"Jika saja kalian membawa lebih cepat mungkin kondisinya masih bisa tertolong," ucap Dokter itu pada supir bajai kemudian.
Supir bajai itu merasa kasihan juga melihat keadaan Tara. Ia jadi tak tega untuk meninggalkannya sendirian. Andai saja ia datang lebih cepat, pikirnya.
Supir bajai lalu menghampiri Tara. "Nak, aku turut berduka," ucapnya.
Tara mengangkat kepalanya. "Terima kasih, Paman," jawab Tara menyeka air matanya. Ia kembali menatap wajah ibunya yang pucat.
"Aku akan membantumu untuk mengkremasi ibumu," ujar supir itu kembali hendak membantunya.
Tara mengangguk. Memang itulah yang ia butuhkan saat ini. Mengingat kejadian hari ini, pasti tidak akan ada yang bersedia menolong dirinya.
***
Upacara kremasi Ibu Parwati pun dilakukan. Tara mulai menyalakan api, api pun mulai menyala dan berkobar. Kedua mata Tara telah bengkak karena menangis seharian. Matanya sudah tidak sanggup lagi untuk mengeluarkan cairan bening yang disebut air mata.
Tara melihat setiap kobaran api yang membakar tubuh ibunya. Perlahan api di dalam dirinya pun ikut menyala. Ia mengingat orang yang bertanggung jawab atas kematian ibunya itu. Api kebencian, kekecewaan dan kemarahan telah menjadi satu dalam jiwanya. Dendam, itulah yang tersisa di dalam hatinya saat ini.
Shivraj Rathore, dia adalah laki-laki yang bersamanya dalam rekaman itu. Dialah orang yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Dialah orang yang telah menghancurkan masa depannya serta merenggut nyawa ibunya.
Setelah kremasi Ibu Parwati selesai, pendeta menyerahkan guci berisi abu ibunya itu kepada Tara.
"Ini! Sebarkanlah abunya di sungai Gangga agar arwah ibumu merasa damai," ucap pendeta itu.
Tara menerimanya dengan tatapan kosong. "Arwah ibuku hanya akan damai setelah aku membalaskan dendamku," gumam Tara dengan pandangan berapi-api.
"Nak, aku pamit dulu. Mulai saat ini jika kau butuh sesuatu atau kau dalam kesulitan, kau bisa menghubungi aku. Aku turut berduka cita atas kepergian ibumu," ucap supir bajai itu hendak pergi.
"Sekali lagi terima kasih, Paman. Aku tidak akan melupakan kebaikan, Paman," ucap Tara lunak. Ia kemudian membungkuk hendak menyentuh kaki lelaki paruh baya itu. Namun, ia lebih dahulu menghentikannya.
"Cukup, Nak. Aku berdoa agar Dewa akan selalu bersamamu. Jaga dirimu!"
Setelah berpamitan supir bajai itu pun pergi meninggalkan Tara. Tara lalu beralih menatap guci yang dipegangnya. Perlahan kakinya melangkah gontai.
Tara menyusuri jalan menuju kediaman Rathore. Di dalam hati ia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Shivraj Rathore. Laki-laki yang sudah memporakporandakan hidupnya.
Cuaca sepertinya tidak mendukung rencana Tara. Di tengah jalan hujan turun dengan sangat lebat, namun hal itu tidak menyurutkan tekadnya yang sudah bulat. Ia terus berjalan walau air hujan membasahi badannya. Pakaiannya yang serba putih telah basah kuyub diterpa air hujan.
Saat sampai di depan gerbang rumah keluarga Rathore, Tara menendang pintu pagar hingga pagar itu terbuka lebar. Beruntung saat itu tidak ada penjaga di sana sehingga Tara bisa masuk dengan leluasa.
Tara berdiri tepat di depan pintu, tanpa pikir panjang ia kembali mendobrak pintu dengan keras hingga seisi rumah terkejut mendengarnya. Mereka menghambur ke luar untuk memeriksa hal itu.
"SHIVRAJ RATHORE!" teriak Tara dengan keras. Lantai menjadi basah karena air dari tubuh Tara.
"SHIVRAJ KE LUAR KAU!" teriak Tara lagi dengan nada yang keras.
Nenek Anjum dan kedua cucunya pun ke luar. Mereka heran melihat Tara yang berdiri di tengah rumah.
"Siapa wanita itu?" tanya cucu perempuannya, Nisha. Nisha adalah adik perempuan Shiv.
Nenek tak menjawab. Ia bergegas turun menghampiri namun langkahnya terhenti saat melihat Shiv telah berada di depan Tara. Cucu laki-laki kedua Nenek Anjum, Yuvraj juga melihatnya dari lantai atas.
Shivraj berdiri di depan Tara dengan raut wajah santainya. Tara menatapnya dengan tajam. Ia mengingat setiap tindakan yang dilakukan Shiv dalam rekaman itu.
"Kenapa ka ...."
PLAAAAKKK
Sebelum Shiv meneruskan kata-katanya sebuah tamparan keras mendarat terlebih dahulu di pipi Shivraj. Shiv terperangah akan hal itu, begitu juga dengan yang lainnya. Namun, mereka masih belum berasumsi apapun.
"Beraninya kau ..."
