Hari keempat. Mereka tak menunggu hari kelima.
Pukul 06.00, sebelum kota benar-benar bangun, semua jalur ditarik bersamaan. Ratna menekan publikasi. AKP Bayu, dengan surat dari satuan lintas wilayah dan tim Tipikor di belakangnya, bergerak. Tim dokter independen mengunggah laporan resmi ke Kemenkes dan menyurati lembaga akreditasi—tembusan ke auditor yang masih di kota.
Judulnya muncul di layar jutaan ponsel pukul 06.05:
**DIPULANGKAN UNTUK MATI: Skema Maut di Balik Akreditasi RS Bumi Sentosa.**
Alga membaca dari basement Harapan Kita, di kelilingi orang-orang yang tak tidur semalaman. Ratna menulisnya dengan presisi seorang dokter membaca EKG—tiap fakta berlapis bukti, tiap tuduhan berlabuh pada dokumen. Foto status berstempel ungu sebelum dicoret. Diagram statistik kematian yang anjlok justru saat kasus berat naik—anomali yang menjerit. Suara Bu Sulastri, direkam, menceritakan bagaimana ia dipulangkan dengan diagnosis maag dan hampir mati di lantai rumahnya. Dan—yang meledakkan segalanya—kutipan dari pengakuan Wirya, dokter pelaksana yang menyeberang, menyebut "kuota mortalitas" dan "instruksi langsung dari direksi".
Dalam satu jam, berita itu menyebar seperti api di kos Alga. Dalam tiga jam, namanya jadi yang paling dicari. Dalam lima jam, kota marah.
Tapi yang membuat dada Alga sesak bukan angka penyebaran. Tapi kolom komentar, pesan-pesan yang membanjir. Keluarga demi keluarga, menulis hal yang sama dengan kata berbeda:
*Ayah saya dipulangkan dengan diagnosis masuk angin tahun lalu. Meninggal tiga hari kemudian. Kami kira takdir.*
*Ibu saya. Stroke. Mereka bilang cuma pusing. Pulang. Tidak pernah bangun lagi.*
*Suami saya. Dada sakit. "Cuma kelelahan," kata dokter. Mati di angkot dalam perjalanan pulang.*
Nama-nama yang selama ini hanya kolom "STATUS" di buku kulit, kini bersuara. Ratusan dari mereka. Takdir yang selama ini mereka tanggung dalam diam, ternyata bukan takdir—tapi pembunuhan yang disembunyikan di balik angka.
Nayla, di sebelah Alga, menangis tanpa suara membaca semuanya. "Mereka tidak sendirian lagi," bisiknya. "Kita semua—tidak sendirian lagi."
Di Bumi Sentosa, krisis meledak. Wartawan mengepung gerbang. Auditor akreditasi internasional, yang membaca laporan resmi pagi itu, menahan keputusan dan meminta klarifikasi mendesak. Dewan Yayasan rapat darurat. Saham reputasi rumah sakit—yang seluruh skema ini dibangun untuk melindunginya—runtuh dalam hitungan jam.
Tapi Renjana tidak ikut larut dalam kemenangan. Ia berdiri di sudut, lengan masih digantung, menatap layar dengan waspada.
"Mereka belum menyerah," katanya pelan.
Pukul 14.00, ponsel Bayu berdering. Ia mendengarkan, wajahnya mengeras, lalu menutup.
"Damar tampil di televisi satu jam lagi," kata Bayu. "Konferensi pers. Dan pengacara Yayasan baru saja melaporkan kalian semua—Alga, Renjana, Anindita—atas pencurian rekam medis, pemalsuan dokumen, dan pencemaran nama baik." Ia menatap berkeliling. "Mereka membalik narasi. Mereka akan bilang seluruh ini rekayasa dua dokter sakit hati yang gagal internsip."
Alga menelan asam di tenggorokannya. "Mereka punya wajah ramah dan poster 'Pelayanan dari Hati'," katanya. "Kita punya bukti."
"Di pengadilan, bukti menang," kata Bayu. "Tapi di televisi, malam ini—" ia tak menyelesaikannya.
Renjana menyelesaikannya. "Malam ini, wajah dan kuasa yang bicara." Ia menatap Alga. "Dan Damar punya wajah paling meyakinkan yang pernah saya lihat."