itu. Renjana memaksa Alga pindah dari kos—tidur di tempat berbeda setiap malam, di sofa rumah Anindita, di kamar belakang RS Harapan Kita, di rumah saudara jauh. Mereka berhenti memakai rute yang sama dua kali. Renjana mengajari Alga memeriksa bawah mobil sebelum masuk, memeriksa apakah ada yang mengikuti, selalu memberi tahu satu orang ke mana ia pergi.
"Paranoia itu mahal," kata Renjana. "Tapi mati lebih mahal."
Tiga hari berlalu tanpa kejadian. Alga hampir mulai berpikir ancaman itu cuma gertakan—sampai malam keempat.
Renjana menelepon pukul sebelas, suaranya tegang. "Saya baru saja hampir mati."
Alga merasa darahnya membeku. "Dok—di mana Dok? Dok baik-baik—"
"Saya selamat. Tapi tipis." Napas Renjana berat. "Saya pulang dari menengok Kavi di Harapan Kita. Turunan dekat jembatan, kamu tahu yang curam itu. Saya injak rem—dan pedalnya amblas. Kosong. Nggak ada tahanan sama sekali."
Alga menggenggam ponselnya erat. "Astaga. Gimana Dok—"
"Saya tarik rem tangan, pelan, supaya nggak terbalik. Pindah ke gigi rendah. Mesin meraung, mobil oleng, tapi melambat. Saya banting ke gundukan tanah di sisi jalan, mobil berhenti nyangkut di situ." Renjana terdiam, dan Alga bisa mendengar betapa ia berusaha menjaga suaranya tetap stabil. "Kalau saya bukan orang yang sejak tiga hari lalu sudah waspada, kalau saya panik, kalau saya injak rem terus tanpa berpikir—saya sudah masuk jurang itu. Persis seperti Larasati."
"Dok ada di mana sekarang? Saya ke sana."
"Jangan. Itu yang mereka harapkan—saya celaka, kamu panik dan datang sendirian di tengah malam ke tempat sepi." Suara Renjana mengeras. "Saya sudah telepon Bayu. Dia datang dengan mobil derek polisi—bukan derek biasa, derek yang dia percaya. Mobil saya nggak boleh disentuh siapa pun selain forensik. Karena, Alga—" ia berhenti, lalu melanjutkan dengan nada baru, nada yang bukan ketakutan lagi, melainkan perhitungan dingin. "Karena ini kesalahan mereka."
"Kesalahan?"
"Mereka mengulang modus yang sama persis dengan Larasati. Rem. Tapi kali ini, korbannya selamat, sadar, dan dokter—saya tahu persis apa yang terjadi sebelum mobil itu mereka sentuh kembali. Dan kali ini, ada Bayu yang mengamankan kendaraannya sebelum mereka sempat 'merapikan'." Renjana menarik napas. "Selama ini sabotase rem Larasati cuma cerita yang nggak bisa kita buktikan, kasus yang sudah ditutup polisi sebagai kecelakaan. Tapi mobil saya, malam ini—kalau forensik menemukan rem ini dirusak dengan sengaja, kita punya bukti percobaan pembunuhan yang segar. Nyata. Dengan korban yang hidup untuk bersaksi."
Alga mulai memahami arah pikiran Renjana, dan sesuatu di dadanya—yang sejak telepon ini diremas ketakutan—mulai berdetak dengan rasa lain.
"Bukti percobaan pembunuhan," kata Alga pelan.
"Mereka mengira menghapus kita. Mereka justru memberi kita senjata." Renjana terdiam sejenak. "Kamu ingat apa yang selalu saya bilang sejak hari pertama kamu? Kesalahan itu peti mati."
"Saya ingat, Dok."
"Malam ini, mereka yang membuat kesalahan." Suara Renjana di seberang sana, di tepi jalan gelap dengan mobil rusak di belakangnya, terdengar hampir seperti senyum. "Dan kali ini, petinya bukan untuk kita."
Sirine polisi mulai terdengar di latar—Bayu datang. Alga mendengar pintu mobil, langkah kaki, suara Bayu yang rendah dan mendesak menanyakan keadaan Renjana.
"Alga," kata Renjana sebelum menutup telepon. "Tetap di tempat aman malam ini. Jangan ke mana-mana. Besok pagi, kita mulai membongkar kuburan lama." Jeda. "Kuburan Larasati."