"Mas bagaimana keadaan putri kita?"
"Tenanglah sayang, putri kita akan baik-baik saja."
"Aku takut kalau apa yang dikatakan dokter, benar-benar terjadi pada putri kita."
"Hey... tenang, putri kita pasti kuat dia bisa mengalami masa kritisnya ini. Percayalah."
"Iya mas, aku hanya takut kalau anak kita kenapa-kenapa."
"Sudah tidak usah cemas." Willy memeluk istrinya.
Kesedihan mereka tidak sampai disitu saja. Dokter yang menangani putrinya itu mengatakan kabar yang kurang enak didengar.
"Bagaimana keadaan putri saya dokter?"
"Tenang dulu pak."
"Saya tidak bisa tenang dokter"
"Oke baiklah, sebelumnya saya minta maaf harus mengatakan ini kepada bapak dan ibu. Karena, putri anda mengalami kebisuan."
Sarah syok mendengar apa yang dikatakan dokter padanya. "Apa dok?"
"Yang benar dok? Apa tidak bisa diobati dengan cara lain?"
"Tidak bisa pak, kami sudah melakukan yang terbaik. Sayangnya putri bapak harus menerima kenyataan ini."
"Mas bagaimana ini?" Sarah menangis dipelukan suaminya.
Willy hanya bisa pasrah menerima kenyataan yang menimpa keluarga kecilnya ini.
"Kalau begitu saya permisi." Dokter pergi meninggalkan mereka berdua.
"Dok, apa kami bisa melihat kondisi putri kami?"
"Silahkan pak, perawat ada didalam menemani kalian."
"Baik terimakasih dok."
Sepasang suami istri itu masuk kedalam ruang rawat putri kecilnya itu.
Dengan tatapan penuh haru mereka menatap putri kecilnya itu.
Willy mengusap kepala putrinya dengan lembut. "Nak, maafkan ayah sama mama kamu ya. Kami tidak bisa melakukan yang terbaik untukmu."
"Maafin mama ya nak, mama nggak bisa menjaga kamu dengan baik. Ini semua salah mama."
"Sayang tidak perlu begitu, kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri. Seharusnya aku yang bertanggung jawab dengan semua ini. Akulah yang salah."
"Tidak mas, kalau saja kita lebih dulu pindah kemungkinan putri kita tidak seperti ini."
"Sudahlah, bukan salahmu karena kita lama pindah. Tapi, keadaan saja yang kurang mendukung."
Suster yang berada di ruangan itu terlihat kasihan kepada Willy dan Sarah.
"Bapak, ibu. Yang sabar ya. Kalian pasti bisa melewati semua ini."
"Iya suster, terimakasih."
"Kalau begitu saya permisi mau memeriksa pasien lain."
"Iya suster terimakasih."
Willy dan Sarah menunggu didalam ruangan sampai putri mereka siuman.
Kring... kring...
Suara ponsel Willy berbunyi.
"Siapa mas?"
"Sebentar."
"Siapa mas?"
"Oh ini pak Ferry."
"Ya sudah angkat saja mas."
"Halo pak Ferry."
"Iya halo pak Willy, uangnya sudah saya transfer ke rekening bapak ya."
"Ok pak, terimakasih. Nanti saya cek."
"Baik pak, Willy. Nanti kabarin saya jika uangnya sudah bapak terima."
"Baik pak."
Willy menyudahi teleponnya.
"Uangnya sudah ditranfer ya mas?"
"Iya, pak Ferry sudah mengirimkan uangnya tadi."
"Ya sudah pastiin aja dulu uangnya. Sekalian lihat ibu. Mungkin ibu sudah pulang."
"Iya, kalau begitu mas pergi dulu ya. Kalau Kelly sudah siuman kabari mas ya sayang."
"Iya mas, hati-hati dijalan."
"Iya sayang." Kecupan manis mendarat di kening Sarah.
Kemudian Willy pergi memastikan apa benar uang hasil penjualan rumah mereka sudah dikirim.
Menjadi seorang suami adalah perkara yang tidak mudah bagi Willy.
Justru disaat dia berusaha untuk melakukan yang terbaik, malah dia menerima kenyataan seperti ini. Willy pergi dengan hati yang sedih.
Tentu saja sebagai seorang kepala keluarga, dia pasti akan kepikiran dengan putrinya itu.
"Ya Tuhan... kenapa terjadi seperti ini kepadaku. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari kebahagiaan dikeluargaku ini. Tapi, mengapa harus seperti ini?" keluh Willy didalam mobilnya.
***
Sesampainya di kantor bank. Willy bergegas memeriksa saldo rekeningnya.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya perempuan yang bekerja di bank tersebut.
"Saya mau memeriksa saldo rekening saya bu. Kebetulan saya lupa membawa kartu ATM saya, dan hanya membawa bukunya saja."
"Boleh saya lihat bukunya pak?"
"Ini bu." Willy memberikan buku rekening bank miliknya, yang sejak dari tadi dipegangnya.
"Sebentar saya periksa ya pak. Tunggu sebentar."
"Iya bu."
Tidak butuh waktu yang lama perempuan pegawai bank itu, memberitahu isi saldonya.
"Sisa Saldo bapak disini, tiga ratus tujuh puluh lima juta enam puluh delapan ribu rupiah."
"Terimakasih bu."
"Hanya itu saja pak?"
"Iya bu, saya hanya memastikan saja."
"Kalau begitu ini buku rekeningnya saya kembalikan. Jangan hilang ya pak."
"Iya bu, terimakasih."
"Sama-sama pak."
Willy keluar dari kantor bank. Dia menelepon Ferry.
"Halo, pak."
"Iya pak Willy. Bagiamana uangnya sudah masuk?"
