Selama beberapa bulan, hidup Sekar berjalan dalam ritme yang nyaris terasa damai. Penerbangan demi penerbangan. Jam terbang yang terus bertambah mendekati syarat upgrade kapten. Kunjungan rutin ke Ibu di Pantai Cemara setiap ada jeda. Untuk seseorang yang memulai dari rumah panggung kayu dan sandal jepit, hidupnya nyaris sempurna.
Justru karena itulah ia seharusnya curiga.
Pertanda pertama datang halus. Seorang petugas administrasi menelepon, menanyakan ulang detail penerbangan darurat lamanya—penerbangan dengan kegagalan sistem ganda yang membuatnya jadi sorotan. Pertanyaan-pertanyaan yang aneh. Bukan soal bagaimana ia menyelamatkan pesawat, tapi soal apakah ada prosedur yang ia lewati. Apakah keputusannya "terburu-buru". Apakah ia "melampaui kewenangan first officer".
Sekar menjawab dengan tenang, tapi sesuatu di tengkuknya berdiri.
Pertanda kedua datang dari Rangga. Mereka bertemu di lounge kru, dan wajah Rangga keras. Ia menarik Sekar ke sudut yang sepi.
"Sekar, kamu harus hati-hati," katanya pelan, mata mengawasi sekeliling. "Aku denger dari bapakku. Ada orang yang lagi ngumpulin bahan buat ngejatuhin kamu."
Dada Sekar mendingin. "Siapa?"
Rangga menyebut sebuah nama, lalu beberapa nama lain. Sekar mengenali semuanya. Mereka adalah sisa-sisa dari jaringan yang dulu tersangkut dalam skandal keselamatan—orang-orang yang seharusnya tumbang ketika ia, Dian, dan Rangga membongkar pelanggaran perawatan bertahun-tahun lalu. Tapi korupsi dalam tubuh perusahaan besar tak pernah mati sekali tebas. Beberapa dari mereka selamat. Beberapa dipindah ke posisi yang lebih sunyi tapi tak kalah berbahaya. Dan kini, dengan sabar, mereka menunggu.
"Mereka nggak pernah maafin kamu," kata Rangga. "Kamu yang mulai semuanya. Kamu cadet ingusan yang nemuin angka yang nggak cocok di laporan perawatan, terus nolak diem. Karena kamu, karier mereka hancur. Sebagian masuk penjara. Sekarang yang tersisa pengin balas dendam, dan mereka pinter. Mereka nggak bakal nyerang kamu langsung. Mereka bakal pakai aturan. Mereka bakal pakai reputasi kamu sendiri buat ngejatuhin kamu."
"Penerbangan darurat itu," gumam Sekar, menghubungkan titik-titik. "Mereka mau bilang aku salah prosedur. Mereka mau ubah cerita pahlawan jadi cerita pilot ceroboh yang untung-untungan selamat."
"Tepat." Rangga mengangguk muram. "Kalau mereka berhasil buktiin kamu langgar prosedur dalam situasi kritis, lisensi kamu bisa dicabut. Dan begitu lisensi kamu kena, semua kesaksian kamu soal skandal lama jadi diragukan. Mereka bukan cuma mau jatuhin kamu, Sekar. Mereka mau hapus seluruh kasus lama lewat ngehancurin kredibilitas kamu."
Sekar berdiri diam, memproses. Dulu, di akademi, ia belajar bahwa bahaya terbesar di udara bukan selalu badai yang terlihat. Yang paling berbahaya adalah es yang menumpuk diam-diam di sayap, tak terasa, sampai pesawat tiba-tiba kehilangan daya angkat. Ini esnya. Tak terlihat, sabar, mematikan.
"Kenapa kamu kasih tahu aku?" tanya Sekar akhirnya. "Bapak kamu di pihak mana?"
Wajah Rangga mengeras dengan tekad yang dulu tak pernah Sekar lihat. "Bapakku udah milih pihak waktu dia bantu kita bongkar kasus itu. Dia bayar mahal buat itu—setengah relasinya di industri ini benci dia sekarang. Tapi dia bilang ke aku, satu hal yang nggak bisa dibeli balik kalau udah dijual adalah harga diri. Dan aku—" Rangga menatap Sekar lurus. "Aku nggak bakal diem lihat orang yang dulu aku jatuhin, terus berdiri lagi lebih kuat, dijatuhin sama orang-orang busuk. Aku udah pernah jadi orang yang ngejatuhin kamu, Sekar. Aku nggak mau jadi orang itu dua kali. Kali ini aku di pihak kamu."
Sekar menatap lawan lamanya, dan sesuatu yang hangat menahan dingin di dadanya. "Terima kasih, Rangga."
Malam itu Sekar tak bisa tidur. Ia menelepon Dian dan menceritakan semuanya. Dian terdiam lama di ujung telepon, lalu suaranya datang tegas: "Kita bongkar dulu satu kali. Kita bongkar lagi. Aku punya salinan dokumen lama. Aku simpan semua, Sekar. Aku nggak pernah buang."
Sekar memejamkan mata. Di luar jendela apartemennya, langit kota berkedip oleh lampu pesawat yang naik dan turun sepanjang malam, tak pernah berhenti. Ia teringat kalimat Bapak yang dulu menolak mimpinya: hidup ini keras, Nak. Dan teringat janjinya sendiri di atas makam: Sekar bakal terusin ini sampai jadi kapten.
Mereka pikir bisa menjatuhkannya dengan reputasinya sendiri. Mereka tidak tahu satu hal: Sekar Wulandari tidak punya rencana cadangan. Tidak pernah punya. Langit ini satu-satunya jalannya, dan ia akan membelanya sampai napas terakhir.
Bayang-bayang lama itu bergerak dalam gelap. Tapi kali ini, Sekar tidak sendiri menghadapinya.