Bus itu reyot, kursinya sobek, dan AC-nya hanya mengembuskan udara hangat. Tapi bagi Sekar, perjalanan empat jam itu adalah perjalanan terjauh yang pernah ia lakukan seumur hidupnya.
Ia duduk di dekat jendela, ransel lusuh di pangkuannya. Di dalam ransel itu: dua potong baju, buku penerbangan yang lecek, ijazah SMA, dan amplop berisi tabungan arisan Ibu. Ia memegang ranselnya seperti memegang seluruh masa depannya—karena memang begitu adanya.
Pemandangan berubah pelan-pelan. Pantai dan pohon kelapa berganti sawah, lalu ruko-ruko, lalu gedung-gedung yang makin tinggi. Sekar menempelkan dahinya ke kaca, menatap kota yang belum pernah ia lihat. Lampu lalu lintas. Lampu reklame. Orang-orang berjalan cepat dengan tas dan sepatu mengkilap.
Ia tiba-tiba sadar betapa kumalnya dirinya. Sandal jepit. Kaus yang sudah pudar warnanya. Kulit yang gosong oleh matahari laut. Untuk sesaat, suara Bapak menggema di kepalanya: orang kayak kita nggak ada di situ.
Sekar menggeleng, mengusir suara itu.
Lokasi tes seleksi tahap awal diadakan di sebuah gedung serbaguna milik pemerintah daerah. Ketika Sekar tiba, ia langsung mengerti apa yang dimaksud Bapak.
Halaman gedung itu penuh. Ratusan—mungkin lebih—anak muda berkumpul. Sebagian besar berpakaian rapi: kemeja licin, celana bahan, sepatu pantofel. Beberapa diantar mobil pribadi. Ada yang membawa map plastik tebal berisi sertifikat. Ada yang mengobrol percaya diri tentang les TOEFL dan simulator yang pernah mereka coba di mal.
Sekar berdiri di pinggir, merasa seperti burung pantai yang nyasar ke kandang merpati.
"Hei." Seorang anak laki-laki menabraknya tanpa sengaja, lalu menatap Sekar dari ujung kepala sampai sandal jepitnya. Anak itu mengernyit, lalu tersenyum miring. "Salah tempat, ya? Pendaftaran kerja bakti di sebelah."
Teman-temannya tertawa. Sekar merasa wajahnya panas, tapi ia tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tali ranselnya lebih erat dan melangkah maju, melewati anak itu, menuju meja pendaftaran.
"Nama?" tanya petugas di meja, tanpa mengangkat kepala.
"Sekar. Sekar Wulandari."
Petugas itu mencari di daftar, mencoret nama Sekar, lalu menyerahkan selembar nomor peserta. "Nomor dua-tujuh-empat. Tes tertulis mulai jam sepuluh di Ruang Garuda. Bawa alat tulis sendiri."
Dua ratus tujuh puluh empat. Dan itu baru yang hadir pagi ini.
Sekar mencari sudut sepi, duduk di lantai dengan punggung bersandar ke tembok, dan mengeluarkan bukunya. Ia mengulang lagi rumus-rumus yang sudah ia hafal. Gaya angkat. Hukum Bernoulli. Konversi satuan. Di sekelilingnya, anak-anak lain mengobrol dengan bahasa Inggris yang fasih, membicarakan akademi-akademi yang pernah mereka kunjungi.
Seorang gadis berkacamata, berkemeja biru rapi, duduk tak jauh darinya. Ia memperhatikan Sekar membaca buku lecek itu, lalu mendekat.
"Itu buku Pak Wirawan, ya?" tanya gadis itu. "Edisi lama. Aku punya yang terbaru, tapi yang lama katanya penjelasannya lebih enak."
Sekar menatapnya, tak menyangka ada yang menyapa dengan ramah. "Iya. Edisi 2009."
"Aku Dian." Gadis itu mengulurkan tangan. "Kamu hafal isinya? Aku lihat kamu nggak buka-buka, cuma baca yang itu-itu aja."
"Sekar. Iya, hampir hafal." Sekar menjabat tangan Dian, sedikit malu. "Cuma punya satu buku ini."
Dian mengangguk, tidak mengejek, tidak meremehkan. "Kalau kamu hafal satu buku sampai dalem, itu bisa lebih kuat daripada punya sepuluh buku tapi cuma baca sekilas. Semangat, ya."
Untuk pertama kalinya sejak turun dari bus, Sekar tersenyum tulus.
Pukul sepuluh kurang, pintu Ruang Garuda dibuka. Ratusan peserta berbaris, satu per satu masuk, nomor peserta diperiksa. Sekar berjalan di antara mereka, jantungnya berdebar keras.
Di ambang pintu, ia berhenti sejenak dan menarik napas dalam-dalam.
Inilah langkah pertama menuju langit. Dan ia tidak akan mundur.