Sejak pukul enam pagi, kamar bernuansa krem itu sudah dipenuhi suara pintu lemari yang dibuka lalu ditutup lagi. Diana berdiri didepan cermin, memegangi dua helai gamis di kanan dan kiri tubuhnya, lantas menaruh keduanya ke atas ranjang tanpa memilih satu pun.
Shaga yang sudah rapi dengan baju koko abu-abunya hanya duduk di tepi ranjang, menunggu. Lelaki tampan itu tidak berani menyela. Dia hafal betul, mengganggu sang istri yang sedang berdandan sama saja dengan mengundang perkara.
"Sayang," panggil Shaga hati-hati begitu jarum jam dinding menunjuk angka delapan. "Kamu yakin mau tetap datang?"
Diana menoleh cepat. "Maksudnya gimana?"
"Bukan apa-apa. Semalam kamu tidurnya larut. Tadi pagi juga kamu bilang kepala kamu berat," terang Shaga. "Kalau memang capek, kita nggak usah datang. Biar aku yang bilang sama Mama."
"Ya datang, lah, Mas. Masa aku nggak datang di acara anaknya kak Ayana? Nanti aku yang di omongin satu keluarga," sahut Diana sambil kembali menghadap cermin.
"Beneran, ya? Nanti jangan ngambek di sana."
"Ish, apaan sih. Ya nggaklah!"
Shaga mengangkat kedua tangan, tanda menyerah. Dia sudah bertanya, dan jawabannya sudah dia dapat. Selebihnya, lelaki itu memilih diam.
***
Ramai sudah halaman rumah Mama manakala mobil Shaga masuk ke pekarangan. Tenda putih terpasang menutupi hampir seluruh halaman, kursi-kursi berjajar rapi, dan aroma gulai kambing menyeruak sampai ke pagar. Di ujung sana, dua orang lelaki sibuk menurunkan panci berukuran besar. Hari ini Aqila, putri kecil kak Ayana, di aqiqahi.
"Ya ampun, meriah banget," gumam Diana tanpa sadar.
"Namanya juga cucu pertama." Shaga menjawab sekenanya sembari mematikan mesin.
Kalimat itu masuk begitu saja ke telinga Diana, hanya saja menetap lebih lama dari seharusnya. Cucu pertama. Dua kata yang entah kenapa terasa bak sindiran, padahal Shaga sama sekali tidak berniat begitu.
Mama menyambut keduanya didepan pintu. Setelah mencium punggung tangan sang mertua, Diana langsung disuruh masuk ke dalam, sementara Shaga di tarik mas Arga guna membantu menata kursi tamu.
Acara dimulai tak lama setelah itu. Lantunan salawat mengudara dari pengeras suara, dijawab beramai-ramai oleh ibu-ibu yang duduk melingkar di ruang tengah. Aqila yang dibungkus baju putih mungil digendong bergilir, sementara Ayana duduk di kursi paling depan, tersenyum tak henti-henti.
Puncaknya datang saat Mama berdiri sambil memegang mikrofon.
"Mama cuma mau bilang," ucap perempuan sepuh itu, suaranya bergetar, "Mama bersyukur banget hari ini. Ini cucu pertama Mama. Almarhum Papa dulu pengen banget lihat cucunya lahir, tapi Allah punya rencana lain."
Ruangan seketika hening. Beberapa tamu ikut mengusap sudut mata.
"Jadi, apa pun yang Mama punya, Mama kasih buat Aqila. Ini ada sedikit dari Mama." Sebuah kotak beludru merah di serahkan pada Ayana. Isinya kalung emas mungil, gelang, sepasang anting kecil, lengkap dengan satu amplop tebal. "Mama juga udah ngomong sama Arga, nanti Mama bantu mereka pindah ke rumah yang lebih dekat sini. Kasihan Ayana, ngajar dari pagi sampai sore, anaknya cuma sama pengasuh."
Tepuk tangan pun mengudara. Ayana bangkit, memeluk sang ibu erat-erat. Ada yang bersorak, ada yang berdecak kagum, ada pula yang berbisik-bisik tentang betapa beruntungnya perempuan itu.
Di sudut ruangan, Diana ikut menepukkan tangan. Hanya saja, senyum di bibirnya tidak sampai ke matanya.
