Ruang sidang Komite Keselamatan Penerbangan itu dingin oleh pendingin udara yang berlebihan, tapi telapak tangan Sekar tetap berkeringat. Ia duduk di kursi pesakitan selama dua minggu terakhir, mendengar dirinya dituduh lalai, ceroboh, membahayakan ratusan nyawa. Hari ini, vonis dibacakan.
Ketua komite, seorang perempuan tua berseragam abu-abu, membuka map tebal di depannya. Di bangku penonton, Dian menggenggam tangan Sekar erat-erat. Di seberang, Rangga duduk tegak, dan di sampingnya, ayah Rangga—Pak Hendarto, petinggi maskapai yang dulu bermain di balik layar—kini hadir sebagai saksi pembela, bukan musuh.
Sekar masih ingat bagaimana semua ini dimulai. Sebuah insiden—pendaratan darurat akibat kegagalan sistem ganda yang menyelamatkan seratus delapan puluh nyawa—digali kembali dan diputarbalikkan. Mereka bilang ia menyimpang dari prosedur. Mereka bilang ia menyembunyikan kerusakan instrumen. Selama dua minggu, surat kabar memuat namanya di samping kata "kelalaian", dan setiap pagi ia bangun dengan beban di dada seberat batu karang. Tapi Sekar tahu kebenaran. Dan kebenaran, ia pelajari sejak kecil di tengah badai laut, pada akhirnya selalu mengapung ke permukaan.
"Setelah memeriksa seluruh rekaman kotak hitam, data perawatan, dan kesaksian," ketua komite membaca pelan, "komite menyimpulkan bahwa tuduhan terhadap Kapten First Officer Sekar Wulandari... tidak terbukti."
Napas Sekar tersangkut di tenggorokan. Di sampingnya, ia mendengar Dian menahan isak.
"Sebaliknya," lanjut ketua itu, mengangkat wajah dari kertas, "komite menemukan bahwa data perawatan pesawat telah dipalsukan secara sistematis. Komponen yang dilaporkan baru ternyata bekas pakai. Dan pihak yang memalsukannya... berusaha mengalihkan kesalahan kepada awak kokpit."
Di pojok ruangan, seorang lelaki berjas mahal menunduk dalam-dalam. Namanya Sukardi—direktur teknik yang selama bertahun-tahun menjadikan keselamatan sebagai angka di neraca. Dialah sisa terakhir dari jaringan yang dulu nyaris membungkam Sekar saat magang. Sekarang giliran jaringan itu yang dibungkam.
"Saudara Sukardi," kata ketua komite, "lisensi dan jabatan Anda dicabut. Berkas Anda diserahkan ke kejaksaan."
Tidak ada sorak. Hanya keheningan yang berat, seperti udara sebelum hujan reda. Sekar menatap meja kayu di depannya. Ia tidak merasa menang. Ia hanya merasa lega—lega yang lelah, lega yang sudah menanti terlalu lama.
Pak Hendarto menghampirinya setelah sidang bubar. Lelaki yang dulu memandangnya rendah, anak nelayan yang dianggap tak pantas mengganggu rencana putranya, kini menunduk sedikit.
"Maaf," kata Pak Hendarto. "Bertahun-tahun lalu, saya pikir langit ini milik orang-orang seperti saya. Anak saya nyaris jadi seperti saya. Kamu yang menyelamatkan dia dari itu."
Sekar tak tahu harus berkata apa. Ia hanya menjabat tangan lelaki itu—tangan yang dulu menandatangani perintah-perintah yang menjepitnya, kini gemetar oleh usia dan penyesalan.
Rangga berdiri di belakang ayahnya. Lelaki yang dulu mengejek sandal jepitnya di gedung serbaguna pemda, yang dulu mengancam membongkar catatan lengannya, kini hanya tersenyum tipis. "Kita selesaikan ini, Sekar," katanya. "Bersih. Untuk selamanya."
"Untuk selamanya," ulang Sekar pelan.
Dian merangkulnya dari samping, tubuhnya gemetar. "Aku tahu kamu nggak bersalah," bisik Dian. "Dari awal. Tapi melihat mereka mengakuinya... rasanya beda, ya."
Sekar mengangguk, tak sanggup bicara. Dua minggu ketegangan terurai sekaligus, dan lututnya terasa lemas. Ia harus berpegangan pada lengan kursi untuk tetap berdiri.
Malamnya, di apartemen kecil dekat bandara, Sekar membuka jendela. Lampu landasan berkelip jauh di sana, garis-garis biru dan putih menggambar peta langit di permukaan bumi. Ia teringat atap rumah panggung di Pantai Cemara, tempat seorang gadis tujuh belas tahun bersumpah suatu hari akan berada di atas sana.
Gadis itu sudah lama berada di atas sana. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya sejak skandal itu meledak, ia merasa langitnya benar-benar miliknya lagi—bukan medan pertempuran, bukan tempat ia harus terus-menerus membuktikan bahwa ia berhak ada.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Dian: *Sudah lihat berita? Headline-nya: "First Officer yang Menolak Tunduk Dibersihkan dari Tuduhan." Kamu pahlawan, Sekar.*
Sekar tersenyum dan mengetik balasan: *Bukan pahlawan. Cuma nggak mau bohong.*
Ia menutup ponsel, menatap landasan sekali lagi. Besok ada penerbangan pagi. Besok ada langit lagi. Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Sekar tidur tanpa mimpi buruk.
Tapi ada satu surat yang belum ia buka—amplop resmi berlogo sayap emas ADN, dibawa kurir sore tadi, masih tergeletak di meja. Ia terlalu lelah untuk membacanya malam itu. Ia tidak tahu bahwa di dalam amplop itu, masa depannya sudah menunggu untuk dimulai.