Bab 3
Esok harinya satu keluarga ini bangun dan bersiap untuk berangkat kerja, tidak lupa sebelum berangkat meraka sarapan bersama dengan menu sehari-harinya yaitu makanan kaleng.
“Hmmm, makanan kaleng lagi ya…” kata Clavin sambil mengkerutkan dahinya.
“Udah… Makan aja yang ada, hari ini kita harus bekerja Clavin jangan sampai kita kelaparan nanti,” jawab Davis yang mencoba menenangkan calvin.
“Oke baiklah… “ jawab Clavin yang masih terlihat cemberut.
“Ayah sama ibu nanti mungkin akan pulang agak telat, karena ada pekerjaan tambahan yang harus dikerjakan,” kata ayah sambil menyantap makanannya.
“Oke!” jawab Clavin sambil menguyah makanan dimulutnya.
Sesudahnya sarapan meraka pun bergegas ke tempat kerja masing-masing.
Meraka berangkat sendiri-sendiri ke tempat kerja ayah bersama ibu dan Davis bersama Clavin.
Sesampainya di tempat kerja Davis dan Clavin pergi ke pos masing-masing untuk melakukan pekerjaan.
Davis melayani penunjung yang dan menawarkan menu yang ada, sedangkang Clavin membersihkan lantai yang kotor di dapur.
Seperti biasa Davis dan Clavin selalu istirahat makan siang bersama, makan siang ditanggung sepenuhnya oleh pihak rumah makan.
“Lagi-lagi makanan kaleng,” gusar Clavin terhadap makanan yang diberikan.
“Sudahlah Clavin… makanlah makananmu sebelum nanti kembali bekerja,” jawab Davis yang agak kesal dengan Clavin.
“Kapan kita bisa makan enak? Dan setiap hari bukan makanan kaleng yang kita makan tapi makanan yang benar-benar makanan,” tanya Clavin kepada sang kakak Davis yang tengah sibuk makan.
Davis terdiam dan tidak mau menjawab pertanyaan adiknya, Davis Hanya berkata dalam hatinya.
“Mungkin suatu saat nanti kita bisa mengubah nasib kita ke kehidupan yang lebih baik,”.
Makanan kaleng menjadi makanan terlaris di kota tersebut karena terbuat dari sisa potongan daging dan sayuran yang dimasak bersama dan disajikan dalam bentuk makanan kaleng yang dapat awet berhari-hari.
Harga makanan kaleng juga terbilang sangatlah murah karena terbuat dari bahan-bahan yang kurang berkualitas namun masih layak dimakan. Maka sebabnya orang-orang miskin di sana lebih memilih makan makanan kaleng karena lebih murah harganya dan lebi awet untuk disimpan.
Para pengusaha yang ada juga memberikan makanan kaleng ke karyawannya sebagai extra makan siang, karena mempertimbangkan harga yang murah dan pengusaha tidak perlu mengeluarkan budget extra hanya untuk makan siang karyawannya.
Setelah jam makan siang selesai segara saatnya meraka kembali bekerja. Davis yang masih melayani pelanggan yang datang dan Clavin diberi tugas baru untuk membuang sampah-sampah yang sudah mulai penuh ke tempat pembuangan akhir.
“Clavin ambil beberapa plastik sampah di situ dan segera buang sampah itu keluar,” perintah senior Clavin sambil menunjuk plastik sampah mana saja yang harus dibuang.
“Oke pak, segera ku kerjakan,” jawab Clavin sambil membawa sebuah troli.
Terlihat Clavin membawa kantong 2 kantong plastik besar di trolinya, tempat pembuangan sampah tidak jauh dari tempat kerja Hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk sampai.
Setelahnya membuang sampah Clavin langsung kembali ke tempat kerja. Di tengah perjalanan Clavin bertemu dengan seorang anak seumurannya. Anak tersebut nampak berbeda dengannya. Anak itu terlihat rapi dan bersih berbeda dengan Clavin yang nampak kotor dan bau. Clavin lantas mengajaknya berkenalan.
“Hai aku Clavin… siapa namamu?” tanya Clavin sambil menjulurkan tangannya.
“Namaku Joson, apa yang sedang kamu lakukan?” tanya balik joson karena melihat Clavin membawa troli.
Dengan tatapan kosong joson pergi begitu saja meninggalkan Clavin karena melihat Clavin berpenampilan kotor dan kebetulan ibu dari joson memanggilnya dari kejauHan.
