Bab 1
Bumi tak lagi seindah dulu, terik matahari yang menyengat hingga tumbuhan sulit untuk tumbuh, air yang menjadi sumber kehidupan menjadi barang yang sangat langka untuk ditemukan. Para peneliti terus mencari tempat yang memungkinkan untuk ditinggali di bumi yang sudah sekarat ini, para ilmuwan yakin pasti ada tempat yang dapat menjadi tumpuan guna keberlangsungan hidup manusia.
Setelah lamanya ilmuwan melakukan penelitian dan ekspedisi yang sangat berbahaya akhirnya ditemukan suatu tempat yang terdapat sumber mata air di sana. Tempat tersebut terletak diantara pegunungan yang tandus, terlihat tandus dari luar, namun terdapat sumber mata air di dalamnya.
Dari situ ilmuwan mengajak manusia yang ada untuk berpindah ke tempat itu serta membuat suatu sistem pemerintahan kota yang bernama Kota Harapan.
Tidak hanya disatu tempat, para ilmuwan juga mencari tempat lain yang dirasa layak untuk dihuni.
Akhirnya beberapa manusia yang masih hidup bertahan dengan membuat suatu koloni dan sistem pemerintahan sederhana untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya.
Terdapat beberapa koloni manusia yang bertempat dibeberapa lokasi yang menurut ilmuwan masih layak untuk ditinggali.
Di Kota Harapan
Di Kota Harapan, masyarakat yang ada di sana hidup berdampingan dengan baik. Seiring berjalannya waktu masyarakat mulai beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan mulai membuat teknologi canggih untuk membantu aktifitas keseharinnya. Namun, ada segelintir kelompok yang ingin mencoba untuk menguasai sumber daya yang ada dengan memberontak kepemerintahan yang ada.
Davis adalah pemimpin dikelompok tersebut berkata kepada anak buahnya, “segera lakukan penyerangan!”
Anak buah Davis langsung bergerak untuk melakukan penyerangan, Clavin salah satu anak buah Davis dan juga sebagai penasihat Davis, kurang sepakat melakukan penyerangan tersebut.
Clavin beralasan, “kenapa harus terjadi penyerangan dan merebut sumber daya yang ada, padahal kita manusia sudah hidup berdampingan dengan damai dan memanfaatkan sumber daya yang ada dengan baik tanpa harus membayar dengan uang?”
Perlu diketahui bahwa pada saat ini sistem pemerintahan telah berubah, sistem yang dipakai adalah sistem barter dan mata uang sudah lagi tidak berlaku, semua masyarakat bisa mendapat pelayanan kesehatan dan pendidikan dengan gratis.
Sistem tersebut sengaja dibuat untuk menghilangkan kasta sosial di masyarakat dan dengan itu masyarakat akan bisa hidup dengan damai di bumi yang sudah tidak sebagus dulu.
Davis sangat berambisi dengan kemauan untuk menguasai sumber daya dan menjadi pimpinan di kota tersebut.
Davis berkata kepada Clavin, “Manusia tidak bisa hidup dengan begini-begini saja, manusia harus hidup seperti dulu, harus ada transaksi dan alat transaksi tesebut harus menggunakan uang,”.
Davis ingin menjadi penguasa dan mengendalikan manusia dengan memberlakukan sistem pembayaran dengan uang seperti dulu.
Clavin sangat tidak setuju setuju dengan hal tersebut namun Clavin tak cukup punya keberanian untuk melawannya. Anak buah Davis yang lain juga tidak berani menentang dan selalu mengikuti apa perintah Davis.
Penyerangan terjadi langsung di pusat pemerintahan, dengan melawan petugas penjaga disana, pasukan Davis terus memukul mundur pasukan penjaga.
Han seorang pemimpin disana langsung menyerahkan diri dan menyatakan untuk menyerah seketika agar secepatnya bentrokan tersebut segera redam.
Han tidak mau ada korban jiwa lagi akibat penyerangan ini, beberapa warga sipil dan pejaga gugur dalam pemberontakan yang dilakukan Davis.
“STOP!”, teriak Han disebuah alat komunikasi yang terhubung oleh petugas keamanan.
“Tarik pasukan mundur komandan!, kita kalah,” kata Han kepada pimpinan pasukan.
“Loh kenapa tuan?, kita tidak bisa biarkan ini terjadi,”.
“Ini perintah!” seketika itu pasukan mundur dan Han menyatakan menyerah.
Davis dengan bahagia merasa telah berhasil bisa merebut kursi kekuasaan dan menjadi penguasa di kota itu.
Davis langsung menuju ruangan Han bersama pasukannya. Para pasukan Han seketika menjadi tawanan dari pasukan Davis.
Para pasukan Han digiring untuk memasuki sebuah ruangan lain dan tinggallah Davis dan Han yang berada diruang pimpinan.
“Apa yang kamu mau?” tanya Han ke Davis,
“Tidak ada, hahaha,” jawab Davis sambil tertawa lepas.
“Banyak nyawa melayang Davis, banyak orang yang tidak bersalah menjadi korban! Kenapa kamu lakukan itu!” tanya Han sambil menahan amarahnya.
