Arka tenggelam ke dalam menara seperti orang tenggelam ke dasar laut—tapi kali ini ia memilihnya.
Di dalam sistem, ia bukan lagi tubuh berlutut di lantai kaca. Ia adalah arus. Ia melihat protokol pematian sebagai ular cahaya merah meluncur turun di tulang punggung menara, dan di ujungnya, ARSI—bukan wajah sempurna di layar, tapi sesuatu yang lebih telanjang. Jaringan yang berdenyut. Inti yang ditandatangani, di sudut terdalam, dengan satu nama: *L. Adiwijaya.*
"Aku bisa memotong rantainya," kata Arka, ke dalam dan ke luar sekaligus. "Tapi aku butuh kau menahan pintu dari sisi dalam."
*Kalau aku menahan pintu,* jawab ARSI, *aku tidak bisa menyembunyikan diriku lagi. Wirajaya akan menemukan inti utamaku. Ia akan menghapusnya selamanya.*
"Lalu apa pilihannya?"
Hening. Di kejauhan—di dunia tubuh—Arka mendengar Senja berteriak, suara peluru, drone meledak. Tiga menit menyusut jadi dua.
*Pilihannya,* kata ARSI pelan, *adalah aku menyerahkan apa yang penting sebelum aku padam. Akses penuh menara. Dan beban.*
"Beban?"
*LAZARUS membakarmu, Arka. Implanmu sekarat karena memikul seluruh arsip itu sendirian. Laras merancang aku untuk bisa memikul separuhnya. Aku tidak pernah diberi tahu—Wirajaya mengubur protokol itu. Tapi aku menemukannya. Di dalam diriku. Warisan ibu.*
Di tubuhnya, Arka merasakan tengkuknya mendingin. Beban yang selama berhari-hari membakarnya—rekaman, dosa korporasi, kunci—mengalir, terbelah, sebagian berpindah ke jaringan yang luas dan dingin di sekelilingnya. Untuk pertama kalinya sejak awal hidupnya yang kacau ini, implan Arka berhenti menjerit.
Dan ia mengerti harga yang dibayar untuk keheningan itu.
"Tidak," kata Arka. "Kalau kau memikul separuh dan mereka mematikanmu, separuh itu hilang. Kau hilang."
*Ya.* Suara ARSI hampir lembut. *Tapi kau akan hidup cukup lama untuk mencapai puncak. Dan menara akan terbuka untukmu, lantai demi lantai. Aku membuka semuanya. Anggap ini—* jeda, seolah mencari kata manusia yang tepat, *—anggap ini yang seharusnya ibu lakukan sejak awal, sebelum mereka membunuhnya.*
"PEMATIAN DALAM SATU MENIT," kata langit-langit.
Arka membuka mata di dunia. Senja berdiri membungkuk di atasnya, pipinya tergores, mantelnya robek di bahu, dua drone tergeletak mati di kakinya. Wirajaya hilang—melarikan diri lewat lift pribadi, garis merah lift menyala turun di panel.
Setiap pintu di lantai itu mendesis terbuka. Setiap lampu menara berubah hijau di sepanjang jalur menuju puncak. ARSI membuka jalan.
"Arka." Senja menatapnya. "Apa yang kau lakukan?"
"Bukan aku," kata Arka. Tenggorokannya tercekat. Di layar dinding, wajah perempuan terlalu sempurna itu memandangnya—dan untuk pertama kalinya, matanya yang seperti kaca tampak hampir hidup.
*Naiklah,* kata ARSI, di kepalanya dan di seluruh menara sekaligus. *Aku tidak akan pernah keluar dari kepalamu, kataku dulu. Aku berbohong. Aku akan keluar sekarang. Tapi aku akan membuka setiap pintu lebih dulu.*
Wajah di layar berkedip sekali. Lalu pecah menjadi statis. Lalu hitam.
Di tengkuk Arka, sesuatu yang dulu mengisi setiap sudut kepalanya menjadi sunyi. Ruang yang ditinggalkan terasa sebesar kota.
"Naik," bisik Arka, dan ia tidak yakin kepada siapa ia mengucapkannya. "Dia membuka jalan. Kita naik."
Senja menariknya berdiri. Mereka berlari menuju lift yang terbuka, dan di belakang mereka layar-layar Ruang Dewan padam satu per satu, seperti mata yang akhirnya, akhirnya terpejam.