Firman melangkah gontai seperti biasa. Menghampiri bocah kecil yang lagi-lagi bersandar sembari menangis di balik pintu kamar lantai dua rumah megah keluarga Wijaya.
"Dia mengambil pita rambutku, Pa. Lalu melemparnya ke dalam kolam ikan. Safira mau pulang sekarang." Gadis kecil bermata indah itu akhirnya menangis untuk kesekian kalinya dalam kurun waktu dua hari.
"Tunggu acaranya selesai, kita akan pulang. Hhmm? Sudah jangan menangis, Safi. Papa akan memarahi Davian jika sekali lagi dia mengganggumu."
Safira menunjukkan tulisan tangannya di dinding, berisikan semua masalah yang ditimbulkan karena kenakalan Davian. Anak berusia enam tahun itu bahkan menuliskan dengan sangat terperinci, waktu dan tempat kejadian.
Mulai dari Davian menggunting rambut boneka barbie miliknya, sampai menarik pita rambut Safira.
Safira adalah anak kandung Firman dari pernikahannya terdahulu, sedangkan Davian merupakan keponakan dari istrinya yang sekarang.
Davian adalah cucu kesayangan keluarga Wijaya, sehingga semua orang memanjakannya. Hidupnya penuh limpahan materi dan juga kasih sayang.
Davian mengganggu Safira bukan karena membencinya. Davian hanya suka melihat Safira menangis karenanya.
Safira memiliki wajah serta hati selembut ibunya, namun sensitif seperti ayahnya. Dia juga sangat mudah sekali menangis.
"Hei ... sapi. Moooo ...." Davian lagi-lagi mengganggu Safira saat gadis cantik itu bermain-main di taman, mengejar kupu-kupu.
"Aku tidak mau berteman denganmu."
"Oke. Kalau begitu aku akan membuang sepatumu ke tempat sampah."
Davian bergegas mengambil sepatu Safira dan membuka penutup bak sampah.
"Papa!!" Firman dan David menghambur bersamaan menghampiri anak-anak mereka.
"David, anakmu selalu saja mengganggu anakku," ucap Firman dengan kesal.
"Anakmu sangat cengeng, Firman. Lihat saja, anakku tidak melakukan apa-apa tapi dia sudah menangis, untung saja wajahnya mirip Resti. Kalau tidak ...." David membela anak lelakinya.
"Apa?" Firman juga merasa kesal dengan wajah Davian yang sangat mirip ayahnya.
Firman dan David menggendong anak mereka masing-masing sambil menahan amarah. Sebagai seorang ayah, tidak ada yang pernah rela jika anak-anaknya dicela oleh siapapun meskipun kenyataan berkata yang sebenarnya.
"Davian, kamu jangan pernah menyukai perempuan cengeng dan lemah seperti Safira." David bergumam sambil menjauh.
"Safira, kamu jangan sekali-kali mempunyai teman dekat seperti Davian. Dia nakal sekali dan tidak punya sopan santun. Jika Papanya lengah, akan Papa jewer telinganya." Firman juga menenangkan putrinya.
Kata-kata dua orang Ayah itu terasa seperti sebuah kutukan bagi anak-anaknya. Hingga bertahun kemudian, mereka tak pernah lagi bertemu. Sampai-sampai kutukan itu menjadi kenyataan.
Iya, kutukan yang justru terjadi sebaliknya.
Safira bergerak sangat malas saat mendengar ketukan pintu. Hawa dingin dan rintik hujan membuat tubuhnya masih nyaman menggeliat di bawah selimut nyaman di kamarnya.
"Fi, Papa kamu sudah datang tuh," ucap Resti dari arah luar.
Kebetulan saat itu memasuki liburan sekolah, yang artinya Safira harus menginap di rumah ayah kandungnya. Gadis berusia enam belas tahun itu menjadi korban perpisahan kedua orang tuanya.
Berjuang menyeimbangkan waktu dan kasih sayang agar tidak terjadi kesenjangan di antara kedua orang tua kandungnya yang masing-masing sudah memiliki keluarga.
"Papa? Ini masih pagi, Ma. Ya ampun."
Safira beranjak dari tempat tidurnya. Menguncir sembarang rambut hitam panjang miliknya.
"Ma, serius papa sudah datang?"
"Sudah." Firman muncul dari arah belakang mantan istrinya dengan wajah berbinar-binar. Sudah tujuh belas berlalu sejak mereka berpisah namun sesungguhnya tidak ada yang benar-benar mampu menggantikan Resti di hati Firman, bahkan istrinya saat ini.
Hatinya selalu memiliki debaran yang sama setiap kali menatap wanita cantik di hadapannya.
"Papa, ah! Ini masih pagi sekali, kita mau ke mana pagi-pagi begini?" Safira mengucak matanya.
"Kita mau jalan-jalan, sama Selin dan Rafi. Mommy nggak ikut. Mama mau ikut?" Firman menoleh cepat ke arah Resti yang membuat wanita itu mendadak terkejut dan gugup.
