Pagi di Seruni bukan tentang matahari terbit atau kicauan burung. Di kota kecil ini, pagi berarti suara klakson bersahutan, asap knalpot yang nyelekit kayak mimpi yang dibakar hidup-hidup, dan wajah-wajah lelah yang jalan cepat kayak dikejar deadline. Tapi matanya kosong, seolah lupa hidup ini buat apa.
Seruni, kota wisata yang terletak di Pulau Krisan, adalah bagian dari wilayah negara Permadara. Dulu, Seruni adem, tenang, kayak novel yang dibaca sambil rebahan.
Sekarang?
Metropolitan versi downgrade. Lebih kecil, lebih sesak, lebih banyak alasan buat ngerasa pengap.
Dan juga pola pikir yang mulai jauh dari makna "Seruni" sebagai kehormatan, kejujuran, dan ketulusan.
Orang bilang, hidup di kota kecil itu lebih damai. Nyatanya, cuma lebih sepi. Dan kadang, sepi itu lebih berisik daripada kemacetan.
"Tapi apa pun itu, bagiku, Kota Seruni tetaplah keindahan yang sederhana dari dalam. Seperti yang selalu berboncengan dibelakangku..."
Motor melesat...
Damar duduk di atas motor Trail 125cc-nya, menggenggam stang seolah-olah itu sabuk pengaman hidupnya. Mulutnya sibuk mengikuti lirik lagu, pemanis hari yang, pada akhirnya, tetap biasa saja.
Di jok belakang, Angelic dengan jaket setengah terbuka dan rambut kayak bekas gulat sama mimpi buruk. Lagu Stay Free dari The Clash bocor dari HP tua yang nyambung ke speaker kecil di telinga Damar. Pagi itu mereka punya soundtrack. Sederhana. Bising. Tapi hidup.
"Mar, lo yakin helm kita aman?" Angelic cekikikan, ngelirik helm proyek setengah hidup hasil 'pinjem' dari pembangunan rumah sebelah.
Versi Damar, pinjem itu ngambil aja dulu, urusan izin mah belakangan.
"Tenang. Kita kan tampil kayak mahasiswa berprestasi yang lagi meneliti galian C. Pasti lolos," jawab Damar, enteng-seenteng beban hidup yang pura-pura nggak berat.
Motor mereka melaju zig-zag di antara angkot bau bahan bakar yang dioplos dan tukang sayur yang suaranya bisa ngalahin sirine ambulans.
Kota ini sempit, tapi mereka hafal celah-celahnya, kayak hafal kapan harus pura-pura kuat, kapan harus kabur dari kenyataan.
"Eh, itu di depan, seragam coklat bukan?" Angelic panik, matanya melebar kayak baru nemu tagihan utang panci nempel di pintu.
"Bukan. Itu ibu-ibu PKK," jawab Damar datar.
"Serius?"
"Enggak. Itu razia. Pegangin p****t gue."
Damar muter balik masuk gang kecil, ngelewatin tukang tambal ban yang lagi menambal nasib dan ayam-ayam liar yang hidupnya lebih bebas daripada mahasiswa salah jurusan. Ngakak. Tawa lepas yang bikin napas ngos-ngosan tapi hati enteng.
Mereka nggak lari dari polisi. Mereka lari dari dunia yang terlalu serius buat ditanggapi serius.
Universitas Seruni Raya berdiri tenang di tengah kota, dikelilingi pepohonan seruni yang sedang mekar di musim pancaroba. Gedung Fakultas Ilmu Komunikasi tampak bersahaja, dengan jendela-jendela besar dan lorong-lorong yang sering dipenuhi suara tawa mahasiswa. Kampus itu bukan tempat yang terlalu sibuk, tapi cukup hidup, tempat tokoh-tokoh muda datang dan pergi, mengejar cita-cita, atau sekadar menunggu waktu berjalan.
Kehidupan kampus berjalan seperti biasa.
Bagi Damar, kampus itu bukan pusat dunia, hanya satu persinggahan dalam hari-harinya yang lebih rumit.
Damar memutar kunci kontak, dan suara mesin motor pelan-pelan mereda. Bersama Angelic yang turun lebih dulu, mereka memarkirkan motornya di deretan parkiran belakang gedung komunikasi, tempat yang teduh, dibatasi pohon trembesi tua dan garis-garis cat putih yang mulai pudar. Bisa dibayangkan betapa horornya saat malam.
