“Ayolah, Mas Anjas,” rengek manja Sonya sembari mengikuti langkah Anjas. Anjas tetap melangkah menuju ke meja kerjanya. Benar-benar tidak menghiraukan perempuan yang sudah berusaha mengejarnya secara mati-matian itu sejak satu tahun yang lalu. Sonya Paramitha Salim. Perempuan berusia dua puluh lima tahun yang merupakan anak dari rekan kerja Maharani. Sonya memang sudah menunjukkan ketertarikannya kepada Anjas semenjak mereka pertama kali bertemu. Namun Anjas sama sekali tidak memperdulikannya. Menurut Anjas, Sonya terlalu mencari perhatian. Selalu melakukan hal-hal aneh hanya untuk sekadar mendapat perhatiannya. Belum lagi sikapnya yang sedikit-sedikit lapor ke mamanya tentang sikapnya ke Sonya. Sungguh, itu benar-benar membuat Anjas geram.
“Aku sibuk Sonya. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaiin,” jawab Anjas menarik kursi kebesarannya yang berbahan dari kulit import itu. Lalu tangannya menggerakkan mouse. Layar komputernya pun menampilkan gambar-gambar desain rumah yang sedang ia kerjakan. “Huh!” Sonya mendengus kesal. Ia melipat kedua tangannya ke depan d**a, lalu menyandarkan pinggulnya yang ramping ke meja kerja Anjas. “Sibuk, sibuk, sibuk! Selalu sibuk yang Mas Anjas jadiin alasan buat ngehindar dari aku!” Anjas hanya mengedikkan kedua bahunya cuek. “Mas Anjas kan, udah janji sama aku mau makan siang sama aku,” rengek Sonya kembali dengan suara yang dibuat-buat seperi anak kecil.
Seketika Anjas menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi sibuk dengan mouse. Anjas mengerutkan kening, dan menatap Sonya dengan tatapan seakan tidak terima. “Janji? Aku nggak pernah janjiin apa-apa ke kamu ya, Nya. Jangan ngawur,” Anjas mengalihkan pandang kembali ke kerjaannya. Dengan satu hentakan kaki yang diselingi amarah Sonya menegapkan tubuh. Kedua tangannya turun lalu mengepal dengan erat, menunjukkan betapa kesalnya ia sekarang. “Hih! Mas Anjas ini lupa atau pura-pura lupa sih? Setiap aku ajakin pasti jawabnya besok, besok, besok. Ya besok itu berarti sekarang! Ayo,” tanpa aba-aba Sonya meraih lengan Anjas. “Pokoknya aku nggak mau tahu. Mas Anjas harus keluar makan siang sama aku. Sekarang!”
Sementara itu di lobi lantai bawah, Ana sedang bertanya kepada resepsionis dimana letak ruangan Anjas. “Apakah sudah membuat janji sebelumnya dengan Bapak Anjas, Mbak?” tanya Eka Gustina selaku resepsionis yang bertugas di siang itu dengan sangat ramah. “Em, belum,” Ana menggeleng pelan. “Tapi, saya dapat perintah langsung dari Ibu Maharani untuk mengantar ini buat Bapak Anjas,” jawab Ana sambil mengangkat tote bag yang ia bawa, menunjukkannya kepada Eka. “Oh, perintah langsung dari Ibu Maharani, ya?” ulang Eka memastikan. “Iya,” jawab Ana mengangguk sembari tersenyum. “Baik kalau begitu. Mari saya antar ke ruangannya Bapak Anjas.” Eka pun langsung mengulurkan satu tangannya ke samping dengan sedikit membungkukkan badan, gestur untuk mempersilakan Ana agar mengikutinya langkahnya menuju ke ruangan Anjas.
Selama menuju ke ruangan Anjas, Ana benar-benar dibuat terkagum-kagum dengan desain interior perusahaan ini. Bukan tipe bangunan yang mewah dengan lantai marmer atau lampu kristal yang menggantung di setiap sisi. Lantai semen ekspos yang halus memberikan kesan industrial, berpadu dengan dinding berwarna putih tulang yang dihiasi frame minimalis dan beberapa foto perjalanan yang tampak personal. Meja kerja karyawan yang tersusun rapi, bukan seperti kantor yang kaku, melainkan lebih seperti ruang kreatif. Ana dan Eka masuk ke dalam lift. Eka menekan angka lima. Lantai paling atas di perusahaan ini. Ting. Denting lift penanda mereka sudah sampai di lantai yang mereka tuju berbunyi. Eka melangkah keluar terlebih dulu dan Ana mengikutinya di belakang. Ruangan Anjas tidak begitu jauh dari lift, hanya beberapa langkah Ana dan Eka sudah sampai di depan ruangannya. “Ini ruangannya Bapak Anjas, Mbak,” ucap Eka masih dengan ramahnya. “Oh, iya. Terima kasih, Mbak sudah mengantar,” jawab Ana tidak kalah ramahnya. “Iya, sama-sama. Saya permisi dulu kalau begitu.” Dan Eka pun berlalu dari hadapan Ana. Ana menghela napasnya pelan sebelum pada akhirnya mengetuk pintu ruangan Anjas. Ia terdiam sejenak. Ada rasa ragu yang sedikit terselip dalam benaknya. Di dalam ruangannya Anjas merasa sedikit bingung karena ia merasa tidak memilik janji dengan siapa pun. Asisten pribadinya, Romi, hari ini izin tidak hadir ke kantor dan memastikan bahwa tidak ada jadwal untuk Anjas bertemu dengan klien. “Masuk,” jawab Anjas sambil menarik lengannya sedikit kasar dari cengkeraman tangan Sonya.
