Flashback on
Kelas dua SMA , hari-hariku masih sama dengan tahun pertama disekolah ini. Sendiri. Hanya Rosa anak yang duduk dibangku depan yang sering merecoki. Hanya perpustakaan menjadi tempat yang ku tuju saat istirahat.
Sejak kelas satu aku tak pernah jajan dikantin. Emak selalu menyiapkan bekal untuk aku bawa kesekolah. Untuk menghemat pengeluaran katanya.
"Boleh duduk disini?" Izin seorang lelaki tampan berdiri dihadapanku, sambil menunjuk bangku kosong dihadapanku. Yang mampu mengalihkan perhatianku dari buku yang sedang k*****a.
Aku terhipnotis dengan senyum dan wajah rupawannya. Bukannya menjawab malah melongo mengagumi ciptaan Tuhan satu itu.
"Hello... Kok malah ngelamun?" Tegurnya lagi yang tak mendapat jawaban.
Aku tergagap, dan kembali mengembalikn kesadaran diri. Menundukkan pandangan kembali melihat buku yang ku pegang.
"Boleh nggk? Bangku yang lain udah penuh. Tapi, kalo sekiranya mengganggu juga nggak papa." Ucapnya lagi yang masih melihatku terdiam.
"Boleh kok. Silahkan. Toh ini tempat umum, aku tak punya hak untuk melarang." Jawabku Formal.
Dia Regan. Semua penghuni sekolah ini mengetahuinya, begitupun diriku. Tapi saat ini kami duduk dikelas yang berbeda. Aku kelas 8b sedangkan dia kelas 8a. Tak pernah bertegur sapa sebelumnya.
"Kok gitu jawabnya? Seakan-akan nggk ikhlas memberi izinnya." Balasnya sambil duduk dan mulai membuka buku yang dibawanya.
"Aku ikhlas kok." Jawabku sambil meliriknya sekilas. Takut nggk tahan kalo lihat lama-lama. Takut jatuh cinta.
"Kalo ikhlas senyum dong."
Aku malah tersipu mendengar ucapannya. Aku tahu itu hanya hal wajar bagi dia, tapi kata-kata itu tak wajar terdengar ditelingaku. Ada desiran halus menelusip dalam hati.
"Nah kalo senyum gitu kan cantik."
Aku jadi tambah salah tingkah, tapi tak berani merespon ucapannya. Hanya diam dan berusaha fokus kembali pada buku. Meskipun nyatanya tak lagi bisa fokus pada isinya.
Aku melirik Regan yang duduk tenang didepanku. Dia sudah fokus pada bukunya. Sama sekali tak menghiraukan aku yang tak tenang karna ucapannya tadi.
Mungkin bagi orang lain ,kata-kata Regan sangat sederhana. Tapi tidak bagiku yang jarang berinteraksi dengan orang lain. Tak pernah diperlakukan manis oleh lawan jenis, pun memang tak pernah dekat dengan lelaki mana pun. Tak pernah pacaran juga tak pernah punya teman laki-laki.
Dulu, waktu SD dan SMP aku punya banyak teman. Dulu aku termasuk orang yang ramah dan supel tapi semua perempuan, karena waktu SMP memang sekolah kusus perempuan. Namun, setelah SMA memilih sekolah yang lebih bergengsi. Sekolah nomor satu dikota ini. Semuanya berubah. Ternyata susah beradaptasi dalam lingkungan yang menomor satukan uang.
Waktu istirahat sudah selesai dari tadi. Namun aku masih betah duduk diperpustakaan. Setelah istirahat jam kosong, namun berikan tugas dan dipresentasikan minggu depan.
"Kamu nggk masuk kelas?" Tanyaku memecah keheningan, melihat lelaki didepanku masih duduk tenang didepanku.
"Kamu?" Balasnya balik nanya, tapi sama sekali tak melihatku.
"Jamkos. Tapi ada tugas." Jawabku menjelaskn.
Regan mengangkat wajah,melihat sekitar, lalu melihatku dengan tenang. Perpus sudah mulai sepi, hanya ada beberapa anak yang tinggal. Yang pasti juga jamkos.
"Apakah aku mengganggu? Kamu memintaku pindah?" Tanyanya menelisik tak suka.
"Nggk. Bukan begitu maksudku." Kataku gelagapan, mencoba menyangkal tuduhannya.
"Sungguh aku nggk bisa konsentrasi belajar kalo ada makhluk tampan didepanku." Jawabku hanya berani galam hati.
"Ya udah kalo gitu. Aku juga ada tugas." Jawabnya kembali melihat bukunya.
"okey. Lagian kapan lagi sih aku bisa duduk berdekatan dengan murid most wanted seperti dia? Biasanya lihat aja mungkin nggk boleh." Batinku sambil tersenyum memperhatikan lelaki dihadapanku.
"Ternyata emang dia ini tampan. Hapir sempurna." pujiku dalan hati.
Setahun lebih aku sekolah disini, belum pernah aku melihatnya dari jarak sedekat ini. Karena memang kita ditempatkan dikelas yang berbeda. Juga kami dari level yang berbeda, jadi tak bisa berbaur.
"Katanya ada tugas? Kenapa malah senyum-senyum gitu?" Tegurnya membuyarkan lamunanku.
"I-iya.." Jawabku gelagapan ketahuan memperhatikannya. " Ini dapat ide baru, makanya senyum." Alibiku dengan senyum canggung.
Dia hanya menjawab "oh" tanpa suara.