"Sudah pak, terimakasih. Kami akan pindah sekitar seminggu lagi pak."
"Tidak apa-apa pak Willy. Sebulan saja tidak apa-apa. Kebetulan juga anak saya sebulan lagi baru datang dari kota."
"Baik pak, terimakasih. Kalau begitu kami tinggal sedikit lebih lama dari seminggu ya pak?"
"Bisa-bisa pak Willy."
"Sekali lagi terimakasih ya pak."
"Iya pak Willy sama-sama."
Willy mengakhiri pembicaraan mereka.
Belum juga ponselnya dia masukkan kedalam sakunya. Ponselnya kembali berdering.
Terlihat dilayar ponselnya nama istrinya.
"Mama?"
Dia mengangkat teleponnya.
"Iya halo ma?"
"Mas anak kita sudah siuman. Cepat datang ya mas. Jangan lupa bawa ibu kesini juga."
"Iya mama sayang. Ini aku baru dari bank. Sebentar lagi aku mau jemput ibu kerumah. Baru berangkat kerumah sakit."
"Iya mas, nggak apa-apa. Hati-hati ya dijalan."
"Iya ma. Sebentar lagi ayah datang ya nak."
"Iya mas, kalau begitu sudah dulu."
"Iya ma."
Willy merasa sedikit lega karena putrinya sudah siuman.
"Terimakasih Tuhan."
Dia memacu mobilnya kerumahnya.
Sesampainya dirumah. Dia melihat kalau ibu mertuanya sedang duduk didepan teras rumah. Seperti menantikan seseorang.
"Ibu sudah pulang?" tanya Willy kepada ibu mertuanya itu. Kemudian dia mencium tangan ibu mertuanya itu.
"Sudah." Ibu mertuanya berdiri. "Nggak perlu lagi sebenarnya kamu cium-cium tangan saya. Kalau jaga putri kamu saja tidak bisa."
"Ibu sudah tau?"
"Iya."
"Dari siapa bu?"
"Siapa lagi kalau bukan tetangga."
"Jadi ibu pulang lebih cepat karena mengetahui ini."
"Hem," jawab ibu mertuanya dengan merasa kesal.
"Ya sudah kalau begitu kita berangkat saja." Ibu mertuanya malah terdiam tidak menggubrisnya.
"Ibu, kita berangkat sekarang. Kelly sudah siuman."
"Hem, cepat."
"Iya bu."
"Dasar menantu tidak bertanggung jawab." Gerutu ibu mertuanya, yang terdengar sampai ke telinga Willy. Tapi dia tidak menyangkal hal itu.
Willy hanya bisa bersabar. Pasti dia akan kena marah oleh ibu mertuanya lebih dari ini jika ibu mertuanya tau kalau cucunya tidak bisa bicara lagi.
Willy mencoba membukakan pintu mobil untuk mertuanya.
"Tidak usah. Saya bisa sendiri," jawab ibu mertuanya dengan kasar. "Saya tidak mau duduk didepan dengan kamu."
"Iya bu maaf."
Kemudian Willy ikut masuk juga kedalam mobil.
Dia menyetir mobilnya. Selama diperjalanan ibu mertuanya hanya terdiam. Willy berusaha mengajak ibu mertuanya untuk bicara tapi tidak ada jawaban sama sekali.
"Bu, kenapa ibu diam terus?"
Tidak ada jawaban.
"Maafkan aku bu, memang ini semua salah aku. Tidak bisa menjaga Kelly dengan baik. Tapi ibu jangan diam begini."
Tidak ada juga jawaban.
"Ya sudah kalau ibu belum bisa maafin sekarang, aku nggak akan maksa ibu."
"Hem," hanya hemingan saja yang keluar dari ibu mertuanya itu.
Tampaknya memang mertuanya itu marah sekali kepada Willy.
Kenapa tidak, sebab Kelly adalah cucunya yang sudah lama dia tunggu dari hasil pernikahan Willy dan putrinya Sarah selama empat tahun dan baru mendapatkan Kelly.
Tentu saja seorang nenek sangat sayang kepada cucu putrinya sendiri.
Bisa jadi mertua Willy berpikiran yang aneh-aneh dengan kondisi cucunya.
Mungkin itulah yang ada dipikiran mertuanya yang membuat dia semarah itu kepada Willy.
"Kita sudah sampai bu."
Willy mencoba membukakan pintu untuk mertuanya.
"Tidak usah." Ibu mertuanya menolaknya lagi. "Berapa kali saya bilang tidak usah."
"Iya bu maaf."
Willy memastikan mobilnya sudah aman. Kemudian dia membawa ibu mertuanya kedalam rumah sakit.
Suasana hati Willy mulai merasa tidak tenang. Apalagi kalau ibu mertuanya tau kalau cucunya mengalami kebisuan.
"Diaman cucu saya?"
"Mereka ada didalam bu."
"Cepat."
"Iya bu."
"Dimana sih?"
"Satu blok lagi bu."
"Dasar menantu macam apa kamu."
"Ini bu, ruangannya." Willy membukakan pintu ruang rawat cucunya.
Ibu mertua Willy menyongsong cucunya itu. "Kelly cucu nenek kamu kenapa sayang?" akan tetapi Kelly tidaka bisa mengeluarkan kalimat dari mulutnya. Hanya terdengar suara seperti orang mengucapkan a, i, u, e, o saja.
"Sarah kenapa dengan anak kamu?"
"Kelly tidak apa-apa kok mah."
"Tidak apa apanya? Kenapa dengan suaranya?"
Seketika Sarah mulai sedih dan akan mengeluarkan air matanya. Willy dengan sigap memberikan sandaran kepada istrinya untuk menangis.
Wajah Sarah terbenam dipelukan suaminya.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya mertua Willy bingung.