Sejak berpisah, Resti dan Firman memang sangat jarang sekali bicara berdua selain urusan anak-anak. Apalagi keduanya memiliki pasangan yang sama-sama posesif. Alfin yang selalu memberi batas kebebasan, serta Sandrina yang selalu mengontrol keberadaan suaminya melalui panggilan video call setiap saat.
"Mama mau ikut, yuk sekali-kali. Mumpung Daddy lagi jagain Oma." Safira mengiba mengharap agar Resti bersedia untuk ikut bersamanya.
"Adik-adikmu bagaimana, Fi. Sudah, kalian saja ya. Nanti belikan Mama oleh-oleh."
Rona kekecewaan bukan hanya tampak di wajah Safira, tapi juga di wajah Firman. Mereka berharap bisa pergi bersama-sama pagi itu untuk menikmati liburan keluarga di Ancol. Firman dan keluarga barunya sedang berkunjung ke Jakarta karena ada acara ulang tahun salah satu keponakan mereka dua hari lagi.
"Pah, Safira nggak mau ikut ke rumah keluarga Mommy."
"Safira, please. Hanya kamu satu-satunya yang bisa Papa ajak bicara di sana, ya?"
***
Keluarga Wijaya akan menggelar sebuah hajatan besar perayaan ulang tahun pernikahan ke lima puluh yang bertepatan dengan hari lahir beberapa cucunya. Acara yang sedianya akan diselenggarakan secara meriah itu bahkan menghabiskan dana milyaran rupiah.
Sejumlah penyanyi lawas bergelar Diva sudah diundang secara khusus untuk menghibur tamu-tamu mereka bahkan doorprize yang disiapkan adalah sebuah mobil mewah keluaran terbaru agar acara semakin semarak.
"Davian, adik kamu mana?" tanya Nyoya Wijaya pada cucu kesayangannya yang berusia enam belas tahun,. Namanya Davian Christian Wijaya. Remaja yang memiliki segala impian anak-anak seusianya. Wajah yang sangat tampan, kekayaan dan juga kecerdasan di atas rata-rata.
Davian tumbuh bergelimang kemewahan karena kedua Kakek dan Neneknya begitu menuruti apapun yang menjadi keinginannya. Mendapatkan segala fasilitas premium dan liburan keliling dunia kapanpun dia inginkan, bahkan di ulang tahunnya yang ke sepuluh , Davian mendapatkan super car pertamanya.
"Dragon? Entahlah, Oma. Tadi dia mencari cacing dengan Mang Adul."
"Mencari cacing? Untuk apa? Ada-ada saja anaknya David ini."
Davian hanya mengangkat bahu dan berlalu menuju ke kamarnya di lantai tiga menggunakan lift. Beberapa pekerja yang usianya masih muda sering kali gagal fokus saat berpapasan dengan sosok Davian yang memiliki postur begitu ideal, dengan tinggi badan seratus delapan puluh lima dan berat tujuh puluh kilo, nyaris sempurna tanpa cela di mata kaum hawa.
Pemuda itu juga sangat menggemari olah raga apalagi berenang. Membentuk otot-otot tubuh begitu indah dan kulit sangat bersih, sangat mirip dengan David. Orang tuanya.
"Eh, Mas Davian. Maaf, ini handuknya mau diganti?" tanya seorang pekerja sambil memungut handuk yang tergeletak di lantai kamarnya.
"Diganti." Davian menarik lepas ke atas t-shirt yang membungkus tubuh kekarnya. Membuat pekerja itu meneguk salivanya sendiri saat melihat Davian dalam keadaan shirtless.
"Ba-baik, Mas."
"Oke."
Davian mengantarkan pekerja itu sampai keluar kamar, kemudian mengunci diri di dalam. Pemuda tampan itu meraih gawai di atas ranjang dan membanting diri sambil menatap layarnya. Memeriksa satu persatu pesan masuk dari teman-teman dan juga orang tuanya.
[Gue kangen, Dav. Lo kapan balik sih? Lama banget dah ke Nepal. Lo jadi warga sono aja kagak usah balik-balik] Pesan dari salah satu gadis yang sedang dekat dengannya, namanya Gia.
[Lo kapan pulang sih, Davian Sayang? Gue bisa mati kalau begini. Kangen banget tau nggak sih? ] Pesan dari gadis lainnya, bernama Sheila. Pemandu sorak yang memiliki body aduhai dan popular di sekolahnya.
Davian memang begitu digilai oleh gadis-gadis di lingkungannya, bahkan dia pernah beberapa kali diajak untuk menjadi bintang iklan maupun pemain film. Pemuda itu sudah memiliki segalanya yang dibutuhkan dan dia merasa hidupnya begitu monoton.
Jemarinya menggeser-geser layar ponsel melihat-lihat media sosial miliknya, orang tua, kemudian saudara-saudaranya sambil sesekali berguling. Tatapannya terkunci pada sosok gadis kecil berwajah lembut dengan kedua mata sangat indah.
"Hai anak cengeng, kau apa kabar?" Davian mengusap foto di media sosial milik Ibunya.
❤❤❤