Kebenaran yang tersiar adalah api. Api memberi cahaya, lalu padam. Arka tahu itu lebih baik dari siapa pun—ia telah melihat berapa cepat orang lupa, berapa cepat kemarahan jadi kelelahan, kelelahan jadi kebiasaan baru. Tiga minggu, dan sudah ada yang mulai berkata bahwa "barangkali tidak seburuk itu", bahwa "korporasi setidaknya membuat kereta tepat waktu". Memori kota pendek. Dan korporasi—atau apa pun yang akan menggantikannya—punya memori panjang dan kesabaran tak terbatas untuk menunggu kota lupa.
"Kebenaran harus dikunci," kata Arka di ruang bawah tanah yang mereka jadikan markas kerja. Di sekelilingnya tim yang tersisa: Senja di sudut membersihkan pistolnya yang kini lebih sering jadi pemberat kertas; Tanjir berjongkok di lantai mengutak-atik kabel; Renjana berdiri kaku, seragamnya tanpa lambang korporat untuk pertama kalinya; dan di meja, lewat layar berdengung, wajah Wijen—masih bersembunyi, masih paranoid, tapi kini ketakutannya bekerja untuk mereka, bukan melawan.
"Maksudmu disalin," kata Wijen lewat layar, suaranya gemetar seperti biasa. "Arsip LAZARUS sekarang ada di dua puluh juta perangkat. Tapi data bisa dihapus. Diragukan. Dikubur di bawah seribu kebohongan baru. Aku pernah bekerja di departemen yang tugasnya begitu—membuat orang ragu pada apa yang mereka lihat dengan mata sendiri."
"Jadi kita buat tak bisa diragukan," kata Renjana. Ia tidak terbiasa berada di sisi ini—membangun, bukan menangkap. Tapi ia belajar. "Hukum. Salinan resmi yang dimeteraikan, disebar ke tangan-tangan yang tak bisa dikuasai satu pihak. Pengadilan. Catatan publik. Bukan sekadar data yang mengambang—kebenaran yang terikat pada konsekuensi."
Tanjir mendongak dari kabelnya. "Dan tempat yang tak bisa dimatikan. Jaringan penyintas Distrik Bawah—kami menyimpan hal-hal di tempat yang tak ada di peta siapa pun. Hud mengajariku itu. Kalau satu titik padam, sepuluh titik lain menyala." Ia mengetuk pelipisnya. "Kita sebar arsipnya ke seluruh terowongan. Dijaga orang, bukan server. Orang tak bisa di-hack."
"Orang bisa disuap," kata Senja tanpa mendongak.
"Tidak semua dari mereka. Tidak sekaligus." Tanjir menatapnya. "Itulah gunanya banyak."
Arka mendengarkan mereka membangun rencana itu bata demi bata, dan ia merasakan sesuatu yang ganjil. Dulu, semua bergantung padanya—pada implannya, pada keajaiban di kepalanya. Sekarang ia hampir tak berguna secara teknis. Tanjir lebih cepat dengan kabel. Wijen tahu arsitektur sistem lebih dalam. Renjana paham hukum. Senja menjaga mereka semua. Dan justru karena itu rencana ini lebih kuat dari apa pun yang pernah ia buat sendiri. Kebenaran yang dijaga satu hantu jenius bisa mati bersama hantu itu. Kebenaran yang dijaga banyak tangan biasa akan bertahan.
"Aku akan mengoordinasi titik-titik jaringan," kata Arka—pekerjaan yang tak butuh implan, hanya butuh seseorang yang dipercaya di kedua dunia, atas dan bawah. "Tanjir, kau jadi penghubung dengan terowongan. Renjana, jalur hukumnya. Wijen, pengaman teknisnya. Senja—"
"Aku menjaga," kata Senja, akhirnya mendongak, setengah senyum. "Selalu itu pekerjaanku."
Mereka mulai. Dan sementara mereka menanam kebenaran ke akar kota seperti orang menanam pohon yang takkan mereka lihat berbuah, Arka menyadari ini bukan kemenangan yang ditandatangani satu hari. Ini kerja. Lambat, membosankan, tak heroik. Tapi jejak yang ditinggalkan begini—di tangan banyak orang, terikat hukum, tertanam di terowongan—adalah jejak yang tak bisa dihapus dengan satu perintah dari satu menara.