Setahun. Tepat setahun.
Alga berdiri di trotoar depan RS Bumi Sentosa, menatap pintu kaca otomatis yang sama dengan yang dulu nyaris ia munduri di pagi pertama. Ia masih ingat detail itu dengan tajam—bagaimana di hari pertama, jantungnya bertalu, telapaknya basah, dan untuk satu detik penuh ia hampir berbalik pulang, menyerah sebelum mulai, karena takut tak cukup.
Sekarang pintu itu terbuka untuk wajah baru rumah sakit ini. Spanduk lama "Pelayanan dari Hati" sudah dicopot; di tempatnya tergantung papan sederhana: *Instalasi Gawat Darurat. Audit Mortalitas Independen — Transparan.* Tak ada lagi poster Pak Damar yang tersenyum seperti kakek.
Renjana berdiri di sampingnya, jas putih dengan papan nama yang sama, tapi bahu yang lebih ringan. "Kamu melamun lagi."
"Memikirkan diriku yang setahun lalu," kata Alga. "Anak itu hampir kabur, lho. Di pintu ini juga."
"Kalau dia kabur," Renjana menyeringai tipis—seringai yang dulu mustahil ada di wajah datarnya—"kita semua mati. Sulastri, Gunawan, Kavi. Semua."
Alga tak menjawab. Ia membiarkan beratnya kalimat itu mengendap. Ia memikirkan pasien yang berhasil ia selamatkan—Bu Sulastri yang masih kontrol jantung rutin, Pak Solihin si emboli paru, anak sepsis di depan auditor. Dan ia memikirkan yang tidak. Pasien stempel ungu yang mati di malam banjir korban kedua sebelum tangannya sempat sampai. Pak Gunawan, yang mati sebagai saksi tapi tetap mati. Wajah-wajah itu tak pernah pergi. Renjana pernah bilang, dokter yang baik selalu membawa beberapa wajah di belakang matanya. Itu bukan beban yang dilepas; itu tanda kau masih manusia.
"Aku memperpanjang internsipku," kata Alga tiba-tiba. "Dan aku sudah daftar."
Renjana menoleh.
"Spesialis. Emergency medicine. Kedokteran gawat darurat." Alga menatap pintu kaca itu. "Tempat aku hampir lari, tempat aku belajar berdiri. Aku mau menghabiskan hidupku di sini—di gerbangnya. Di golden hour. Di lima menit yang menentukan."
Renjana diam lama. Lalu, "Larasati pasti tertawa. Dulu dia juga bilang begitu, persis. 'Di gerbangnya.'"
"Aku tahu," kata Alga lirih. "Aku baca suratnya."
Mereka melangkah masuk bersama. Pintu kaca membuka mulus, dan udara IGD menyambut—bau antiseptik, denting monitor, suara seseorang memanggil nomor triase. Bau yang setahun lalu membuat lutut Alga lemas, kini terasa seperti pulang.
Di nurse station, Sekar—kini kepala perawat IGD—mengangkat tangan menyapa. Di papan tulis besar tertulis daftar pasien, lengkap dengan diagnosis sebenarnya. Tak ada yang dicoret. Tak ada yang diganti jadi "maag" atau "serangan panik". Tak ada stempel ungu di sudut mana pun. Map-map status berwarna biasa, putih dan jujur.
Alga berhenti sejenak di tengah ruangan. Ia mengingat ribuan map ungu di B2, buku catatan kulit dengan kolom "STATUS", tiga nama bertinta baru yang berbunyi "DIJADWALKAN". Renjana, Alga, Gunawan. Dua dari tiga nama itu masih hidup dan berdiri di ruangan ini. Itu, pikir Alga, adalah seluruh arti dari kemenangan. Bukan piala. Bukan vonis. Hanya: mereka masih di sini, dan map-mapnya jujur.
"Sumpahmu," kata Renjana di sampingnya, membaca pikirannya seperti biasa. "Masih utuh?"
Alga teringat kalimat dalam sumpah dokter yang dulu ia ucapkan dengan gugup, suara nyaris tak terdengar. *Keselamatan pasien akan senantiasa aku utamakan.* Dulu ia mengucapkannya seperti mantra yang tak dimengerti. Kini ia tahu persis berapa harganya. Berapa darah, berapa nyawa, berapa malam tanpa tidur, berapa wajah di belakang matanya.
"Masih," jawab Alga. Suaranya tidak gemetar. "Dan baru sekarang aku tahu artinya."
Monitor di bilik tiga berbunyi—takikardia. Sekar sudah bergerak. Renjana menarik sarung tangan. Dan Alga, dokter yang setahun lalu hampir kabur di pintu kaca, melangkah lebih dulu menuju pasien.