Berkas kasus dr. Larasati Sekar Wening tebalnya hanya dua sentimeter.
Itu hal pertama yang mengganggu Alga ketika Bayu menggelar salinannya di atas meja sebuah kafe kecil di pinggir kota—tempat netral, jauh dari Polres tempat mata Kombes mengawasi. Dua sentimeter untuk kematian seorang dokter. Foto TKP yang sedikit. Visum yang singkat. Kesimpulan yang lebih singkat lagi: kecelakaan tunggal, dugaan microsleep, kasus ditutup.
"Lihat tanggalnya," kata Bayu, menunjuk. "Kecelakaan terjadi hari Selasa. Kasus ditutup hari Jumat. Tiga hari. Untuk kematian yang melibatkan dokter senior, biasanya butuh berminggu-minggu. Ini ditutup buru-buru." Ia membalik halaman. "Dan ini—dari semua orang yang bisa dimintai keterangan, penyidik dulu cuma memeriksa dua: petugas jalan tol dan satu saksi yang lewat. Mereka nggak periksa mobilnya secara forensik. Nggak periksa riwayat servis. Nggak tanya bengkel."
"Kenapa nggak ada yang curiga?" tanya Alga.
"Karena nggak ada yang mau curiga." Renjana menjawab, suaranya getir. Ia menatap foto Larasati yang terselip di berkas—seorang perempuan dengan senyum hangat, mata yang cerdas, jas putih. "Saya coba waktu itu. Saya datang ke kantor polisi. Saya bilang Larasati sedang menyelidiki sesuatu di rumah sakit, bahwa dia menerima ancaman. Mereka catat, mereka angguk, lalu mereka bilang saya sedang sedih dan membayangkan hal-hal. Tiga hari kemudian kasusnya ditutup." Ia menelan ludah. "Saya berhenti mencoba. Saya pikir saya akan mati seperti dia kalau saya terus. Saya memilih bertahan di dalam, menyelamatkan satu-satu, daripada mati sia-sia." Ia menunduk. "Selama dua tahun saya menyebut itu strategi. Tapi sebenarnya itu rasa bersalah."
Alga menaruh tangan di bahu mentornya—gerakan kecil, canggung, pembalikan peran yang tak biasa di antara mereka. "Dok bertahan supaya ada yang menjaga gerbang. Itu bukan pengecut. Itu yang menyelamatkan Bu Sulastri. Pak Solihin. Rendi. Saya."
Renjana tidak menjawab, tapi ia tidak menepis tangan itu.
"Sekarang kita punya kesempatan kedua," kata Bayu, mengembalikan fokus. "Tapi kita butuh sesuatu yang lebih dari sekadar kemiripan pola rem. Kita butuh seseorang yang tahu. Seseorang yang ada di sana, dulu." Ia membuka catatannya. "Mobil dr. Larasati. Sebelum kecelakaan, di mana terakhir kali diservis?"
Renjana mengernyit, menggali ingatan. "Dia... saya ingat dia pernah cerita mobilnya rewel sebulan sebelum itu. Dia bawa ke bengkel langganan. Dekat rumahnya. Bengkel kecil, milik—" matanya melebar. "Pak Tarno. Bengkel Pak Tarno."
Bayu mencatat cepat. "Kita cari bengkel itu."
Butuh dua hari untuk menemukannya. Bengkel Tarno ternyata sudah tutup—papan namanya pudar, pintunya digembok karat. Tapi seorang tetangga memberi tahu mereka bahwa Pak Tarno masih hidup, kini tinggal bersama anaknya, sudah tua dan jarang keluar rumah.
Lelaki itu menerima mereka dengan curiga di teras rumah anaknya. Tangannya keriput, punggungnya bungkuk, tapi matanya tajam dan waspada. Ketika Bayu menyebut nama Larasati, wajah tua itu berubah—pucat, lalu menutup, seperti pintu yang dibanting.
"Saya nggak tahu apa-apa," kata Pak Tarno cepat, sudah hendak berdiri. "Itu kecelakaan. Sudah lama. Tolong pergi."
"Pak Tarno," kata Renjana pelan, dan ada sesuatu dalam suaranya yang membuat lelaki tua itu berhenti. "Dokter Larasati sahabat saya. Dia mati di turunan, mobilnya keluar jalur. Polisi bilang dia ngantuk. Tapi Bapak yang terakhir pegang mobilnya. Bapak tahu, kan, bahwa dia nggak ngantuk."