“Aku ingin melihat manusia seperti dulu, dikendalikan oleh uang dan apabila ada orang yang bisa mengendalikan uang maka dia akan mengendalikan manusia. Manusia akan melakukan apapun demi uang bahkan berkorban nyawa sekalipun,” jawab Davis sambil melihat-lihat ruangan tersebut.
Tidak lama terdengar suara tembakan dari luar “ddrett rettt retttt,” suara senapan mesin yang tak henti-hentinya menembak.
“Apa itu! dimana pasukanku! Kamu apakah meraka, hah?” teriak Han sambil menunjuk muka Davis.
“Tenang… Anda tak usah khuwatir, pasukan anda sudah damai disana, meraka tak repot-repot lagi mengikuti perintah anda…” jawab santai Davis ke Han.
Han pun merasa kesal dan mengerti apa yang dimaksud Davis kalo pasukannya telah dibantai habis. Han pun mengambil sebilah pisau yang ada dibalik baju dan mencoba menusuk Davis.
“Dasar biadab!” teriak Han sambil mengarahkan pisaunya ke Davis.
Davis pun dengan mudahnya mengelak dan tidak berselang lama pasukannya dari belakang menembak kaki Han.
Han pun seketika itu jatuh kesakitan dan merasa bersalah karena tidak bisa menciptakan perdamaian di kota yang dipimpinnya.
Han lalu dibuang jauh dari keramaian kota dan dibiarkan hidup begitu saja, karena Davis tau Han sudah tidak punya apa-apa lagi jadi Han bukan ancaman yang serius lagi bagi Davis.
Setelah itu Davis bersiap mengemumkan bahwa dia adalah pimpinan yang baru.
Masyarakat terlihat murung karena mendapat pemimpin seperti Davis. Setelah beberapa hari diumumkan sekelompok masyarakat melakukan aksi demo menolak atas kepemimpinan Davis.
Namun orang-orang yang demo ditangkap, diimtimidasi, disiksa bahkan ada yang sengaja dibunuh karena melakukan provokator dari aksi demo tersebut yang menolak kepemimipinan Davis.
Semua orang yang dulunya bersemangat untuk mencoba menolak kepemimpinan Davis diperlakukan dengan dengan tidak baik. Sehingga semua orang secara tidak langsung dibungkam, tidak berani bersuara tentang kepemimpinan Davis.
Setelah Davis menjadi pemimpin, banyak hal yang berubah salah satunya mengenai alat tukar barang.
Kali ini Davis ingin memberlakukan uang menjadi alat tukar yang sah dan menolak adanya barter. Uang tersebut akan dikendalikan oleh pemerintah mulai dari pembuatan hingga pengerdarannya.
Uang kali berlaku kembali setelah hampir 30 tahun tidak digunakan. Dengan membuat mata uang sendiri Davis otomatis menjadi penguasa penuh terhadap masyarakatnya.
Kondisi Han
Han yang telah dibuang tadi mencoba membaur dengan orang-orang yang ada. Orang-orang lain tau jika Han dulunya adalah seorang pemimpin di sana namun kepemimpanannya dikudeta oleh Davis.
Han ditolong oleh orang yang kebetulan lewat disitu, mengetahui Han terluka parah orang tersebut membawanya ke rumah.
“Presiden? apa yang terjadi…” tanya orang tersebut dengan penuh penasaran.
“Aku sudah bukan lagi pemimpin di kota ini, jangan panggil aku presiden…” jawab Han sambil merasakan sakitnya.
“Yang pantas dipanggil presiden adalah Davis sekarang, aku hanya seorang pemimpin yang buruk,” lanjut Han sambil meratapi nasibnya.
“Tidak… bukan begitu pak, anda masih seorang presiden,” jawab orang tersebut sambil mencoba menyakinkan hati Han agar tidak merasa bersalah.
“Anda tidak pantas disalahkan, semua itu akibat Davis,” lanjut orang itu untuk menenangkan Han.
Han merasa kecewa terhadap diriya, gagal menjadi seorang pemimpin. Semua petugas pengamanannya telah dihabisi oleh Davis.
Han tinggal bersama orang tersebut untuk beberapa hari saja. Sesudahnya luka Han sembuh dan sudah berangsur-angsur membaik, Han pun pergi dari situ.
“Terimakasih… kamu sudah menolongku, saatnya aku pergi,” sambil merapikan baju-bajunya.
“Anda mau pergi kemana?” tanya orang itu berharap Han tidak pergi dari rumahnya.
“Entah…” jawab Han lirih sambil mengemasi barangnya dalam sebuah tas.
“Baiklah kalo begitu pak, hati-hati diperjalanan,” saut orang tersebut sambil mengantarkan Han ke depan rumahnya.
Han masih merasa bersalah atas kejadian yang memakan banyak korban terutama pasukannya yang selama ini melayani dia dengan setia.
Han ingin berkelana keluar dari kota tersebut hanya untuk menenangkan hatinya, karena Han sekarang bukan siapa-siapa lagi.