Pagi itu langit cerah tanpa setitik awan, seakan-akan ikut tahu betapa pentingnya hari ini. Lapangan upacara ADN dipenuhi kursi-kursi putih yang tertata rapi, dan di atas panggung berkibar bendera dengan logo sayap emas akademi. Sekar berdiri di barisan paling depan, mengenakan seragam putih wisuda dengan topi yang terasa asing di kepalanya.
Di sakunya, terlipat kecil, ada secarik kertas. Brosur lama, sudah lecek dan menguning, yang ia print di Warnet Pak Hasan bertahun-tahun lalu seharga seribu rupiah. "Langit tidak menanyakan dari mana kamu datang. Langit hanya menanyakan: beranikah kamu terbang?" Ia menyimpannya di setiap momen penting, seperti jimat.
Dian berdiri di sampingnya, kacamatanya berembun lagi — tapi kali ini bukan karena takut. "Kita berhasil," bisik Dian, suaranya pecah. "Sekar, kita benar-benar berhasil."
Sekar tak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat. Ia memandang ke kursi-kursi tamu, mencari satu wajah.
Ibu duduk di sana.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ibu meninggalkan Pantai Cemara, menempuh perjalanan bus berjam-jam yang dulu ditempuh Sekar sendirian. Ibu mengenakan kebaya terbaiknya, yang biasanya hanya dipakai saat lebaran. Wajahnya yang lelah oleh tahun-tahun dan garam laut kini basah oleh air mata, dan ia memegang sapu tangan dengan kedua tangan seperti memegang doa.
Di sebelah Ibu, ada satu kursi kosong.
Sekar tahu kursi itu untuk siapa. Bapak masih terbaring sakit di kampung, terlalu lemah untuk perjalanan jauh. Tapi Ibu sengaja meminta panitia menyisakan kursi itu. "Biar Bapakmu tetap punya tempat di sini," kata Ibu lewat telepon semalam. "Walaupun raganya nggak datang, hatinya datang."
Sang Kapten naik ke podium. Suaranya mengalir ke seluruh lapangan lewat pengeras suara. "Hari ini," katanya, "kalian bukan lagi cadet. Hari ini kalian menjadi penerbang. Tapi ingat — sayap yang akan saya sematkan di dada kalian bukan hadiah. Itu tanggung jawab. Setiap kali kalian melihatnya di cermin, ingat: ada orang-orang yang menitipkan hidup mereka pada kalian."
Satu per satu nama dipanggil. Bramantyo Aji. Aulia Rizki. Galang Saputra. Nadira Salsabila. Rangga Pratama — yang berjalan ke panggung dengan langkah lebih tegak, lebih tenang dari anak sombong di hari pengumuman dulu. Dian Permatasari.
"Sekar Wulandari."
Kakinya nyaris tak terasa saat ia melangkah ke panggung. Sang Kapten menatapnya dari dekat. Wajah keras yang dulu menguji habis-habisan, kini melunak. Ia menyematkan lencana sayap emas di dada kiri Sekar, tepat di atas jantung.
"Kamu masih ingat," kata Sang Kapten pelan, hanya untuk Sekar, "apa yang kamu jawab waktu wawancara? Tentang anak nelayan yang menatap pesawatmu?"
"Ingat, Pak," kata Sekar, suaranya bergetar.
"Suatu hari," kata Sang Kapten, "kamu akan jadi kapten itu. Dan kamu akan tahu apa yang harus kamu sampaikan." Ia mundur, memberi hormat. Penghormatan dari empat garis kepada sepasang sayap yang baru lahir.
Sekar berbalik menghadap hadirin. Dari panggung, ia bisa melihat Ibu berdiri, kedua tangan menutup mulut, bahunya berguncang. Dan di sebelahnya, kursi kosong itu — tapi Sekar bersumpah ia bisa melihat Bapak di sana. Bapak yang kering dan kurus, yang dulu berkata "Burung besi. Bukan buat kita." Bapak yang mendayung dua kilometer melawan ombak demi menyelamatkan anaknya.
Air mata jatuh dari mata Sekar dan ia tak berusaha menyekanya.
Selesai upacara, Ibu memeluknya erat-erat di tengah lapangan, tak peduli kerumunan. Bau Ibu masih sama — bau dapur, bau asin, bau rumah. "Bapakmu," bisik Ibu di telinganya, "dengerin lewat radio panggil sekolah di kampung. Tetangga nyetel siaran. Dia diam aja, Sekar. Tapi ibu lihat... ibu lihat dia nangis."
Sekar menutup matanya, memeluk Ibu lebih erat. Bertahun-tahun ia mengejar restu yang tertahan. Dan kini, di lapangan ini, di bawah langit yang dulu cuma garis putih di kejauhan, ia tahu restu itu akhirnya sampai.
Ia menyentuh lencana sayap di dadanya. Dingin, padat, nyata.
Bukan lagi mimpi anak nelayan di atas atap. Sekarang, ia penerbang.