Senja mulai merayap di langit kota kecil itu, mewarnai langit dengan semburat jingga yang pudar. Tata duduk di atas pasir pantai, membiarkan ombak yang perlahan mengalir membasahi ujung sepatunya. Laut selalu menjadi tempat pelariannya, terutama saat dunia terasa terlalu sempit untuk menampung semua emosinya. Hari ini bukan pengecualian.
Di tangannya, ia menggenggam sebuah batu kecil yang diambilnya tadi. Batu itu terasa dingin, kasar, namun entah mengapa memberikan sedikit rasa nyaman di tengah gelombang pikirannya yang kacau. Dengan kemarahan yang tak tertahankan, ia melempar batu itu ke laut, menyaksikan riak kecil yang muncul sejenak sebelum tenggelam dalam air.
“Kenapa aku selalu salah?” gumamnya lirih, meski ia tahu tak ada jawaban yang akan datang.
Di rumah, Tata baru saja bertengkar dengan ibunya, sesuatu yang sudah menjadi rutinitas yang melelahkan. Ibunya, wanita tegas dengan pandangan hidup yang lurus, tak pernah puas dengan apa pun yang dilakukan Tata. Kali ini, masalahnya adalah nilai rapor Tata yang dianggapnya memalukan.
“Nilai seperti ini mau jadi apa kamu nanti, Taa? Hidup itu keras! Kalau kamu begini terus, masa depanmu akan hancur!” kata ibunya tadi dengan nada tinggi, suaranya menggema di ruang makan.
Tata mencoba membela diri, mengatakan bahwa ia sudah berusaha, tetapi bagi ibunya, itu hanya alasan klise. Ayah Tata, seperti biasa, hanya duduk diam di sudut meja, memainkan gelas kopinya tanpa berani ikut campur.
“Ayah, bilang sesuatu dong! Aku nggak selalu salah, kan?” protes Tata, berharap dukungan. Tapi ayahnya hanya menghela napas panjang. “Sudah, Taa. Dengarkan ibumu. Dia cuma ingin yang terbaik buat kamu.”
Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk lebih dalam. Yang terbaik buat kamu. Tata muak mendengar frasa itu. Bagaimana bisa sesuatu yang terbaik malah membuatnya merasa seperti ini, seperti kapal kecil yang dihantam badai tanpa arah?
Pantai menjadi saksi bagaimana Tata berusaha meredakan emosinya. Angin laut yang dingin meniup rambut panjangnya yang dibiarkan terurai. Laut ini, pikir Tata, adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa dihakimi. Di sinilah ia bisa menangis, marah, atau sekadar diam tanpa takut dianggap lemah.
Ia memejamkan mata, mencoba mengingat masa kecilnya. Dulu, ia dan ayahnya sering datang ke pantai ini untuk bermain layang-layang. Itu adalah masa-masa yang indah, saat semuanya terasa sederhana. Namun, seiring bertambahnya usia, kenangan itu semakin memudar, tergantikan oleh pertengkaran, tekanan, dan tuntutan.
“Kenapa semuanya harus berubah?” tanyanya pada angin.
Tata meraih tas kecilnya dan mengeluarkan buku catatan lusuh yang selalu ia bawa ke mana-mana. Buku itu penuh dengan coretan, puisi, dan gambar-gambar kecil yang mencerminkan suasana hatinya. Ia membuka halaman yang kosong dan mulai menulis:
"Laut ini tahu semua rahasiaku. Ia mendengar tangisku, menyimpan amarahku, dan tak pernah menghakimi. Laut ini seperti diriku. Dalam, penuh rahasia, dan sulit dipahami."
Tata menutup buku itu dengan cepat, seolah takut angin akan membacanya. Ia menatap langit yang mulai gelap, merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Sesuatu yang belum bisa ia pahami, tetapi ia tahu itu penting.
Di sekolah, Tata juga merasa seperti ikan yang berenang melawan arus. Ia bukan siswa yang populer, tapi ia cukup dikenal karena keberaniannya berbicara tanpa pikir panjang. Guru-guru sering memarahinya karena sikapnya yang dianggap tidak sopan, sementara teman-temannya menganggapnya aneh.
Hanya Nia, sahabatnya sejak kecil, yang tetap bertahan di sisinya. Namun, belakangan ini, hubungan mereka mulai renggang. Nia lebih sering bersama kelompok teman barunya yang lebih "berkelas," meninggalkan Tata yang merasa dirinya semakin tidak penting.
“Tata, kamu nggak capek hidup kayak gini terus?” tanya Nia suatu hari, nada suaranya terdengar seperti campuran kekhawatiran dan kritik.
“Apa maksudmu?” Tata membalas dengan tajam.
“Ya, semua ini. Kamu terlalu keras kepala, terlalu banyak marah. Mungkin kalau kamu belajar sedikit lebih... fleksibel, semuanya akan lebih mudah.”
Tata tertawa sinis. “Mudah buat siapa, Nia? Buat aku atau buat mereka yang selalu mengatur hidupku?”
Setelah itu, Nia hanya diam, dan keheningan itu membuat Tata merasa semakin jauh darinya.
Saat malam tiba, Tata akhirnya memutuskan untuk pulang. Rumahnya sunyi, hanya terdengar suara televisi dari ruang keluarga. Ayahnya tertidur di sofa, sementara ibunya masih di dapur, mencuci piring dengan gerakan cepat yang menunjukkan kemarahannya belum reda.
