Hari itu adalah hari yang biasa, dan itulah yang membuatnya luar biasa.
IGD RS Bumi Sentosa berdenyut dalam ritme normal. Bukan banjir korban, bukan bencana massal, bukan drama. Hanya pekerjaan biasa orang-orang biasa yang menyembuhkan orang-orang biasa. Seorang ibu dengan anak demam tinggi. Seorang tukang ojek dengan luka di tangan. Seorang kakek dengan sesak napas yang—dirawat, didiagnosis benar, dan dirujuk dengan jujur ke ruang rawat, bukan dipulangkan untuk mati di gang.
Alga menyukai pagi-pagi seperti ini sekarang. Dulu ia kira keberanian adalah tentang konfrontasi besar—penyusupan ke ruang arsip, rekaman tersembunyi, sidang yang mengguncang. Kini ia tahu keberanian yang paling sulit adalah yang ini: datang setiap hari, mengerjakan hal benar yang membosankan, terus-menerus, tanpa penonton.
Di bilik empat, ada wajah yang ia kenal. Bu Sulastri, lima puluh tiga tahun sekarang, duduk tegak di brankar dengan rambut yang sudah lebih banyak ubannya. Di sampingnya Nayla, yang dulu remaja ketakutan di gang, kini gadis muda dengan tatapan tenang yang sudah belajar banyak tentang dunia.
"Kontrol rutin, Dok," kata Bu Sulastri. "Jantung saya. Bu dokter Anindita yang nyuruh, tapi saya maunya kontrol di sini." Ia tersenyum, kerut di sudut matanya dalam. "Biar saya bisa lihat IGD yang sekarang. Yang waktu itu hampir... yang waktu itu—"
Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Tak perlu. Mereka semua tahu. Inilah ruangan tempat statusnya pernah dicoret jadi "maag" dan dirinya dikirim pulang untuk mati. Inilah ruangan yang sama, kini berbeda.
Alga membaca hasil EKG-nya. Bersih. Irama sinus, normal. Jantung yang dulu nyaris berhenti di ruang tamu rumahnya sendiri, kini berdetak tenang.
"Bagus sekali, Bu," kata Alga. "Bekas pasangan ring-nya rapi. Tekanan darah terkontrol. Obatnya diminum teratur?"
"Tiap hari, Dok. Pagi sama malam. Nayla yang nyiapin." Bu Sulastri meraih tangan putrinya. "Dia jaga saya kayak saya jaga dia waktu kecil."
Nayla tersenyum, tapi matanya pada Alga. "Dok, keluarga korban yang lain—kami masih kumpul tiap bulan. Yang ibunya meninggal, yang bapaknya. Kami nggak nuntut apa-apa lagi sekarang, semua udah selesai di pengadilan. Kami cuma... ngumpul. Biar nama mereka nggak hilang."
Alga mengangguk pelan. Ia teringat buku catatan kulit itu, kolom-kolom nama dengan status "DIJADWALKAN". Nama-nama yang dulu cuma angka di mata Pak Damar. Sekarang setiap nama itu punya keluarga yang berkumpul tiap bulan agar mereka tak jadi angka lagi. Itu, pikirnya, adalah bentuk keadilan yang tak ada di putusan pengadilan mana pun.
"Datang ke sini kapan saja, Bu," kata Alga. "Pintunya selalu terbuka. Sekarang beneran terbuka."
Bu Sulastri menggenggam tangan Alga sebelum turun dari brankar. Tangannya hangat, kuat—tangan orang yang seharusnya sudah mati setahun lalu. "Dok Alga," katanya pelan, agar hanya mereka berdua yang dengar. "Saya hidup ini buat lihat cucu saya. Nayla belum nikah, tapi nanti. Saya hidup ini... gara-gara Dokter sama Dok Renjana nggak diam waktu itu."
Alga tak tahu harus menjawab apa. Maka ia hanya membalas genggaman itu.
Setelah mereka pergi, Renjana mendekat dengan secangkir kopi—kali ini masih panas. Ia menyerahkannya pada Alga.
"Pagi yang tenang," kata Renjana.
"Iya," jawab Alga. Ia menyesap kopi, menatap papan pasien yang penuh diagnosis jujur, perawat yang bekerja tanpa takut, dan pintu kaca tempat seorang internsip baru berdiri belajar membaca EKG. "Tenang."
Dan untuk pertama kalinya sejak hari pertamanya, kata "tenang" tak terasa seperti jebakan, tak menyembunyikan stempel ungu di baliknya. Hanya kedamaian. Kedamaian yang mereka perjuangkan dengan darah, dan menangkan dengan kebenaran.
Di luar, matahari naik di atas kota. IGD terus berdenyut. Nyawa demi nyawa, dirawat dengan benar.