Pagi itu cerah tanpa cela. Tidak ada awan, tidak ada angin sakal yang berarti. Sekar berdiri di apron, mengenakan setelan terbang dan rompi keselamatan, sementara Kapten Wibisana memeriksa pesawat latih bersamanya untuk terakhir kali.
"Walk-around terakhir," kata Kapten. Rambut cepak berubannya tertimpa matahari pagi. "Lakukan seperti yang aku ajarkan. Aku nggak akan ngomong apa-apa lagi setelah ini."
Sekar mengelilingi pesawat kecil bermesin tunggal itu, menyentuh tiap bagian sambil menyebutkan namanya dalam hati. Aileron. Flap. Pitot tube—ia periksa penutupnya sudah lepas. Roda, ban, rem. Baling-baling, tak ada retak. Permukaan ekor. Bahan bakar ia cek dari drain, mencium baunya—avtur, bau yang dulu hanya ia kenal dari garis putih jauh di langit Pantai Cemara, kini di ujung jarinya.
"Bersih, Kapten," kata Sekar.
Kapten Wibisana mengangguk. Lalu, untuk sesaat, wajah keras itu melunak setipis garis. "Sekar. Kamu inget waktu wawancara, aku tanya apa kamu siap dengan pelatihan yang menghancurkan?"
"Inget, Kapten."
"Hari ini pelatihan itu berhenti menghancurkan kamu," katanya. "Hari ini ia mulai membangun. Naik."
Sekar naik ke kursi kiri. Kursi kanan—tempat instruktur biasanya duduk dengan tangan menggantung dekat kontrol—kosong. Sabuk pengaman di sana tergeletak rapi, tak terpakai. Pemandangan kursi kosong itu lebih menakutkan daripada apa pun.
Ia menutup pintu kanopi. Suara klik itu seperti dunia luar tertutup. Sekarang hanya dia, panel instrumen, dan napasnya sendiri.
"Tower, ini siswa Sekar Wulandari, latih solo, siap taxi," ujarnya ke radio. Bahasa Inggris penerbangan yang dulu membuatnya tertinggal di kelas Bahasa Langit, kini meluncur tanpa gagap.
"Diizinkan taxi ke runway dua-tujuh, angin tenang," jawab menara.
Pesawat bergerak. Roda menggelinding di taxiway. Sekar berhenti di ambang landasan, menjalankan run-up: cek magneto, putaran mesin, instrumen. Semua hijau.
"Diizinkan lepas landas," kata menara.
Sekar menarik napas. Lengan kirinya ngilu sedikit, tapi cengkeramannya di yoke mantap. Ia menggeser throttle ke depan. Mesin mengaum. Pesawat melaju, semakin cepat, badan bergetar, dunia di luar kaca berubah menjadi garis-garis yang ngebut. Jarum kecepatan naik. Lima puluh knot. Enam puluh.
Pada kecepatan rotasi, ia menarik yoke pelan.
Dan roda lepas dari bumi.
Tidak ada tangan lain di kontrol. Tidak ada suara instruktur. Hanya keheningan mesin yang stabil dan bumi yang menjauh di bawah. Untuk satu detik penuh keajaiban, Sekar berhenti bernapas. Pesawat itu naik karena tangannyalah yang menyuruhnya naik. Tidak ada orang lain. Tidak ada yang menyelamatkannya kalau ia salah, dan tidak ada yang berhak mengambil momen ini darinya.
Ia naik ke seribu kaki, lalu meratakan pesawat. Di bawah, landasan akademi mengecil. Di kejauhan, ia bisa melihat garis biru samar di horizon—laut. Laut yang dulu nyaris menenggelamkannya. Tapi dari atas sini, laut itu terlihat tenang, kecil, jinak. Untuk pertama kalinya, Sekar menatap air tanpa rasa takut itu mencengkeram lehernya.
"Aku yang di atas sini, Pak," bisiknya, entah pada Bapak yang jauh, entah pada dirinya sendiri yang dulu berdiri di atap.
Ia menerbangkan pola lengkap—crosswind, downwind, base, final—persis seperti yang dilatih ratusan kali. Tangannya gemetar tipis, tapi pikirannya jernih. Panik tak menyelesaikan apa pun. Itu yang selalu dipegangnya.
Saat ia memutar ke final approach, landasan terbentang lurus di depannya seperti undangan. Ia menurunkan kecepatan, menambah flap, menjaga sudut luncur. Lebih rendah. Lebih rendah. Pohon di ujung landasan melintas di bawah roda. Lalu, dengan sentuhan selembut yang pernah ia bisa, roda utama menyentuh aspal. Tap. Roda depan turun. Pesawat melambat, melambat, sampai berhenti.
Ia berhasil.
Sekar duduk diam di kokpit yang kini tak bergerak, kedua tangannya masih di yoke. Air matanya jatuh, hangat, tanpa diminta. Bukan air mata takut. Air mata seseorang yang baru saja, untuk pertama kalinya, memegang seluruh hidupnya di dua tangannya sendiri—dan tidak menjatuhkannya.
Di radio, suara menara terdengar, dan untuk pertama kali nadanya tidak datar: "Selamat, siswa Sekar. Mendarat dengan mulus."