Pintu pun terbuka dan membuat Sonya serta Anjas tercengang. Sosok perempuan yang mengenakan gaun sederhana. Ana yang saat itu mengenakan dress berwarna lembut yang jatuh mengikuti bentuk tubuhnya tanpa berlebihan. Tidak ada detail yang mencolok, tidak ada kilau glamor dengan merek ternama. Rambut panjangnya ditata dengan kucir setengah, membiarkan sebagiannya terurai jatuh di bahunya. Wajahnya nyaris tanpa riasan tebal. Hanya sentuhan tipis yang membuat kulitnya nampak segar, bibirnya berwarna natural, dan matanya terlihat lebih segar. Sonya menilik penampilan Ana dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sorot mata yang menyiratkan, siapa nih cewek? “Siapa tuh, Mas?” tanya Sonya ketus.
Anjas tidak langsung menjawab. Namun pria dewasa itu perlahan bangkit dari duduknya sembari menatap Ana lekat-lekat. Merasa ditatap dengan tatapan yang tidak berkedip membuat Ana sedikit gugup. Tangannya mencengkeram tali tote bag sedikit lebih kencang. “Dia..” jawab Anjas tetapi dengan memberi jeda sejenak. Anjas rasa ini waktu yang tepat untuk mengusir Sonya secara halus. “Dia pacarku,” jawab Anjas selanjutnya. “Hah?” Sonya terkejut bukan main. “Pacar? Nggak,” Sonya menggeleng tidak percaya. “Nggak mungkin. Mas Anjas jangan bohong, ya,” lanjut Sonya menatap Anjas dengan nyalang.
Anjas membalas tatapan Sonya tidak kalah nyalangnya. “Ngapain aku bohong. Nggak ada untungnya buat aku bohong sama kamu.” Anjas kemudian melangkah mendekat ke Ana. Ana dan Anjas saling bertatap. Lalu saat Anjas sudah hampir dekat satu tangannya terulur merangkul bahu Ana sambil berkata pelan. “Bantu saya.” Ana gugup bukan main, ia hanya bisa mengangguk mengiyakan. Lengan kekar dan kokoh Anjas terasa begitu hangat di bahu Ana yang mungil. Anjas kemudian mengajak Ana ke hadapan Sonya. “Kalau kamu penasaran kenapa aku nolak terus ajakan makan siang kamu,” ucap Anjas tepat setelah berdiri di hadapan Sonya dengan tangan yang merangkul Ana dengan erat. “Karena aku udah punya pacar. Nih, pacar aku.” Anjas melempar senyum dengan sorot mata yang penuh bangga. “Kenalin nama kamu, sayang ke teman aku,” ucap Anjas kepada Ana sambil meremas bahu Ana sedikit kencang.
Ana sedikit tersentak. Ia gugup bukan main. “O-Oh,” Ana menghela napasnya dalam-dalam. “Iy-Iya. Em, a-aku, aku, A-Ana,” jawab Ana sedikit terbata. “Cantikkan namanya, secantik orangnya,” ujar Anjas yang tak tanggung-tanggung mendaratkan kecupan ringan di pelipis Ana. Sonya pun dibuat ternganga karenanya. Dengan kesal Sonya menghentakkan kedua kakinya beberapa kali sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Anjas dan Ana dengan menahan gejolak amarah di hatinya. Pintu ruangan Anjas pun ditutup dengan kasar membuat Anjas dan Ana refleks memejamkan mata mereka erat-erat karena dentuman itu. Hening sejenak. Merasa sudah aman Anjas lalu melepaskan rengkuhan tangannya dari bahu Ana. “Terima kasih bantuannya. Sekarang kamu jelasin kamu ini siapa dan apa tujuan kamu ke sini,” ucap Anjas tanpa banyak basa-basi. “Kamu.. karyawan Mama saya, kan?”
Bersambung..