Telepon itu berdering pukul tiga lewat sebelas, dan Renata tahu—sebelum mengangkat—bahwa tidak ada kabar baik yang datang di jam seperti itu.
Dia masih setengah tidur ketika menempelkan ponsel ke telinga. Layarnya menunjukkan nama Pak Hendra, ajudan ayahnya, orang yang dalam dua puluh enam tahun hidupnya tidak pernah sekali pun menelepon langsung. Suara di seberang terdengar berusaha tenang, dan justru karena berusaha itulah Renata langsung duduk tegak di tempat tidur.
"Mbak Renata. Maaf menelepon selarut ini. Bapak... Bapak Gubernur..." Suara itu tersendat. "Bapak ditemukan tidak sadarkan diri di ruang kerja rumah dinas. Tim medis sudah di lokasi. Tapi... kami minta Mbak segera datang."
Renata tidak ingat bagaimana dia mengenakan jaket, mengambil kunci mobil, atau menuruni tangga apartemennya di Jakarta. Yang dia ingat hanya jalan tol yang kosong, lampu-lampu yang berlarian di kaca jendela, dan satu kalimat yang terus berputar di kepalanya: tim medis sudah di lokasi. Frasa itu seharusnya menenangkan. Tapi ada sesuatu dalam cara Pak Hendra mengucapkannya yang membuat Renata menginjak gas lebih dalam.
Ayahnya, Gubernur Wirasena Adiputra, adalah orang paling sehat yang Renata kenal. Lima puluh sembilan tahun, masih berenang dua puluh putaran setiap subuh, tidak merokok, dan menertawakan dokter yang menyuruhnya mengurangi kerja. Pria itu memimpin provinsi paling padat di negeri ini dengan tangan yang oleh kawan disebut tegas dan oleh lawan disebut keras kepala. Orang seperti itu tidak roboh begitu saja di ruang kerjanya sendiri.
Rumah dinas gubernur terang benderang ketika Renata tiba. Terlalu terang untuk pukul empat pagi. Mobil-mobil terparkir miring di halaman—ambulans, dua sedan hitam tanpa pelat khusus, dan satu mobil yang dia kenali sebagai milik Om Bram, penasihat senior ayahnya. Renata mengernyit. Kabar belum sampai ke publik, tapi Om Bram sudah di sini, rapi berpakaian, seolah tidak pernah tidur sama sekali.
Di teras, Pak Hendra menyambutnya dengan mata merah. Dia tidak perlu mengucapkan apa pun. Wajahnya sudah mengucapkan segalanya.
"Saya mau lihat Bapak," kata Renata, suaranya datar karena tubuhnya belum mengizinkan dirinya menangis.
Mereka membawanya ke ruang kerja. Ayahnya terbaring di atas tandu, ditutup kain putih sampai dada. Wajahnya tenang, terlalu tenang, seolah hanya sedang tidur siang sebentar di sela rapat. Di meja kerjanya, secangkir kopi masih separuh penuh. Berkas-berkas tersusun rapi. Pulpen tergeletak terbuka di atas dokumen yang baru ditandatangani setengah. Tidak ada tanda perkelahian. Tidak ada yang berantakan. Hanya seorang lelaki kuat yang tiba-tiba berhenti, di tengah kalimat, di tengah pekerjaan.
"Serangan jantung, kemungkinan besar," kata seorang dokter pelan. "Tapi tentu harus menunggu pemeriksaan lebih lanjut."
Renata mengangguk tanpa benar-benar mendengar. Matanya jatuh ke cangkir kopi itu. Ayahnya tidak pernah minum kopi malam hari—itu satu-satunya nasihat dokter yang dia patuhi, karena katanya kopi malam mengganggu renang subuhnya. Renata tahu kebiasaan itu seperti dia tahu napasnya sendiri. Tapi malam ini ada secangkir kopi, separuh diminum, di sebelah tangannya yang kini dingin.
"Renata." Suara berat itu datang dari pintu. Om Bram melangkah masuk, raut wajahnya penuh duka yang ditata sempurna. Dia memeluk Renata, dan pelukan itu terasa hangat dan menenangkan, persis seperti yang seharusnya. "Aku turut berduka. Ini... ini pukulan untuk kita semua. Untuk provinsi ini."
Renata membalas pelukan itu, dan untuk sesaat dia membiarkan dirinya menjadi anak kecil yang kehilangan ayah. Tapi di balik bahu Om Bram, matanya menangkap sesuatu. Seorang pria muda berjas, yang tidak dia kenal, sedang memasukkan beberapa berkas dari meja ayahnya ke dalam tas kerjanya. Cepat, rapi, tanpa ragu. Seolah sudah tahu persis berkas mana yang harus diambil.
"Siapa itu?" tanya Renata, melepas pelukan.
Om Bram menoleh sekilas. "Oh, itu Yudha. Staf sekretariat. Dia hanya mengamankan dokumen rahasia, prosedur biasa. Kamu jangan memikirkan hal-hal teknis dulu, Nak. Sekarang waktunya berduka."
Renata mengangguk pelan. Tapi sesuatu di dalam dadanya—sesuatu yang baru saja lahir di ruangan itu, di antara kopi yang salah dan berkas yang dipindahkan—tidak mau mengangguk. Sesuatu itu mulai mengamati.
Di luar, langit Jakarta mulai membiru. Renata berdiri di teras, menatap mobil-mobil yang terus berdatangan satu per satu. Wajah-wajah yang dia kenal dari foto bersama ayahnya, dari acara-acara resmi, dari layar televisi. Para pejabat, ketua partai, pengusaha. Mereka datang dengan wajah berduka. Tapi Renata, yang belajar membaca orang dari ayahnya sejak kecil, melihat sesuatu yang lain di balik mata mereka.
Mereka tidak datang untuk mengantar yang pergi.
Mereka datang untuk mengukur kursi yang baru saja kosong.