Tiga tahun Arka mendengar suara Mira di earpiece-nya dan tak pernah sekali pun melihat wajahnya. Suara yang memberinya pekerjaan, memperingatkannya bahaya, menjebaknya ke malam yang mengubah segalanya. Suara yang akhirnya membelot, menyelamatkan nyawanya dengan luka yang merenggutnya, lalu membongkar jaringan Bara dengan napas terakhirnya sebelum pergi. Ia tahu suara Mira lebih baik dari suara siapa pun. Ia tidak tahu apa pun tentang Mira.
Itu mengganggunya, belakangan. Di antara kerja membangun kota, di antara malam-malam tenang di atap, ada lubang berbentuk seseorang yang tak pernah ia kenal tapi yang utang nyawanya tak bisa ia bayar. Maka ia dan Senja mulai menelusuri—bukan dengan retasan, ia tak bisa lagi, melainkan dengan kaki dan pertanyaan, cara lama, cara manusia.
Nama aslinya Mirawati. Itu yang pertama mereka temukan, di sebuah catatan medis tua yang tersiar dalam arsip LAZARUS. Ia pernah punya keluarga di Distrik Bawah, blok yang dibiarkan tenggelam. Punya utang medis—seperti Arka—yang membengkak sampai menelannya, sampai Vaelora menjual utang itu ke tangan-tangan yang memerasnya, sampai Bara mengambil alih utang itu dan menjadikannya rantai. Mira tidak pernah memilih jadi pengkhianat. Ia dijebak ke dalamnya selangkah demi selangkah, seperti Arka dijebak ke malam itu, hanya saja jebakan Mira berlangsung bertahun-tahun dan tak pernah punya akhir bahagia.
"Dia broker karena tak punya pilihan," kata Senja pelan. Mereka berdiri di blok timur Distrik Bawah yang tenggelam ringan—air hanya setinggi mata kaki, bukan kuburan air seperti Distrik Tujuh, masih cukup kering di lantai atas untuk dihuni—di depan reruntuhan yang dulu rumah Mira. "Dia menjebakmu karena Bara memegang nyawanya. Dan dia mati menyelamatkanmu karena, saat punya satu pilihan terakhir, dia memilih benar."
Senja yang paling terdampak. Arka memperhatikan itu sejak Mira mati—Senja, yang datar dan profesional, yang dulu ingin membunuh Mira tanpa berkedip, kini berdiri di air kotor ini dengan rahang mengeras dan mata yang menolak basah. "Aku ingin membunuhnya," kata Senja, suaranya nyaris tak terdengar di atas tetes hujan. "Di awal, saat kita semua baru bertemu, aku ingin menarik pelatuk dan menghapusnya. Karena bagiku dia cuma suara yang mengkhianatimu. Aku tak melihat dia sebagai orang." Ia menelan. "Aku, dari semua orang. Aku yang dulu juga dipakai, dibentuk, dijual. Aku seharusnya yang paling mengerti."
"Kau mengerti sekarang," kata Arka.
"Terlambat untuk mengatakannya padanya."
Arka mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya—selembar kertas, kuno, ditulis tangan. Di kota yang segalanya digital, kertas adalah hal yang tak bisa di-hack, tak bisa dihapus, tak bisa diragukan. "Maka kita katakan sekarang," katanya. Ia meletakkan kertas itu di ambang reruntuhan rumah Mira, ditahan batu agar tak terbawa air.
Senja membacanya. Tulisan tangan Arka, kaku, tak terbiasa. *Mirawati. Tiga tahun aku tak tahu wajahmu. Kupikir kau cuma perantara. Ternyata kau juga terjebak, seperti kami semua. Kau membayar utang yang bukan utangmu, dengan nyawamu. Aku tak bisa membalas. Aku cuma bisa ingat. Dan aku ingat. — Arka. Dan Senja, yang memaafkanmu, dan dirinya sendiri.*
Senja membaca baris terakhir dua kali. Ia tidak bertanya kapan Arka menulisnya tentang dirinya. Ia hanya menunduk, dan untuk pertama kalinya sejak Arka mengenalnya, satu air mata jatuh dari mata pembunuh bayaran itu dan bercampur dengan hujan jingga di air yang menggenang.
"Selamat jalan, Mira," kata Senja.
Mereka berdiri di sana sampai hujan reda, lalu pergi, meninggalkan surat untuk seseorang yang takkan pernah membacanya, di kota yang akhirnya tahu namanya.