PLAAAAKKK
Kembali Shiv mendapatkan tamparan di tempat yang sama. Kali ini ia semakin terperangah.
"Dua tamparan ini saja tidak cukup untuk semua yang telah kau lakukan," pungkas Tara dengan lirih. Nada suaranya terdengar lantang dan penuh kemarahan.
Shivraj terdiam mendengar semua itu, begitu juga dengan nenek, Nisha dan Yuvraj ia sampai turun ke bawah untuk mengetahui lebih lanjut. Mereka penasaran apa yang membuat gadis itu begitu marah hingga menampar kakaknya, Shiv.
"Apa kau sudah puas, hah?" hardik Tara dan melihat kebungkaman Shiv.
"Kau sudah puas telah berhasil menghancurkan pernikahanku, bukan?"
Shiv masih terdiam mendengar ucapan Tara.
"Apa kau sudah puas melihat aku menderita seperti ini hah?" teriak Tara di depan wajah Shiv. Shiv masih terhening mendengar kobaran kemarahan Tara.
"Kau lihat ini?"
Tara mengangkat sebuah guci berwarna kuning emas ke hadapan Shiv. Shiv menatap nanar.
"Ini adalah abu ibuku, karena dirimulah aku kehilangan ibuku untuk selamanya," pungkas Tara dengan murka.
Shiv terkesiap mendengar perkataan Tara. Bagaimana bisa permasalahannya menjadi serumit itu, pikirnya.
"Huh! Bagaimana kau akan mengerti arti seorang ibu, kau kan tidak punya ibu. Ke mana ibumu? Apa dia pergi menjual dirinya?" cetus Tara eengan lancang.
"TARA!" hardik Shiv sembari mengangkat tangannya hendak menampar Tara. Semua orang terkejut dengan tindakan Shiv.
Tara melihat tangan Shiv yang hendak memukulnya. "Kau ingin menamparku?" sergah Tara sehingga menghentikan niat Shiv.
"Kenapa tidak kau lakukan? Ayo, tampar aku!" pungkas Tara sambil meraih tangan Shiv dan melayangkan ke pipinya. Namun Shiv menyentakkan tangannya hingga terlepas dari cengkeraman Tara. Ia sangat marah saat Tara menghina ibunya. Ia memalingkan badannya seketika.
"Kau marah saat ibu dihina? Lalu apa yang kau pikir tentang aku? Kau pikir aku mendapatkan tepuk tangan dari semua orang saat mereka melihat kau dan aku sedang b******u itu?" pekik Tara sembari mendorong tubuh kekar Shiv.
"Kenapa kau menjebakku? Katakan! Kenapa? Seberapa besar kesalahanku padamu sehingga kau menghancurkan aku hingga berkeping-keping seperti ini?"
"Aku pikir itu hanya lelucon kecil, kenapa kau membesar-besarkannya seperti itu?" ungkap Shiv yang semakin membuat Tara berang.
"Lelucon kecil katamu?" pungkas Tara yang tidak terima dengan perkataan Shiv barusan.
"Leluconmu telah merenggut nyawa ibuku. Apa itu masih kau bilang kecil? Leluconmu membuat semua orang menghinaku, apa itu hanya lelucon kecil? Pernikahanku dibatalkan, apa itu masih kau anggap lelucon kecil bagimu?" pungkas Tara meluapkan kemarahannya. Ia membabi buta mengeluarkan rasa sakit hati yang ia pendam sejak di mana ia ditinggalkan calon suaminya.
"Nak, jangan bertindak dalam kemarahan. Mari kita bicarakan ini dengan kekeluargaan. Tidak ada masalah yang tidak akan selesai jika kita bermusyawarah," ucap nenek Anjum menengahi perdebatan sengit itu.
"Apa ibuku akan kembali jika kita bermusyawarah? Tidak, 'kan? Apa semua orang akan mengubah pandangannya terhadapku? Tidak, 'kan? Apa Surinder dan keluarganya mau menerimaku sebagai menantu mereka? Tidak, 'kan? Jadi, untuk apa kita bermusyawarah setelah semua itu terjadi?"
Nenek tidak dapat berkata apa-apa lagi setelah Tara membungkamnya dengan kata-kata. Sekarang ia yakin letak kesalahan pasti ada pada cucunya Shivraj.
Tara mengalihkan pandangan pada Shiv. "Ingatlah baik-baik, aku tidak akan pernah memaafkan kesalahanmu kali ini. Selama hidupku hanya akan ada kebencian terhadapmu. Ingatlah ini Shivraj Rathore! Aku bahkan mengutukmu sepanjang kehidupanmu. Kau hanya akan merasakan keburukan, tidak hanya kau tapi seluruh keluargamu. Di saat kau menderita, di saat itulah kau akan tahu bagaimana perasaan dan penderitaanku saat ini. Aku membencimu, sangat membencimu!"
Setelah meluahkan sumpah serapahnya Tara berbalik dan meninggalkan kediaman Rathore. Perasaan Shivraj menjadi terganggu setelah melihat dan mendengar emosi Tara terhadapnya.
Tara pergi meninggalkan kediaman Shiv dengan api dendam di hatinya. Bahkan ia berjanji tidak pernah melihat wajah lelaki itu lagi di kehidupan selanjutnya.