Bapak harus tinggal di rumah sakit beberapa hari lagi untuk pengobatan. Malam itu, Ibu mengajak Sekar pulang ke rumah panggung kayu untuk tidur dan mengambil pakaian ganti.
Rumah itu persis seperti yang ditinggalkan Sekar—dinding papan yang sela-selanya ditembus angin laut, lantai bambu yang berderit, lampu temaram. Di sudut, tumpukan jaring ikan yang sudah lama tak terpakai. Di dinding, masih tergantung kalender lama dengan gambar perahu.
Sekar membuka ranselnya untuk mengambil baju, dan seragam cadet itu jatuh keluar—biru gelap, rapi, dengan lambang sayap emas ADN di dada. Di lantai bambu rumah nelayan, di bawah cahaya lampu minyak, seragam itu terlihat seperti benda dari planet lain.
Ibu mengambilnya, memegangnya dengan kedua tangan seolah benda suci. "Ini... seragam kamu?"
"Iya, Bu."
Air mata Ibu jatuh ke kain seragam. "Anak Ibu," bisiknya. "Anak nelayan, pakai seragam pilot."
Sekar tersenyum. "Belum jadi pilot beneran, Bu. Masih sekolah. Tapi minggu lalu Sekar udah terbang sendiri. Tanpa guru."
"Sendiri?" Ibu menatapnya, takjub bercampur cemas. "Di atas sana? Sendirian?"
"Sendirian, Bu. Dan Sekar nggak takut." Sekar duduk di lantai bambu, dan Ibu duduk di sebelahnya, seragam itu di pangkuan mereka berdua. "Sekar liat laut dari atas, Bu. Kecil banget. Kayak nggak ada apa-apanya. Padahal dulu laut itu yang bikin Sekar takut setengah mati."
Ibu mengusap lambang sayap emas di seragam itu dengan ujung jari, takut-takut, seolah benda itu bisa rusak kalau disentuh terlalu keras. "Berat nggak, Nak, di sana? Sekolahnya?"
"Berat, Bu," jawab Sekar jujur. "Bangun jam empat tiap pagi. Lari sampai mau muntah. Belajar sampai larut. Banyak yang nyerah bulan pertama." Ia tersenyum kecil. "Tapi Sekar kan udah biasa bangun subuh buat jualan ikan. Anak-anak kota itu yang kaget. Sekar malah ngerasa di rumah."
Ibu tertawa pelan di sela air mata. "Jadi semua subuh-subuh itu ada gunanya."
Ibu mengusap rambut Sekar, gerakan yang sama seperti waktu Sekar masih kecil. "Bapakmu nonton kamu pergi waktu itu," kata Ibu pelan. "Dari jendela, pura-pura benerin jaring. Dia nggak mau lihat bus kamu berangkat, tapi dia nggak bisa nggak lihat juga."
Sekar terdiam.
"Tiga tahun, Sekar," lanjut Ibu. "Tiga tahun dia ngotot bilang ke semua orang di kampung kalau kamu lagi kerja di kota. Malu, katanya, anak nelayan mimpi jadi pilot. Tapi tiap kamu kirim kabar lewat Bu Lurah, dia minta diceritain ulang. Berkali-kali. 'Sekar lolos apa lagi sekarang?' Begitu terus."
Dada Sekar sesak. Sepanjang ini ia mengira Bapak tak peduli. Ternyata Bapak peduli dengan cara yang paling sunyi—malu di luar, bangga diam-diam di dalam.
Malam itu mereka makan bersama di meja kayu rendah: nasi, ikan kembung goreng—ikan yang sama yang dulu Sekar jajakan tiap subuh. Sekar makan dengan tangan, seperti dulu, tapi seragam cadet tergantung di paku di dinding, mengawasi mereka seperti tamu dari dunia yang baru.
Dua dunia, di satu meja kecil. Dunia laut yang membesarkannya, dan dunia langit yang memanggilnya.
"Bu," kata Sekar di tengah makan. "Maafin Sekar. Gara-gara Sekar, Bapak sakit. Gara-gara Sekar maksain mimpi yang nggak masuk akal."
Ibu meletakkan sendoknya. "Sekar. Dengar Ibu." Suaranya tegas, jarang sekali Ibu setegas itu. "Bapakmu nggak sakit gara-gara mimpi kamu. Dia sakit gara-gara dia terlalu sayang dan terlalu keras kepala buat ngomong langsung. Itu bukan salah kamu. Mimpi kamu itu... itu yang bikin kampung ini punya sesuatu buat dibanggain. Jangan pernah minta maaf buat terbang."
Sekar menunduk, air matanya jatuh ke piring. Di luar, ombak terus berdebur, dan jauh di langit gelap, sebuah pesawat melintas—garis putih kecil yang berkedip, seperti yang dulu selalu ia tatap dari atap.
Kali ini, ia tahu rasanya berada di dalam garis putih itu.