Ada apa dengan hidupku? Aku memiliki suami yang sangat kejam, berhati iblis; tetapi aku SANGAT MENCINTAINYA. Sungguh sangat mencintainya.
Meskipun hatiku merasakan sakit yang luar biasa, penyangga cinta ini masih tetap bertahan. Sampai detik ini bahkan mungkin sampai kapanpun.
Sekejam apapun dia, aku begitu mencintainya dan selalu diam tanpa membalas perbuatannya padaku.
Kebencian ini ada pada hatiku, namun itu kalah dengan cintaku. Tubuhku merasa lelah dengan semuanya, tapi hatiku berkata lain.
Oh ya Tuhan, kenapa aku bisa mencintai pria sepertinya? Mencintai pria yang tidak mengharapkanku ada, bahkan menatapku bagaikan aku ini sesuatu yang memuakkan .
Air mata yang selalu ku teteskan adalah air mata cinta. Cintaku yang terabaikan dan selalu tumbuh. Kapan ini semua berakhir?
_Caryn Alemannus_
******
Malam ini aku kembali duduk di tepi ranjang, menghitung bunyi jarum jam yang terus berjalan tanpa perduli kepada siapa yang sedang menunggu.
Mansion ini besar, megah, dan dingin. Semua lampunya menyala terang, tetapi tidak ada satupun yang sanggup menerangi hatiku. Orang-orang di luar sana pasti berpikir aku wanita paling beruntung di kota ini. Mereka melihat pagar tinggi, mobil-mobil mahal yang berjajar di halaman, gaun-gaun yang tidak pernah ku pakai dua kali, dan seorang suami dengan wajah yang membuat wanita manapun menahan nafas.
Mereka tidak pernah tahu, di dalam rumah semegah ini aku hanyalah seorang tamu yang tak pernah diundang.
Kamarku dan kamarnya ada di lantai yang sama, hanya saja berjauhan. Aku pernah menghitungnya sekali, iseng, di suatu malam yang tidak bisa membuatku memejamkan mata. Empat puluh tiga langkah. Sejauh itu jarak antara aku dan pria yang secara hukum adalah suamiku. Empat puluh tiga langkah yang tidak pernah berani ku tempuh sampai habis, karna aku tahu di ujung sana pintunya selalu terkunci untukku.
Setiap sore aku menunggu suara mesin mobilnya di halaman. Aku hafal bunyinya, aku hafal berapa lama jeda antara mesin yang dimatikan sampai pintu utama terbuka. Aku menyiapkan makan malam, ku pastikan semuanya hangat, ku susun dua piring di meja panjang yang sebenarnya cukup untuk dua belas orang. Lalu apa yang terjadi? Dia lewat begitu saja. Tidak menoleh, tidak bertanya, tidak menarik kursi. Hanya derap langkah yang cepat, lalu bunyi pintu kamarnya yang tertutup keras.
Dan aku? Aku duduk sendirian di ujung meja panjang itu, menatap piring kedua yang tetap bersih sampai pagi. Sudah puluhan kali begitu, tapi anehnya keesokan harinya aku tetap menyiapkannya lagi. Bodoh ya? Ibuku bilang aku bodoh. Mungkin dia benar. Tapi apa yang bisa dilakukan seorang wanita yang mencintai, selain terus menyalakan lilin di ruangan yang pemiliknya tak pernah mau masuk?
Sekalinya dia bicara padaku, kalimatnya pendek dan bernada dingin. Tiga kata, empat kata, itu sudah banyak. Jika dia menatapku, tatapan itu bukan tatapan seorang suami kepada isterinya. Melainkan tatapan seseorang yang menemukan sesuatu yang menjijikkan tergeletak di lantai rumahnya.
Sebelum tidur aku masih sering mengucapkan selamat malam. Bukan kepadanya, tapi kepada pintu yang tertutup. Konyol, aku tahu. Tapi setidaknya dengan begitu aku merasa masih ada pernikahan di rumah ini.
