Bengkel forensik kepolisian berbau oli dan logam dingin.
Mobil tua Renjana berdiri di atas dongkrak hidrolik, kap mesin terbuka, roda-roda dilepas. Seorang ahli forensik kendaraan—pria paruh baya berkacamata tebal, dipanggil Bayu dari satuan luar wilayah agar bersih dari pengaruh Damar—berlutut di bawah kolong, menyorot dengan senter ke arah sistem pengereman. Alga, Renjana, dan Bayu berdiri menunggu, ketegangan menggantung seperti kabut.
"Nah," kata ahli itu akhirnya, menarik diri keluar dari kolong. Ia memegang sepotong selang karet tipis dengan pinset. "Ini selang rem. Lihat ini." Ia mengangkatnya ke cahaya. "Ada potongan di sini. Tapi bukan potongan robek karena aus atau gesekan. Lihat tepinya—rapi. Bersih. Ini dipotong sebagian dengan benda tajam. Tidak putus total, hanya digores sampai hampir putus."
"Kenapa nggak diputus total?" tanya Alga.
"Karena kalau diputus total, rem langsung blong saat mobil pertama jalan, di tempat parkir, kecepatan rendah. Pengemudi langsung sadar dan berhenti. Tidak ada yang celaka." Ahli itu menggeleng. "Ini lebih licik. Digores sebagian, supaya minyak rem bocor pelan-pelan setiap kali pedal diinjak. Berhasil beberapa kilometer pertama. Lalu, di pengereman keras—di turunan curam, misalnya—tekanan tinggi membuat sisa selang yang tergores itu jebol total. Rem amblas. Persis saat pengemudi paling butuh."
Hening di bengkel itu. Renjana menatap selang karet itu dengan wajah yang Alga tak bisa baca.
"Ini bukan kecelakaan," kata Bayu pelan, mencatat. "Ini dirancang. Sengaja. Untuk membunuh di tempat dan waktu tertentu, dengan menyamar sebagai kecelakaan tunggal."
"Pak," kata Renjana, suaranya tercekat. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah foto lama, menyodorkannya ke ahli forensik. "Tolong lihat ini. Foto-foto bangkai mobil dari sebuah kecelakaan dua tahun lalu. Saya minta dari arsip lewat seseorang. Dokter Larasati. Konsulen sebelum saya. Mati 'kecelakaan tunggal', mobil keluar jalur."
Ahli itu mengernyit, memperbesar foto dengan jari, mengamati lama. Lalu ia menunjuk satu sudut foto.
"Sulit memastikan dari foto saja, kualitasnya buruk. Tapi—" ia mengetuk layar, "—lihat sistem rem di sini. Pola kebocoran minyak rem ini, distribusinya, dan jejak di selang yang masih terlihat. Mirip sekali. Kalau saya periksa langsung, mungkin saya bisa pastikan. Tapi dari ini saja, saya berani bilang: pola kerusakan rem mobil dr. Larasati dan mobil ini—konsisten. Modus yang sama. Tangan yang mungkin sama."
Sesuatu di wajah Renjana retak—bukan ketakutan, bukan amarah, sesuatu yang lebih dalam, yang sudah dipendam dua tahun. Alga melihat konsulennya yang selalu datar, yang wajahnya seperti tembok, menutup mata sejenak dan menarik napas yang bergetar.
"Dua tahun," kata Renjana lirih. "Dua tahun saya tahu mereka membunuhnya. Saya tahu di sini." Ia menyentuh dadanya. "Tapi setiap kali saya coba bicara, mereka bilang saya berkabung, saya emosional, saya nggak punya bukti. Polisi sudah menutup kasusnya. 'Ngantuk', kata mereka. Larasati nggak pernah ngantuk waktu nyetir." Ia membuka mata, dan kali ini ada api di sana. "Dan sekarang, karena mereka mencoba membunuh saya dengan cara yang sama, mereka memberi saya bukti yang nggak pernah saya punya untuknya."
Bayu menaruh pena dan map-nya. Wajahnya serius. "dr. Renjana, dr. Alga. Saya mau jujur soal posisi saya. Selama berbulan-bulan saya bilang ke kalian, bukti kalian terlalu 'medis', terlalu administratif. Pencoretan diagnosis, pola statistik—itu sulit dijadikan pidana. Pengacara mereka bisa selalu bilang itu kelalaian, salah baca, perbedaan pendapat klinis. Bukan kejahatan." Ia menatap selang rem di atas meja forensik. "Tapi ini—percobaan pembunuhan berencana, dengan korban hidup yang bisa bersaksi, dengan bukti fisik sabotase, dengan pola yang menghubungkan ke kematian Larasati—ini pidana murni. Ini niat. Ini mens rea yang selama ini saya cari."
"Artinya?" tanya Alga.
Bayu menatap mereka berdua. "Artinya saya sekarang punya dasar hukum yang kuat. Bukan cuma untuk percobaan pembunuhan terhadap dr. Renjana malam ini." Ia mengambil foto bangkai mobil Larasati, menatapnya. "Tapi untuk membuka kembali kasus kematian dr. Larasati. Sebagai pembunuhan. Bukan kecelakaan."
Kata-kata itu menggantung di udara bengkel yang dingin.
Dua tahun kasus yang ditutup, dikubur, dilupakan paksa. Hantu yang menggerakkan Renjana, menggerakkan Gunawan, dan akhirnya menggerakkan Alga sendiri. Dan kini, lewat sebuah usaha pembunuhan yang gagal, pintu yang terkunci rapat itu mulai terbuka kembali.
"Tapi atasan saya," kata Bayu, lebih pelan, "Kombes yang dekat Damar—dia yang dulu menandatangani penutupan kasus Larasati sebagai kecelakaan. Membuka kembali kasus itu artinya menunjuk bahwa dia salah. Atau lebih buruk—bahwa dia ikut menutupi." Ia mengembuskan napas berat. "Dia akan melawan keras. Dengan segala cara."
"Tapi bisa dibuka?" tanya Renjana, suaranya tajam.
Bayu menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia mengangguk. "Dengan bukti baru yang sah—percobaan pembunuhan dengan modus identik—saya bisa ajukan ke Propam dan Tipikor lintas wilayah, di luar jangkauan Kombes saya. Mereka punya kewenangan membuka ulang." Ia menutup map-nya. "Ini akan jadi perang. Tapi untuk pertama kalinya, dr. Renjana, kita punya peluru yang sah untuk menembak balik."
Renjana memandang selang rem yang tergores rapi itu—benda kecil yang dirancang untuk membunuhnya, kini berubah menjadi senjata untuk menuntut keadilan bagi sahabat yang sudah dua tahun terbaring di kuburnya tanpa nama yang bersih.
"Buka kasusnya," kata Renjana, suaranya pelan tapi sekeras baja. "Buka kuburan Larasati. Sudah cukup lama dia menunggu."