“Senang bertemu denganmu…” ucap Clavin sambil melambaikan tangannya dan tersenyum.
Si joson tidak menggubris Clavin dan tetap pergi tanpa sepatah katapun.
Sesampainya di tempat kerja Clavin menceritakan hal tersebut ke Davis.
“Aku tadi bertemu seorang anak yang mungkin seusia denganku, namun kenapa dia berpenampilan bersih dan rapi sedangkan kita tidak?” tanya Clavin yang penasaran dengan hal tersebut.
“Karena dia dengan kita berbeda Clavin, kita orang miskin sedangkan dia mungkin orang kaya jadi selalu berpakaian rapi karena meraka tidak perlu repot-repot untuk bekerja. Sudahlah Clavin jangan hiraukan hal itu kembalilah bekerja!” jawab Davis yang mencoba mengalihkan pembicaraan tersebut agar kembali bekerja.
“Hmmmm oke kalo begitu, aku akan kembali ke belakang,” jawab Clavin dengan segara masuk kebelakang karena harus segara mengembalikan troli tersebut.
Tidak terasa hari sudah sore dan waktunya Davis dan Clavin untuk pulang.
Di tengah-tengah perjalanan terlihat seorang yang berlari menuju kearah meraka.
“Davis Clavin!, orangtua kalian mengalami kecelakaan di kebun sekarang meraka ada rumah sakit,” kata orang tersebut yang terangah-engah.
Mendengar kabar tersebut Clavin sontak menangis dan berlari ke rumah sakit tempat orantua meraka berada. Davis yang seorang kakak mencoba menenangkan sang adik agar tidak menangis. Orangtua Davis dan Clavin terjatuh dari traktor dan terlindas oleh ban traktor begitu pula sang ibu yang berusaha meraih tangan ayah malah juga ikutan terjatuh.
Meraka berdua langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat, kondisi meraka saat itu sangatlah kritis karena kehilangan banyak darah.
“Davis… jagalah adikmu dengan baik, tetaplah bersamanya sampai kapanpaun…” Ucap sang ayah sambil terpatah-patah.
“Ayah… ayah… jangan ngomong seperti itu yah… Davis ingin selalu bersama ayah dan ibu…” ucap Davis sambil menangis sambil memegang tangan ayahnya.
“Clavin… kamu harus nurut apa yang dikatakan kakakmu jangan berkelahi, kalian harus akur. Apa yang dikatakan kakakmu pasti suatu hal baik untukmu…” ucap ayah sambil menarik nafas panjang dan akhirnya sang ayah wafat di depan Davis dan Clavin disusul oleh sang ibu yang tidak sadarkan diri dan akhirnya sang ibu juga pergi untuk meninggal Davis dan Clavin selamanya.
Rasa kesal, sedih, marah, penyesalah, bercampur menjadi satu. Dengan penuh amarah Davis menyalahkan rumah sakit yang dirasa telat dalam melakukan penanganan.
“Ini semua tidak akan terjadi bila di tangani lebih cepat!” kata Davis sambil teriak sambil menadangi orang-orang yang ada diruangan itu.
“Kenapa kalian tega! Hanya menonton! Diam saja!” lanjut Davis sambil menangis dan memeluk erat sang adik.
-----------------
Beberapa tahun telah berlalu, Davis dan Clavin mulai beranjak dewasa. Pada saat itulah pimpinan baru berganti dan saat itulah sistem pemerintahan berubah. Hal yang paling terasa adalah tidak memberlakukannya mata uang apapun untuk transaksi jual beli. Hal tersebut dilakukan karena melihat adanya perbedaan kasta sosial yang nampak semakin masif dikalangan masyarakat dan itu terkadang menimbulkan konflik horizontal.
Alasan Davis ingin mengkudeta Han
Dari situ Davis mulai berambisi untuk menjadi sorang pemimpin yang dapat mengendalikan manusia yang ada di sana. Dengan memberlakukan sistem jual beli dengan mata uang, Davis akan menjadi orang kaya dan mampu menguasai kota tersebut. Mengingat orangtua Davis yang telat diberi penangan karena kurangnya biaya saat itu. Davis ingin orang lain merasakan apa yang dia alami dulu. Berada pada kalangan bawah yang selalu dipandang sebelah mata.