"Diana!" Salah seorang tante memanggil sambil bergeser, memberikan ruang untuknya duduk. Perempuan itu pun mendekat, mencium tangan sang tante, lantas duduk disamping beliau. "Kamu sama Shaga kapan nyusul, Nak?"
Sebuah pertanyaan yang sama, yang selalu datang di acara yang sama.
"Doain aja, Tante," jawab Diana, seadanya.
"Udah berapa tahun sih nikahnya?"
"Empat tahun."
"Astaghfirullah, udah lama itu." Tante yang lain ikut menimpali. "Coba periksa ke dokter, jangan malu-malu. Zaman sekarang banyak jalannya kok. Anak tante yang di Bandung juga dulu gitu, sekarang udah dua."
"Iya, Tante."
"Atau jangan-jangan Shaganya yang belum mau? Laki-laki zaman sekarang, 'kan ada aja yang suka nunda-nunda."
Diana menelan ludah. Dia sudah berobat. Dia sudah menjalani program yang dianjurkan dokter, lebih dari sekali. Akan tetapi, tidak satu pun dari perempuan-perempuan yang mengelilinginya saat ini tahu, dan Diana pun tidak berminat menceritakannya di tengah keramaian.
"Doain aja ya, Tante," ulangnya kemudian sembari bangkit. "Diana ke belakang dulu."
Kakinya membawa perempuan itu melewati meja panjang yang penuh tamu sedang menyantap hidangan. Tidak ada satu pun yang menawarinya makan. Bukan sengaja, mungkin. Tapi tetap saja rasanya seperti tidak di anggap, seolah Diana hanya numpang lewat di rumah yang seharusnya juga jadi rumah suaminya.
Di sudut dapur ada satu sofa tua, tempat Mama biasa duduk sambil mengupas bawang. Di situlah Diana menjatuhkan diri. Suara salawat masih terdengar sampai ke belakang, bercampur tawa tamu-tamu yang mengerumuni Ayana dan si buah hati.
Sebenarnya Diana sayang pada Aqila. Waktu bayi itu lahir, dia yang paling dulu datang ke rumah sakit, yang paling lama menggendong, yang paling ribut memilihkan baju-baju kecil. Dia bahkan pernah berkata pada Ayana kalau suatu hari nanti anaknya dan Aqila pasti akan main bareng. Kalimat itu dia ucapkan dengan yakin waktu itu. Hari ini kalimat yang sama justru terdengar seperti olok-olok yang dia buat sendiri untuk dirinya.
Ponsel dia keluarkan. Jempolnya menggulir galeri tanpa tujuan, sampai berhenti di satu foto lama. Foto pernikahannya sendiri. Gedung sederhana, tamu yang bisa dihitung, dekorasi seadanya. Waktu itu Diana tidak pernah mempermasalahkannya. Entah kenapa, hari ini foto yang sama terasa berbeda ditatapnya.
***
Setelah kursi terakhir selesai ditata, barulah Shaga bisa menarik napas panjang. Peluh sudah membasahi punggung baju kokonya. Lelaki berbadan padat itu bahkan belum sempat duduk sejak tadi.
"Sha, kamu belum makan, 'kan? Sana ambil dulu," suruh Mama begitu berpapasan dengannya.
"Iya, Ma."
Shaga pun menuju meja hidangan, meraih satu piring. Namun, tangannya berhenti di udara. Piring itu berakhir dia letakkan kembali. Sudah bertahun-tahun ini, bukan Shaga yang menata lauk di piringnya sendiri. Selalu Diana. Perempuan itu yang tahu lelaki ini tidak doyan potongan lemak, tidak mau kuah menyentuh nasinya, tidak suka makan sendirian.
Kepalanya lantas menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok bergamis biru yang sejak tadi ditinggalkannya di ruang tengah. Nihil. Ibu-ibu masih duduk melingkar, tapi tidak ada Diana di antara mereka.
"Kak," panggil Shaga pada Ayana yang sedang menimang Aqila. "Lihat Diana nggak?"
"Nggak. Tadi kayaknya di depan," sahut sang kakak tanpa mengalihkan pandang dari wajah putrinya.
Shaga menoleh ke arah tenda. Kursi-kursi di sana sudah penuh orang, tapi tak satu pun yang dicarinya. Lelaki itu pun melangkah, menyisir ruang demi ruang, mencari sang istri.