Hingga waktu pulang tiba tak ada lagi pembicaraan diantara kami. Hanya duduk berhadapan dan saling diam. Aku yang sesekali mencuri pandang padanya yang tetap asik dan fokus pada bacaannya.
☆☆☆
Hari demi hari berlalu. Hari-hariku masih sama seperti biasa, tak ada yang istimewa. Waktu istirahat aku isi untuk membaca diperpus , tapi tak lagi aku melihat Regan datang kesini. Entah kenapa aku selalu tersenyum sendiri jika mengingat lelaki itu.
"Dania, nanti istirahat ke ruangan bapak." Perintah guru MTK mengakhiri pelajarannya. Yang membuat tanda tanya besar dalam benakku.
"Kenapa pak?" Tanyaku penasaran. Sedangkan murid yang lain hanya diam menatapku. Bahkan lebih banyak yang cuek.
"Kalo ingin tahu ya datang aja." Jawabnya sambil tersenyum ramah.
"Baik pak."
"Ah, anak kesayangan guru killer dipanggil nih?" Nyinyir cewek paling cantik dikelas ini, yang pasti setelah pak guru pergi meninggalkan kelas. Siapa lagi yang bicara kalo bukan Tiara. Aku hanya diam tak menanggapi.
" Biarin sih. Nggk usah ngurusin orang kampung." Timpal sahabatnya.
"Bener tuh."
Aku hanya melirik sekilas. Malas menanggapi. Toh aku tak akan menang berdebat dengan mereka. Awalnya mereka baik dan ramah, tapi setelah aku tak mau memberikan contekan saat ulangan harian, sikap mereka berubah terhadapku. Dan aku tak mau ambil pusing tentang itu.
"Suruh ngapa ,Nia?" Tanya Rosa yang duduk didepanku.
"Aku bukan cenayang yang pandai menebak, Sa." kataku malas.
"Iya juga ya." Kembali menghadap kedepan. Hanya dia yang dikelas ini lumayan bersahabat denganku.
"Tapi nanti kalo udah tahu ,cerita ya?" Ucapnya lagi sambil sambil melihatku, tapi tanpa menunggu jawabanku langsung berbalik badan lagi. Lagian kepada siapa lagi aku akan cerita selain padanya?
Setelah menghadap guru yang memanggil, kini aku memilih menyendiri diujung koridor kelas yang cukup sepi, tepat dilantai ke tiga. Dari tempatku berdiri bisa ku lihat lapangan basket disebelah selatan sekolah. Aku lagi malas datang ke perpus.
Mataku lurus menghadap ke lapangan, tapi pikiranku melayang memikirkan tentang permintaan guru MTK tadi.
"Nia..." Terdengan suara teriakan Rosa. Meskipun orangnya belum nampak, tapi mendengar suaranya udah tahu siapa.
" Kamu ngapain disini? Aku tadi nyari kamu diperpus nggak ada. Ada apa? Apa tadi yang dibicarakan pak Teguh? Masalah uang buku lagi?" Cerocos Rosa tanpa jeda.
Yah memang aku dulu pernah dipanggil karena tak melunasi uang buku, yang membuatku tak bisa mendaptkan buku yang dibutuhkan demi kelangsungan belajar.
Aku hanya dibebaskan biaya sekolah, jika keperluan yang lain ya, beli sendiri. Tapi setelah dipanggil dan menjelaskan keadaan keluargaku, aku tak pernah lagi dipanggil, dan tetap mendapatkan fasilitas belajar seperti yang lain.
"Nggk ,Sa." Jawabku santai, padahal Rosa sudah nampak hawatir.
"Nggk apa? Jelasin dong." pitanya tak sabar.
" Kamu kenapa kepo banget sih?" Ucapku malas.
"Emang nggk boleh?"
"Boleh."
"Terus?"
"Nabrak."
"Nia.... Aku serius ini." Bentaknya dengan suara yang mulai meninggi.
"Nggk usah teriak- teriak." Keluhku mengusap telinga yang pengang karena teriakannya.
"Ya kamu sih. Katanya tadi janji mau cerita kalo udah dari ruangan pak Teguh." Cebiknya manyun.
"Aku nggk pernh janji."
"Nia."
"Iya."
"Apa?"
"Nggak apa-apa."
"Terus ngapain dipanggil kalo nggk ada apa-apa? Mau curhat? Atau......." Ucapnya menggantung dan melirik curiga.
"Atau apa?" Sarkasku.
"Makanya cerita biar aku nggk nebak-nebak yang aneh-aneh ni." Ucapnya manyun.
Aku membuang nafas kasar melihat tingkah teman satu ini. Teman cuma satu, tapi resenya nggk ketulungan. Baik sih, tapi suka sekali ganggu privasi orang.
"Coba tebak? " Kenapa malah main tebak-tebakaan sih? Aku penasaran apa yang ada diotak temanku satu itu.
" Pak teguh kan terkenal guru killer tuh.." Rosa mulai menganalisa.
"Terus?"
" Tapi dia nggk pernah galak sama kamu."
" Apa iya begitu?"
"Dia duda kan?" Lanjutnya tanpa menanggapi ucapanku.
"Semua orang tahu kali."
"Jangan-jangan kamu dan dia...." Menggantungkan kalimatnya dan menatapku curiga , tapi aku paham kemana arah ucapannya.
"Aku masih waras,Sa." kesalku dan menggeplak lengannya. bisa-bisanya dia berpikir sejauh itu. Meskipun pak Teguh itu duda muda dan ganteng sih, tapi aku tak segila itu.
Rosa malah tertawa ngakak melihat kekesalanku, sambil mengelus lengannya yang ku pukul.
flashback off