******
Di dinding kamarku tergantung sebuah foto berukuran besar. Foto pernikahan kami.
Fotonya hitam-putih. Tidak ada warna sama sekali. Bukan karna aku menyukai gaya lama, bukan pula karna fotografernya salah cetak. Itu maunya dia. Katanya untuk apa foto pernikahan kami berwarna, sedangkan pernikahan ini memang tidak punya warna apapun.
Kalimat itu diucapkannya sambil lalu, seperti orang menyebut cuaca. Tapi bagiku kalimat itu seperti pisau kecil yang ditinggalkan di dalam dada. Tidak membunuh, hanya membuatku merasakan perihnya setiap kali aku bernafas.
Meski begitu, foto itu tetap ku pajang. Aku memandanginya hampir setiap hari. Di dalam foto itu kami berdiri berdampingan, tangannya menyentuh pinggangku, dan tatapan kami bertemu. Siapapun yang melihatnya akan berkata kami saling mencintai. Romantis, kata mereka.
Aku tidak pernah mengoreksi mereka. Untuk apa? Biarlah dunia menyimpan versi yang indah, biar aku sendiri saja yang menyimpan versi yang sebenarnya.
Karna aku ada di sana, di detik foto itu diambil. Aku tahu apa yang ada di balik tatapannya. Bukan cinta. Bukan pula kebahagiaan. Hanya kebencian yang ditahan rapi supaya tidak tumpah di depan tamu-tamu undangan.
Waktu itu, ketika kami mengucapkan janji di depan altar, aku mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Setiap katanya sudah ku hafalkan sejak berhari-hari sebelumnya, dan setiap kata itu ku maksudkan. Dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Aku bersungguh-sungguh, sesungguh-sungguhnya seorang wanita yang akhirnya bisa berdiri di samping pria yang telah lama ia cintai.
Dia? Suaranya nyaris tak terdengar. Rahangnya mengeras. Tangannya dingin sekali ketika menyematkan cincin ini di jariku, sampai aku sempat berpikir apakah dia sedang sakit. Ternyata bukan sakit. Dia hanya sedang berusaha sekuat tenaga untuk tidak lari dari tempat itu.
Aku menatap cincin gold yang melingkar di jari manisku ini. Cincin yang tak pernah ku lepas, bahkan ketika aku mandi, bahkan ketika aku tidur. Sedangkan cincin yang satunya lagi? Aku tidak tahu ada di mana. Aku tidak pernah berani bertanya. Aku takut jawabannya justru membuatku semakin hancur.
Tapi anehnya, aku tidak bisa membencinya. Aku benar-benar tidak bisa.
Ibuku pernah menyebutnya dengan kata-kata kasar, dan aku langsung melarangnya. Bukan karna aku tidak tahu betapa kejamnya dia, tapi karna aku tahu satu hal yang tidak diketahui orang lain; dia tidak sepenuhnya bersalah. Dia terjebak, sama seperti aku terjebak. Kami berdua sama-sama masuk ke dalam pernikahan ini bukan karna kami mau, melainkan karna kami tidak sanggup menolak.
Bedanya cuma satu. Aku mencintainya sejak lama, jadi kurungan ini terasa seperti hadiah yang salah bungkus. Sedangkan bagi dia? Kurungan ini benar-benar kurungan.
******
Kalau kalian bertanya kenapa aku tidak pergi saja, kenapa aku tidak mengakhiri semuanya, jawabannya bukan karna aku tidak punya tempat pulang.
Aku punya. Ayahku bukan orang sembarangan. Namanya masih membuat sebagian orang menunduk kalau disebut. Kalau aku mau, malam ini juga aku bisa mengemasi barangku dan tidak ada seorangpun yang berani menghalangi.
Ibuku sudah berkali-kali memintaku. Kata-katanya selalu sama; sudahi, sayang, pulanglah. Ayahku tidak berkata banyak, tapi aku tahu apa yang ada di kepalanya, dan itu jauh lebih menakutkan daripada kata-kata Ibu.