Suasana pagi itu masih lengang. Beberapa mahasiswa berjalan cepat sambil memeluk buku di tangan, suara sepatu mereka beradu dengan lantai semen yang basah sisa hujan semalam. Damar melepaskan helmnya, rambutnya sedikit berantakan. Angelic merapikan tas selempangnya, matanya menyapu halaman kampus yang perlahan mulai hidup.
.....
Kelas Komunikasi pagi itu rame. Tapi rasanya kayak ruangan isolasi. Dosen berdiri di depan, ngomongin soal public speaking dan personal branding dengan nada monoton-kayak nonton rapper di speed 0,5x.
Damar duduk di pojok, poninya nutupin setengah muka.
Laptop? Nggak ada. Cuma buku kecil penuh gambar iseng dan coretan-coretan random yang muncul saat dunia terlalu bising buat dengar isi kepala sendiri.
"Jadi publik figur itu soal jujur dan bisa dipercaya," kata dosen dengan wajah sekaku samsak tinju.
Damar nyoret di bukunya:
Jujur itu musuh branding. Orang jujur tidak akan laku di TV. Yang diperlukan adalah akting.
Langit Seruni mendung lagi. Mungkin karena nggak sengaja ikut mendengarkan.
Damar melirik sekeliling. Kelasnya sederhana: tembok putih polos, kursi lipat hitam, meja yang kalau digeser bunyi "kriet", papan tulis penuh coretan spidol, dan AC yang lebih sering galau daripada dingin. Suasananya? Mirip nonton pantomim, semua sibuk dengan tingkah masing-masing. Beberapa udah tumbang tidur, ada yang asyik scrolling HP, ada juga yang mencatat sambil goyang kaki, tapi banyak juga yang memperhatikan sambil ngangguk-ngangguk, mirip nonton konser matal.
Jadi mahasiswa dikelas memang bebas, nggak kaya SMA kalau tidak memperhatikan, siap -siap aja pakai foundation dari penghapus kapur.
Damar sendiri tidak begitu hafal teman-teman sekelasnya. Ini memang bukan tempat gaulnya.
Dia menulis lagi:
kekuatan Branding itu besar banget. Orang jadi gampang inget, dan nggak perlu mikir dalam menilai. Makanya Branding itu identik dengan penampilan luar.
Pake pakaian sobek auto dianggap gembel. begitupun sebaliknya pakai branded akan di cap kaya raya. Sesimpel itu.
Tapi yang mengerikan itu Branding yang nembak bawah sadar. ngena ke mental manusia. Karena manusia tuh makhluk rasa, gampang kebawa suasana, gampang jatuh cinta sama hal yang konsisten dan "kena hati". Branding yang kuat bisa mempengaruhi persepsi, emosi, bahkan keputusan orang tanpa mereka sadar.
Jadi, kalau nggak paham branding dan gimana itu ngaruh ke kita, bisa aja kita gampang kebawa godaan konsumtif. Makanya, pola pikir itu penting, bisa di dapetin dari sekolah atau belajar sendiri, biar nggak gampang ketipu iklan atau tren viral yang cuma sebentar doang.
“Menghindari perilaku konsumtif ya harus ngerti. Mau ngerti, ya belajar. Belajar ya ke sekolah. Iya… sekolah!
Sekolah yang katanya tempat bikin manusia ‘jadi manusia.’ Katanya ngajarin kebersamaan, tanggung jawab, bekal hidup. Tapi kenapa yang dibilang pintar cuma yang bisa jawab soal matematika atau pengetahuan umum dalam lima detik? Sisanya langsung dicap bodoh. Padahal menurutku, nggak ada orang bodoh. Itu cuma branding yang dibuat orang-orang picik. Kayak lagunya Pink Floyd, Another Brick in the Wall.”
Kalau memang benar-benar pintar, harusnya jadi yang paling sadar, manusia itu berbeda-beda, kayak menu takjil, bermacam-macam jenisnya:
Ada yang jago ngitung.
Ada yang bisa gambar cuma dari imajinasi.