Pak Tarno terdiam. Tangannya yang keriput gemetar di pegangan kursi.
"Dua tahun lalu," lanjut Renjana, suaranya nyaris berbisik, "ada yang datang ke Bapak, kan? Sesudah kecelakaan itu. Menyuruh Bapak diam. Mungkin memberi uang. Mungkin mengancam keluarga Bapak."
Mata tua itu berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Untuk waktu yang lama, ia tidak berkata apa-apa, hanya memandang ke kejauhan, ke sesuatu yang hanya bisa ia lihat.
"Dua orang," kata Pak Tarno akhirnya, suaranya pecah. "Dua minggu setelah Bu Dokter meninggal. Mereka datang malam-malam. Mereka tahu mobil Bu Dokter terakhir saya yang servis. Mereka bilang—kalau saya bicara soal rem, soal apa pun, bengkel saya akan terbakar, dan anak saya..." Ia tak sanggup menyelesaikannya. Air mata jatuh di pipi keriputnya. "Saya tutup bengkel. Saya pindah. Saya diam dua tahun. Tiap malam saya ingat wajah Bu Dokter. Dia baik. Dia pernah obati cucu saya nggak mau dibayar."
Renjana menutup matanya sejenak. Alga merasakan dadanya sesak.
"Pak," kata Pak Tarno, kini menatap Renjana langsung, dua tahun ketakutan tumpah dalam satu kalimat, "rem mobil Bu Dokter—waktu saya servis, sehat. Saya sumpah. Saya periksa sendiri. Sehat. Selang itu baru, baru saya ganti. Nggak mungkin putus sendiri seminggu kemudian. Nggak mungkin." Ia mengusap matanya. "Saya tahu mobil itu dirusak orang. Saya tahu sejak hari pertama. Tapi saya takut. Saya pengecut, Pak. Maafkan saya."
"Bapak nggak pengecut," kata Alga lembut, teringat Pak Gunawan, teringat semua orang kecil yang ditekan menjadi diam. "Bapak cuma seorang ayah yang takut anaknya celaka. Itu manusiawi. Tapi sekarang—Bapak nggak sendirian lagi. Ada kami. Ada polisi yang bersih. Ada banyak orang yang sudah berani."
Pak Tarno menatap mereka satu per satu—dokter perempuan berwajah lelah yang menyimpan duka dua tahun, dokter muda dengan mata teguh, perwira polisi muda yang mencatat dalam diam. Lalu ia mengangguk pelan, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, punggung bungkuknya seperti sedikit menegak.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya.
Bayu menutup catatannya, suaranya tenang dan tegas. "Bersaksi. Resmi. Bahwa rem mobil dr. Larasati sehat saat Bapak servis, dan bahwa Bapak diancam untuk diam. Dengan kesaksian Bapak, ditambah bukti sabotase rem mobil dr. Renjana yang modusnya identik—" ia menatap Renjana dan Alga, "—kasus kematian dr. Larasati resmi dibuka kembali. Sebagai pembunuhan berencana."
Di mobil, dalam perjalanan pulang, tidak ada yang bicara untuk waktu yang lama. Renjana memandang ke luar jendela, ke jalan yang membentang, dan Alga tahu ia sedang berbicara dengan seseorang yang tak ada di sana.
"Dua tahun, Las," akhirnya Renjana berbisik, begitu pelan sampai Alga hampir tak mendengarnya. "Maaf butuh dua tahun. Tapi kami datang sekarang."
Di kursi depan, ponsel Bayu bergetar. Ia melihat layarnya, dan wajahnya mengeras.
"Apa, Pak?" tanya Alga.
Bayu menaruh ponselnya pelan. "Kombes saya. Dia tahu kita menemui Pak Tarno." Ia menatap jalan di depan. "Mereka tahu kita membuka kasus Larasati."
Renjana menegakkan badan, naluri lamanya kembali. "Berarti mereka akan menyerang lebih dulu. Sebelum kasusnya cukup kuat untuk berdiri sendiri."
Bayu mengangguk perlahan, rahangnya mengeras. "Mereka sudah kehabisan cara halus. Tawaran ditolak, ancaman gagal, kecelakaan meleset." Ia menatap spion, memperhatikan jalan di belakang mereka. "Yang tersisa cuma serangan pamungkas. Dan mereka akan melepaskannya sekarang, sebelum kita siap."