Aku menolak keduanya.
Bukan karna aku suka disakiti. Demi Tuhan, tidak ada wanita yang suka disakiti. Tapi karna pernikahan ini bukan hanya milik aku dan dia. Ada orang ketiga di dalamnya. Bukan orang ketiga seperti yang kalian bayangkan, bukan wanita perusak rumah tangga, bukan pula lelaki simpanan.
Orang ketiga itu adalah seseorang yang harinya sedang dihitung mundur.
Seseorang yang sudah divonis. Seseorang yang tidak lagi meminta banyak dari dunia ini, dan satu-satunya yang ia minta adalah melihat aku dan pria itu berdiri bersama sebagai suami isteri. Permintaan yang diucapkan dengan suara pelan di atas ranjang rumah sakit, dengan tangan yang menggenggam tanganku, dan dengan senyum yang membuat siapapun kehilangan kemampuan untuk berkata tidak.
Bagaimana aku bisa menolak? Bagaimana dia bisa menolak?
Maka jadilah kami menikah. Bukan atas dasar cinta yang bersatu, melainkan atas dasar janji yang harus ditepati.
Dan janji, bagi keluargaku, bukan barang murah. Ayahku mengajariku sejak kecil; orang boleh kehilangan apa saja, kecuali kata-katanya sendiri.
Jadi di sinilah aku sekarang. Bertahan. Menahan. Berpura-pura di depan orang yang harinya sedang dihitung mundur itu, tersenyum lebar, bercerita seolah-olah rumah tanggaku hangat dan penuh tawa. Aku menceritakan hal-hal manis yang sebenarnya tidak pernah terjadi, hanya supaya matanya berbinar, hanya supaya ia punya alasan untuk bertahan satu hari lagi.
Kalau untuk itu aku harus menangis sepanjang malam, biarlah. Air mataku murah. Nafasnya yang mahal.
Kesepakatan kami ada batasnya. Sudah dua bulan berjalan, dan sisanya tinggal beberapa bulan lagi. Setelah itu semuanya berakhir. Aku sudah tahu itu sejak awal, aku sendiri yang menyetujuinya dengan sadar. Tapi entah kenapa, semakin dekat batas itu, semakin sesak dadaku.
Karna sesudah batas itu, aku bukan hanya kehilangan status. Aku akan kehilangan alasan untuk melihat wajahnya setiap pagi.
******
Di rumah ini ada banyak sekali pelayan. Aku tidak hafal satu persatu namanya, tapi mereka hafal betul jadwal tangisanku.
Mereka tidak pernah berkata apa-apa, tentu saja. Mereka hanya menunduk dan lewat. Tapi aku tahu mereka mendengar. Aku tahu ketika suamiku membentakku di lorong lantai dua, ada beberapa kepala yang menoleh cepat lalu kembali pura-pura sibuk mengelap sesuatu yang sebenarnya sudah bersih.
Itu bagian yang paling memalukan sebenarnya. Bukan dibentaknya, bukan diabaikannya. Melainkan dikasihaninya.
Dikasihani oleh orang-orang yang tidak berani mengasihaniku dengan terang-terangan, karna mereka juga takut kehilangan pekerjaan. Jadi mereka menaruh kasihan itu di tempat-tempat kecil; segelas susu hangat yang tiba-tiba muncul di nakas ketika aku belum memintanya, selimut yang tiba-tiba sudah dirapikan, pintu yang ditutup pelan-pelan supaya aku tidak terbangun.
Terkadang hal-hal kecil semacam itulah yang justru membuatku menangis paling lama. Karna ternyata orang asing yang digaji untuk membersihkan rumah ini lebih memperhatikan aku, daripada pria yang berjanji di depan altar untuk menjagaku.