Ada juga yang lima menit ngomong bisa bikin satu kelas ngakak atau nangis bareng.
Ada juga yang berpotensi jadi petugas BIN, kertas contekan aja bisa aman dari pengawasan. Apalagi, Rahasia Negara.
Dan banyak lagi macamnya.
Tapi kenyataannya, semua harus duduk manis, ikut ujian yang sama, dan ditanya hal-hal yang bahkan si pembuat soal kadang butuh ngopi dulu buat mikir jawabannya. Entah kenapa, aku merasa lirik dilagu itu sangat pas menggambarkannya.
Seperti pabrik tahu yang semua harus seragam berbentuk kotak. Mau nanti direbus, dikukus, bahkan digoreng harus kotak. Kalau nggak kotak orang pasti nanya :
"ini apa?"
"Tahu."
"Kalau tahu kasi tahu dong."
"La, itu tahu."
...
Gitu terus sampai angelic nemuin tujuh bola naga.
Yang nggak bisa ikut arus? Ya udah, jadi badut kelas. Pelengkap. Pengganggu. Bonus yang nggak pernah diminta. Dan yang pasti dibranding 'bodoh.' padahal nggak mungkin kan, ikan disuruh lomba terbang atau burung disuruh lomba renang, gaya katak pula. Itu sama aja kaya nyuruh Luffy nganggon kambing.
Begitupun manusia, semua punya bidangnya masing-masing.
Tapi di sekolah, semua dianggap wajar. Ikan harus bisa terbang.
Yang penting nilainya akademik bagus. Bakat? Passion? Nanti aja, kerjain dulu LKS itu baru belajar. Kalau menggambar bukan belajar.
Dan satu lagi yang dibungkus rapi dengan label “kenakalan remaja,” padahal itu bentuk kejahatan serius: bullying. Dianggap fase, padahal korbannya bisa kehilangan nyawa. Dan yang bertahan, bawa luka seumur hidup. Mental korban diperkosa, dipermainkan tanpa pernah diminta. Dan semua diam, pura-pura nggak lihat. Karena katanya, “Namanya juga anak-anak.”
… Aku masih ingat…
Danu — anak pengusaha kaya lokal sekaligus ketua geng motor sok keren. Jujur aja, Danu emang keren sih. Bawa motor sport cc besar yang suaranya bisa bikin alarm tetangga hidup sendiri. Kulitnya putih terawat, bersih, kayak dinding baru dicat. Badannya memang agak berisi, tapi buat para pemuja penampilan, Danu tetap tampak seperti spesimen langka yang wajib diperebutkan. Kategori manusia sempurna, walau isi kepala dan hatinya masih embrio.
Kerjanya? Rajin ngebully anak-anak culun yang sepatunya bolong atau uang jajannya cuma cukup buat beli gorengan di kantin. Semua takut padanya, termasuk aku pertamanya. Setiap hari jadi objek mereka, label culun yang dibranding dari kacamata minus agak tebal. Membuatku jadi target di awal SMA.
Fendy dan Denny, dua ekor peliharaan setianya, yang tampilannya seperti bapak dua anak berseragam SMA. Selalu nimbrung-ketawa ngakak sambil ngerekam pakai HP mahal, seolah-olah bahagia itu bisa diukur dari berapa banyak orang lain yang dibuat malu. Entah masih ada atau tidak, apakah foto telanjangku masih ada disana,ya? Semoga tidak dijadikan poster dan dijual online. Mau dikemanakan royalty-ku.
Entah nasib, entah kutukan, para buangan dari SMP elite malah mendarat di SERUNI HIGH.
Tapi kenapa harus di sekolah gue juga, sih?!... Diluar negeri kan bisa.
Aku?
Aku merasa lelah.
Aku ingin putus sekolah.
Aku ketakutan... bahkan di rumahku sendiri.
Tapi aku tidak mau menyerah.
Untungnya, komunikasiku dengan Ayah dan Ibu selalu terbuka. Mereka mengajariku untuk melawan, untuk tidak takut.
Kata mereka, satu-satunya yang bisa melindungi dirimu... ya cuma kamu sendiri.
