Lampu meja belajar di sudut perpustakaan asrama itu sudah menyala sejak pukul tujuh malam. Sekar duduk membungkuk di atas tumpukan modul yang menggunung, mata perih, kepala penuh dengan rumus performa pesawat yang ketinggalan dua minggu selama ia pulang ke Pantai Cemara. Halaman demi halaman terasa seperti dinding karang yang tak bisa ditembus. Ia mengusap mata dengan punggung tangan yang kasar.
"Kalau kamu pelototin terus, hurufnya nggak bakal pindah ke kepala," kata sebuah suara.
Sekar mendongak. Dian berdiri di sana, kacamatanya berembun karena baru masuk dari koridor yang dingin, memeluk setumpuk catatan rapi bersampul biru. Di belakangnya, Aulia menyeret kursi, Galang membawa termos dan tiga gelas plastik, dan Nadira menjinjing kantong kresek berisi roti.
"Kalian ngapain malam-malam ke sini?" Sekar bertanya, suaranya serak.
"Belajar bareng," kata Galang santai, menuang teh hangat. "Kamu pikir kami bakal biarin satu orang angkatan jatuh sendirian?"
Sekar menatap mereka satu per satu. Tenggorokannya menyempit. Selama dua minggu di kampung menunggui Bapak yang terbaring lemah, ia mengira saat kembali ke akademi ia akan menemukan dirinya sendirian, tertinggal, jadi beban. Ia sudah menyiapkan diri untuk itu.
"Aku ketinggalan banyak," kata Sekar pelan. "Performa, weight and balance, navigasi. Aku—"
"Makanya kami bagi tugas," potong Dian, duduk di sebelahnya dan membuka catatannya. "Aku pegang navigasi dan meteorologi. Aulia bagian performa dan weight and balance—dia paling jago hitung-hitungan."
"Aku jelasin sistem pesawat," sambung Galang.
"Dan aku," kata Nadira, menyodorkan kantong roti, "yang ngingetin kalian semua buat makan biar nggak pingsan."
Mereka tertawa kecil. Sekar ikut tersenyum, tapi matanya basah.
Mereka bekerja sampai larut. Aulia, dengan sabar yang tak disangka Sekar dimilikinya, menjelaskan ulang cara menghitung titik berat pesawat sampai Sekar bisa melakukannya tanpa melihat rumus. "Bayangin perahu Bapakmu," kata Aulia di satu titik. "Kalau muatan ikan numpuk di buritan, haluan naik, kan? Pesawat sama. Cuma istilahnya doang yang sok keren."
Sekar terdiam mendengar itu. Untuk pertama kalinya, dunia yang ia tinggalkan dan dunia yang ia kejar tidak terasa seperti dua benua yang terpisah samudra. Mereka bicara bahasa yang sama, hanya dengan logat berbeda.
Lewat tengah malam, Galang sudah tertidur dengan kepala di atas modul sistem hidrolik, mulutnya sedikit terbuka. Nadira memotretnya diam-diam sambil terkikik. Dian masih menemani Sekar mengulang perhitungan rute, jarinya menelusuri garis di peta navigasi.
"Kenapa kalian repot-repot?" tanya Sekar akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Beberapa minggu lagi kita semua bersaing rebutan peringkat. Bantu aku berarti naikin saingan kalian sendiri."
Dian melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung baju. Tanpa kacamata, wajahnya tampak lebih muda, lebih lelah.
"Sekar," katanya, "di hari pertama tes, semua orang ngeliat sandal jepit kamu dan ketawa. Aku ngeliat buku lecek kamu yang udah hampir lepas jilidnya, yang halamannya kamu hafal di luar kepala. Saat itu aku tahu satu hal: kamu bukan ke sini buat menang. Kamu ke sini karena kamu nggak punya pilihan lain selain terbang." Ia memasang kembali kacamatanya. "Orang kayak gitu, kalau jatuh, dia jatuh beneran. Nggak ada jaring pengaman. Aku punya. Aulia punya. Kamu nggak. Jadi malam ini, kami yang jadi jaringnya."
Sekar tidak bisa menjawab. Ia hanya menunduk ke peta, membiarkan satu tetes air jatuh dan mengembang di atas garis kontur, lalu cepat-cepat menyekanya sebelum merusak tinta.
Di seberang meja, Galang mendengkur halus. Di luar jendela, langit hitam tanpa bintang—mendung tipis menutupi malam. Tapi di dalam ruangan kecil itu, di antara termos yang mulai dingin dan remah roti, Sekar merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan di tengah ribuan pesaing di hari pertama: ia tidak sendirian di langit ini.
Mereka berpisah pukul dua dini hari. Sebelum keluar, Dian menepuk bahu Sekar.
"Ujian susulan tiga hari lagi," katanya. "Kamu bakal lulus. Dan kalau pelatih galak itu nanya kenapa nilaimu naik secepat ini, bilang aja: anak nelayan nggak pernah kerja sendirian. Mereka selalu narik jaring rame-rame."
Pintu tertutup. Sekar memandang tumpukan catatan biru yang ditinggalkan Dian untuknya. Ia membuka halaman pertama, dan di pojok atas, dengan tulisan tangan rapi, tertulis: *Buat Sekar. Kita terbang bareng atau nggak sama sekali.*
Ia belajar sampai subuh.