Setiap pagi aku bangun lebih awal dari siapapun. Aku turun ke bawah, aku memeriksa dasi mana yang cocok untuknya, aku memastikan sarapannya sudah siap sebelum dia keluar dari kamar. Aku berdiri di dekat tangga dengan senyum yang sudah ku latih semalaman.
Dia lewat. Kadang dia menatapku sekilas, kadang tidak sama sekali.
Lalu pintu utama tertutup, mobilnya pergi, dan aku kembali sendirian di rumah sebesar ini sampai matahari turun lagi.
Begitu terus. Setiap hari. Selama dua bulan ini.
Ada yang bilang manusia bisa terbiasa dengan apa saja. Ternyata itu benar. Yang tidak mereka katakan adalah, terbiasa itu bukan berarti tidak sakit lagi. Terbiasa itu hanya berarti kita sudah tahu di sebelah mana rasa sakitnya akan datang, dan kita sudah menyiapkan tempat untuk menampungnya.
******
Aku menangis hampir setiap malam. Tapi tidak ada yang mendengar.
Aku sudah pandai. Aku menangis dalam gelap, tanpa suara, dengan bantal yang ku gigit supaya isakanku tidak lolos keluar. Aku belajar menangis seperti orang belajar berjalan; awalnya berantakan, lama-lama rapi.
Ibu bilang air mata yang ditahan itu berbahaya, bisa mengendap dan menjadi penyakit. Mungkin benar. Tapi menangis dengan bersuara jauh lebih berbahaya lagi, karna kalau ada yang mendengar, akan ada yang bertanya. Dan kalau ada yang bertanya, aku harus berbohong lagi. Aku lelah berbohong.
Karna itu aku menamai air mataku sendiri. Air mata cinta. Bukan air mata karna disakiti, bukan air mata karna diabaikan. Melainkan air mata dari cinta yang tumbuh terus menerus di tempat yang tidak pernah disiram sedikitpun.
Kalian tahu apa yang paling menyeramkan? Cinta ini tidak pernah surut. Setiap kali dia berkata kasar, cintaku bertambah setangkai lagi. Setiap kali dia menatapku dengan muak, akarnya justru turun semakin dalam. Aku sudah mencoba mencabutnya, sungguh, tapi cinta ini seperti rumput liar di halaman belakang; semakin dipotong semakin subur.
Dan ada satu hal lagi yang belum ku ceritakan kepada siapapun.
Ada seseorang dari masa laluku. Seseorang yang pernah berbuat jahat padaku, hal yang sampai sekarang masih membuatku terbangun tengah malam dengan nafas memburu. Aku sudah mengubur namanya dalam-dalam, aku sudah bersumpah untuk tidak pernah mengingatnya lagi.
Tapi beberapa hari terakhir ini ada perasaan aneh yang menempel di tengkukku. Perasaan seperti sedang diperhatikan dari kejauhan. Aku berharap aku hanya lelah. Aku berharap itu cuma karangan kepalaku sendiri yang terlalu banyak menyimpan luka.
Semoga saja begitu.
Namaku Caryn Alemannus. Umurku dua puluh lima tahun. Aku puteri satu-satunya dari seorang pria yang dulu ditakuti banyak orang, dan sekarang aku adalah isteri dari seorang pria yang tidak pernah menganggapku ada.
Aku tidak akan menceritakan sebuah kisah cinta yang indah kepada kalian. Tidak ada bunga, tidak ada kejutan di hari ulang tahun, tidak ada pelukan dari belakang di dapur pada pagi hari. Yang ada hanya seorang wanita yang mencintai sendirian, di dalam rumah yang besar dan sepi, sambil menunggu suara mesin mobil di halaman.
Kalau kalian bertanya kapan semua ini akan berakhir, jujur saja, aku sendiri tidak tahu.
Aku hanya tahu satu hal. Selama jantungku masih berdetak, aku akan tetap berdiri di sini.
Dan inilah awal ceritaku.
_Caryn Alemannus_
******