LAZARUS masih ada.
Itulah kenyataan yang membuat Arka tak bisa tidur selama berminggu-minggu. Arsip itu tidak lenyap saat kebenaran tersiar; ia hanya tercurah keluar, satu kali, ke dua puluh juta layar. Tapi intinya—saklar mati yang bisa mematikan seluruh kota, dan kunci kedua yang bisa menyiarkan ulang segalanya—masih ada, terpecah, tersimpan dalam fragmen yang dulu dititipkan ARSI padanya sebelum padam.
Kekuasaan untuk mematikan dua puluh juta nyawa, atau membangkitkannya, tinggal di ujung jarinya. Lagi.
Mereka berkumpul di ruang yang sama tempat semuanya dimulai sebagai rencana setahun lalu—gardu tua dengan logo yang dikerik. Wijen membawa peti baja kecil ke atas meja, lalu mundur seolah benda itu bisa menggigit.
"Aku sudah bangun pengamannya," kata Wijen. "Tapi selama LAZARUS utuh di satu tempat—di tanganmu, di tanganku, di tangan siapa pun—pengaman itu cuma menunda. Suatu hari seseorang akan datang mengambilnya. Korporasi baru. Akar Kering baru. Orang lapar yang putus asa." Ia menelan ludah. "Kita harus putuskan apa yang kita lakukan dengannya. Sekarang."
"Hancurkan," kata Tanjir langsung. "Bakar. Buang ke laut tempat kota lama tenggelam."
"Tidak bisa," sahut Wijen. "Arsip kejahatannya—itu satu-satunya bukti yang membuat sidang Tiga Besar mungkin. Hancurkan LAZARUS, hancurkan kebenaran yang menahan korporasi tetap bertanggung jawab. Mereka akan menulis ulang sejarah dalam setahun."
"Lalu simpan," kata Renjana. "Di bawah penjagaan hukum. Aku bisa amankan."
"Dan menjadikan negara baru pemilik tunggal saklar mati?" Arka menggeleng pelan. "Renjana, aku percaya padamu. Tapi aku tidak percaya pada siapa pun yang datang setelahmu. Kekuasaan sebesar itu di satu tangan—itu cuma masalah waktu sebelum tangan itu busuk. Vaelora dulu juga dimulai dengan niat baik. Laras membangunnya untuk memberi cahaya pada kota yang tenggelam." Ia menatap mereka satu per satu. "Lihat jadinya."
Hening. Di luar, kereta magnet melintas, garis cahaya yang membelah hujan.
"Bara," kata Arka akhirnya, "ingin menggenggam saklar itu untuk meruntuhkan kota. Wirajaya ingin mengubur kebenaran untuk melindungi kekuasaan. Keduanya salah karena alasan yang sama—mereka pikir kekuasaan sebesar itu boleh dimiliki satu pihak." Ia meletakkan tangannya di atas peti baja. "Maka jawabannya bukan siapa yang memegangnya. Jawabannya adalah tidak seorang pun boleh memegangnya."
"Apa maksudmu?" tanya Senja.
Arka membuka peti itu. Di dalamnya, sebuah inti data kecil, berkedip pelan—seluruh LAZARUS, terpadat dalam keping seukuran ibu jari.
"Kita pecah," kata Arka. "Tiga komponennya—arsip kejahatan, kunci penyiar, dan saklar mati—kita pisahkan. Arsip kejahatannya kita serahkan ke arsip publik terbuka, disalin ke ribuan tempat, dijaga warga, tak bisa dihapus satu pihak. Kunci penyiar kita kunci di balik protokol yang butuh banyak tangan—Renjana, Tanjir, Wijen, perwakilan warga—tak ada satu orang pun yang bisa menjalankannya sendiri." Ia menarik napas. "Dan saklar mati—"
"Kita matikan untuk selamanya," kata Wijen, mengerti. Matanya melebar. "Bukan kita hancurkan arsipnya. Kita cabut taringnya. Kita buat saklar mati itu mustahil dijalankan oleh siapa pun, kapan pun. Sebuah saklar tanpa tuas."
"Bisa kau lakukan?"
Wijen menatap inti data itu lama. Takut masih di sana. Tapi ada hal lain juga sekarang. "Laras menyembunyikan kunci kedua karena dia percaya manusia masih bisa memilih kebenaran tanpa kematian," katanya pelan. "Ya. Aku bisa. Dan aku mau."
Mereka bekerja semalaman. Bukan peretasan heroik dengan kota di ujung jari—hanya empat orang lelah di sekitar meja, memecah warisan paling berbahaya di Neo-Batavia menjadi kepingan yang tak bisa dirakit ulang oleh satu tangan rakus. Saat fajar palsu dari layar-layar kota mulai naik di jendela, Wijen menekan perintah terakhir, dan saklar mati LAZARUS—yang dulu bisa menelan dua puluh juta nyawa dalam sembilan menit—mati untuk selamanya.
Arka menutup peti kosong itu. Tangannya tidak lagi menyimpan kuasa untuk mematikan kota.
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar ringan.
"Kau melepasnya," kata Senja, menatapnya.
"Aku melepasnya," kata Arka. "Akhirnya ada yang melakukannya."