Tata masuk ke kamarnya dan menutup pintu pelan. Ia menatap dirinya di cermin. Mata cokelatnya terlihat lelah, rambutnya berantakan, dan ekspresi wajahnya penuh dengan kebencian, bukan hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada dirinya sendiri.
“Aku harus keluar dari ini semua,” bisiknya pada bayangan di cermin.
Tata mengambil buku catatannya lagi dan menulis sebuah janji pada dirinya sendiri:
"Aku akan menemukan jalanku, bahkan kalau itu berarti harus melawan semua orang. Aku akan membuktikan bahwa aku lebih dari apa yang mereka pikirkan."
Tata duduk diam di kamarnya, menatap ke luar jendela yang terbuka lebar. Malam semakin larut, dan suara angin yang menderu membuatnya semakin merasa terasing. Ia bisa mendengar suara detakan jam yang berdetak pelan, setiap detiknya seperti mengingatkannya pada waktu yang terus berjalan, meninggalkan dirinya dalam kebingungannya.
Ia mengambil buku catatannya lagi, membuka halaman-halaman kosong yang menunggu untuk diisi. Tata merasa seperti kehilangan arah, seolah dunia ini memaksanya untuk berjalan di jalan yang bukan miliknya. Tapi apakah ia punya pilihan? Apa yang bisa ia lakukan selain mengikuti arus yang telah ditentukan?
Di luar sana, ia mendengar langkah kaki ibunya yang menghampiri pintu kamarnya. Tata segera menutup buku catatannya dan merapikan posisi duduknya, mencoba terlihat lebih tenang. Pintu kamarnya terbuka perlahan, dan ibu Tata muncul di ambang pintu dengan wajah yang lelah, tetapi penuh dengan rasa sayang yang coba disembunyikan.
"Taa, boleh bicara sebentar?" suara ibu terdengar lembut, berbeda dari biasanya yang penuh dengan nada perintah.
Tata mengangguk pelan, tidak tahu harus berkata apa. Ibu masuk dan duduk di sampingnya, diam sejenak. Udara di antara mereka terasa tegang, seolah-olah ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
"Aku tahu, kamu merasa aku selalu menuntut terlalu banyak," kata ibu akhirnya, memecah keheningan yang canggung. "Tapi aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Aku ingin kamu bisa lebih dari sekadar cukup. Aku ingin kamu tahu betapa berharganya dirimu."
Taa merasa hatinya menghangat mendengar kata-kata itu. Ia tidak bisa mengungkapkan semua yang ia rasakan kemarahan, kekecewaan, kebingungannya dalam satu kalimat. Tapi mendengar ibunya berbicara dengan penuh ketulusan, hatinya sedikit tergerak. Mungkin ibunya memang tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk mendekatinya, tetapi niatnya selalu baik.
"Ibu... aku cuma merasa... aku selalu salah. Aku nggak pernah bisa memenuhi harapanmu," jawab Tata dengan suara pelan, hampir berbisik. "Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan supaya kamu bangga."
Ibunya menatap Tata dengan tatapan lembut. "Taaa, kamu nggak perlu merasa seperti itu. Kamu sudah cukup luar biasa dengan cara kamu sendiri. Kadang-kadang aku lupa kalau kamu bukan hanya anak yang aku inginkan, tapi juga orang yang punya mimpi dan perasaan sendiri. Maafkan aku kalau aku terlalu keras padamu."
Tata merasa seperti ada beban yang sedikit terangkat, meskipun masih banyak yang belum ia mengerti. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan air mata yang mulai menggenang. Ibu mengelus rambutnya, membiarkan waktu mengisi kekosongan yang ada di antara mereka.
“Kenapa kita tidak bisa saling mengerti lebih mudah?” Tata bertanya, meskipun ia tahu itu bukan pertanyaan yang mudah dijawab. "Kenapa aku merasa selalu sendiri?"
Ibu Tata menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Karena kita berdua sama-sama tidak sempurna. Tapi itu bukan alasan untuk tidak berusaha. Kita bisa mulai dengan saling mendengarkan, bukan hanya menuntut."
Tata hanya mengangguk pelan. Ada rasa lega yang mengalir di dalam dirinya, meski rasa bingung itu masih ada. Perlahan-lahan, ia mulai merasa bahwa ada sedikit harapan untuk hubungan mereka, yang selama ini terasa begitu tegang dan penuh perasaan terpendam.
Tata memandang keluar jendela lagi, merenungi kata-kata ibunya. Laut yang jauh di sana seolah-olah memberikan jawabannya bahwa ia memang tidak bisa mengendalikan segala hal, tetapi ia bisa memilih untuk mulai mendengarkan, untuk lebih memahami, bukan hanya berusaha bertahan.
Dengan langkah yang lebih tenang, Tata berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit. Malam itu terasa sedikit berbeda, seolah ada secercah cahaya yang mulai masuk ke dalam kegelapan hatinya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tetapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa sedikit lebih damai. Mungkin perjalanan menuju kedewasaan tidak harus selalu berakhir dengan kemenangan, tetapi dengan keberanian untuk menghadapi segala ketidakpastian.
Tata menutup matanya perlahan, membiarkan dirinya tenggelam dalam kedamaian yang baru saja ia temukan. Laut itu, yang selalu ada untuknya, kini terasa seperti rumah yang aman tempat di mana ia bisa kembali setelah berjuang melawan segala hal yang tidak bisa ia mengerti. Ia tahu perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi ia juga tahu bahwa ia harus memulainya sekarang, seperti ombak pertama yang memecah pantai, perlahan tetapi pasti.