Aku tidak menyangka, orangtua yang selama ini menghindari keributan malah mengajarkanku hal itu. Aku tahu, kalau ada yang bertindak sok jagoan di jalan, Ayah lebih memilih menghindar dan minta maaf. Dulu, aku sempat menyesal dilahirkan dari seorang Ayah yang kuanggap pengecut — dan aku yakin sifat itu menurun dalam DNA-ku.
Tapi sekarang berbeda.
Aku justru merasa beruntung punya mereka sebagai orangtuaku.
Diam-diam, mereka tetap mengawasiku — dibantu guru Kenalannya yang rutin mengecek keberadaanku di sekolah.
Aku tidak takut sekolah lagi, apalagi setelah Ayah memberiku pulpen khusus: ujungnya terbuat dari besi, runcing seperti mata tombak kecil.
Ayah membuatkannya dengan pesan sederhana, "Hanya saat terdesak." Sejak hari itu, pulpen itu selalu berada di kantong seragamku. Mirip lurah yang selalu sigap memberikan tanda tangan.
Sampai sekarang, aku belum pernah benar-benar menancapkan pulpen itu ke p****t tiga boyband tengil itu... walaupun, jujur saja, keinginan itu sering banget muncul.
Pernah suatu hari aku dan Bear melawan mereka. Kami bonyok semua.
Tapi, malah aku dan Bear yang diskors, dicap pembuat onar. Padahal untung aja aku masih hidup. Merendam kepalaku di bak toilet sekolah. Jika Bear tidak datang saat itu, mungkin aku sudah jadi Aquaman. Danu? Naik pangkat. Jadi ketua OSIS.
Dunia emang jago ngelawak.
Sejak itu, aku belajar satu hal:
"Aku nggak harus menang, tapi aku harus ngomong. Aku nggak harus jadi pahlawan, tapi jangan jadi pengecut. Setidaknya.... SPEAK UP!!! Walau terkadang dipaksa bungkam.
Tapi untuk perasaan, aku tidak pernah bisa speak up, ada kengerian tentang sekelebat bayangan. Mungkin itu yang menjadikanku berlabel jomblo akut. Tapi tenang, aku tidak pacaran dengan action figure berbikini.
Damar menghentikan menulisnya. Dia menggeleng, mengusap poninya. Lamunannya terasa jauh, tapi entah kenapa waktu jalannya sangat lama.
Suara dosen masuk lagi, entah dari mana. Damar memainkan pulpennya.
"Branding itu penting. Kalian harus tahu siapa diri kalian, dan gimana dunia ngeliat kalian."
Dini di bangku depan, mahasiswa kesayangan para Dosen, angkat tangan. Menjelaskan soal media sosial: likes, comment, subscribers-semua angka digital yang katanya bukti eksistensi. Dan dia membuktikan itu sebagai SELEBGRAM. Damar bisa membayangkan, betapa bahagianya menjadi sabun batangan di kamar mandinya.
Damar senyum tipis. Lalu menunduk lagi.
Dia nulis lagi:
Likes, comment, subscriber-kepintaran manipulasi yang dibungkus rapi. Kreator harus cermat membranding biar bisa ngatur mental penonton. Entah mau jadi pribadi baik tanpa cela atau pribadi toxic yang dihujat berjamaah.
Tujuannya satu : Adsense.
Mau dibenci, mau dipuja, yang penting traffic naik.
Ibarat jualan, semakin rame semakin cuan.
Nggak heran, semua orang pengen jadi influencer.
Modal nonton konten dan browsing paper lima menit, langsung berasa kayak profesor. Ahli kesehatan, parenting, dan semua tentang kehidupan. Komen aja "mau", nanti akan datang link yang mengarah pendaftaran webinar.
Besok-besok mungkin ada: "S1 instan, cukup klik dan seruput."
Sementara Aku?
nggak laku dijual. Look-nya terlalu amburadul. Branding-nya jelas: manusia gagal. di dunia yang berlomba-lomba pamer sempurna. Lecek, kayak pakaian bekas di karung bal.
Ironisnya?
Kadang aku juga pura-pura nyaman. Karena jujur itu... capek.
Di halaman terakhir, dia menulis:
"Menyenangkan orang lain, melemahkanmu."
Damar menutup bukunya pelan. Seiring berakhirnya kelas hari itu. Karena cerita ini bukan tentang kehidupan sekolah atau kampus.