Kabar itu menyebar di asrama lebih cepat dari angin laut. Daftar pendek magang dipangkas. Dari delapan nama, tinggal lima. Dan di papan pengumuman pagi itu, nama Sekar Wulandari masih ada—tapi di urutan paling bawah, dengan catatan kecil: dalam peninjauan.
Dian menemukannya di kantin, menatap nasi yang belum disentuh.
"Aku dengar kamu nolak tawaran Pak Hendarto," kata Dian, duduk di seberang. Kacamatanya berembun sedikit dari uap teh. "Semua orang ngomongin. Mereka bilang kamu sombong."
"Aku nggak sombong, Dian. Itu jebakan."
"Jebakan." Dian mengaduk tehnya. "Aku ditawari juga, Sekar. Tawaran yang sama. Aku belum tanda tangan, tapi aku belum nolak. Karena—" ia berhenti. "Karena ini magang line. Ini langsung ke maskapai. Kamu tahu berapa lama orang nunggu untuk ini?"
Sekar mengangkat wajah. "Kamu baca klausanya?"
"Aku baca." Dian menatapnya. "Itu kerahasiaan biasa."
"Itu bukan biasa, Dian. Mereka minta kita janji buat diam apa pun yang kita lihat. Selamanya."
Dian terdiam. Lalu sesuatu yang lebih getir naik ke permukaan. "Kamu tahu kenapa namaku masih di daftar dan namamu 'dalam peninjauan'? Karena aku belum bikin musuh, Sekar. Aku belum bikin Pak Hendarto marah. Kamu selalu begitu. Kamu selalu harus jadi yang paling benar, dan kami yang lain harus ikut tenggelam sama prinsipmu."
"Aku nggak minta kamu tenggelam—"
"Tapi itu yang terjadi!" Dian menurunkan suaranya, sadar mata-mata mulai melirik. "Aku dengar Pak Hendarto bilang ke panitia, cadet yang 'tidak kooperatif' nggak cocok buat lingkungan maskapai. Dia ngomong soal kamu. Dan karena kita sahabat, orang mulai mikir aku sama. Surat rekomendasi instrukturku ditahan, Sekar. Ditahan. Gara-gara aku terlalu dekat sama kamu."
Itu menusuk lebih dalam dari yang Sekar duga. "Dian, aku nggak tahu—"
"Tentu kamu nggak tahu." Dian berdiri, mengambil bakinya. "Kamu nggak pernah mikir soal akibatnya buat orang lain. Kamu pinjam kemejaku tiga tahun lalu untuk wawancara. Aku kasih bekal waktu uangmu habis. Aku nggak pernah ngitung. Tapi sekali ini, sekali ini saja, aku butuh kamu nggak ngerusak jalanku."
Ia pergi. Punggung biru rapinya menghilang di pintu kantin. Sekar duduk sendiri, nasi dingin di depannya, dada terasa seperti diinjak.
Sekar tahu Dian benar. Itu yang paling menyakitkan. Selama ini ia begitu sibuk menjaga prinsipnya sendiri, ia tak pernah memikirkan bahwa di akademi ini, persahabatan punya harga—dan Dian membayar harga itu untuknya, diam-diam, sejak hari pertama. Surat rekomendasi yang ditahan. Bisik-bisik yang menempel. Dian tidak salah marah.
Malamnya Sekar tidak bisa tidur. Ia turun ke ruang belajar yang sepi. Di sana, di papan tulis, masih ada coretan rumus aerodinamika dari kelas siang. Ia ingat malam-malam di tahun pertama, ketika Dian mengajarinya fraseologi radio sampai larut, sabar mengeja huruf-huruf NATO sampai Sekar bisa. Alpha. Bravo. Charlie. Dian tidak pernah mengeluh meski Sekar lambat, tidak pernah membuatnya merasa bodoh karena anak nelayan yang baru pertama menyentuh kamus penerbangan. Ia hanya mengulang, sabar, sampai Sekar bisa.
Mereka pernah jadi dua gadis yang tidak punya siapa-siapa di akademi kecuali satu sama lain. Anak dosen kota dan anak nelayan pantai—dua dunia yang tak seharusnya bertemu, tapi langit menyatukan mereka. Dan sekarang langit yang sama hampir memisahkan mereka.
Sekar mengeluarkan kertas dan menulis surat untuk Dian. Bukan untuk membela diri. Hanya untuk bilang: Kalau aku harus pilih antara namaku di daftar dan persahabatanku denganmu, aku pilih kamu. Maaf aku bikin jalanmu susah. Aku nggak akan biarkan kamu tenggelam sendirian.
Ia melipat surat itu. Tapi ketika ia berdiri untuk menyelipkannya di bawah pintu kamar Dian, ia berpapasan dengan Rangga di koridor gelap. Rangga memegang sesuatu—sebuah amplop cokelat, lusuh, seperti yang sudah lama disimpan. Wajahnya pucat, tidak menyeringai seperti biasa.
"Kamu masih di sini," kata Rangga, suaranya aneh.
"Kamu juga," balas Sekar.
Rangga menatap amplop di tangannya, lalu menatap Sekar. Untuk sekejap ia tampak hendak mengatakan sesuatu. Lalu ia mengeraskan rahangnya dan berlalu.
Sekar menatap punggungnya. Amplop itu. Ia merasa pernah melihatnya. Dan rasa tidak enak itu—seperti tekanan udara sebelum badai—mulai terkumpul di dadanya.