Tata duduk di tepi tempat tidurnya, menatap kosong ke arah langit yang mulai memudar. Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Walaupun lampu kamar menyala, ia tetap merasa terperangkap dalam kegelapan yang seakan memeluknya. Jeritan dalam dirinya semakin kuat, namun ia tidak tahu kepada siapa harus mengarahkannya. Tak ada lagi ruang untuk suara itu terdengar, tak ada tempat bagi keluh kesahnya untuk bebas. Selama ini, ia hanya menyimpan semuanya dalam diam, berharap waktu akan menghilangkan rasa sakit itu begitu saja. Tapi waktu tak pernah memberi jawaban.
Setiap hari, ia berusaha tampil seperti segala sesuatunya baik-baik saja. Berbicara dengan teman-temannya, berusaha memenuhi harapan orang tua, berusaha menunjukkan kepada dunia bahwa ia bisa melakukannya—bahwa ia bisa menjadi anak yang sempurna, yang mampu menyelesaikan segala tantangan tanpa mengeluh. Namun, semakin ia berpura-pura baik-baik saja, semakin ia merasa kehilangan dirinya sendiri.
Tata menarik napas panjang, matanya terpejam sejenak. Ia tahu, di dalam dirinya, ada ketidakpuasan yang semakin membesar. Ada rasa hampa yang terus menggerogoti hati, seakan ia sedang mencari sesuatu yang tak pernah bisa ia temukan. Selama ini, semua yang ia lakukan baik di sekolah, di rumah, atau bahkan dalam pertemanannya semuanya terasa seperti sebuah pertunjukan. Ia bukan Tata yang asli. Ia hanya menjadi apa yang orang lain harapkan.
Ponselnya bergetar di atas meja. Tata membuka pesan dari Clara, sahabatnya yang selalu tahu ketika ada yang tidak beres.
“Tata, kita harus bicara. Aku merasa ada yang salah. Kamu tidak seperti biasanya.”
Tata menatap pesan itu dengan bingung. Bagaimana Clara bisa tahu? Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Ia bukan orang yang mudah mengungkapkan perasaan. Ia tidak ingin menunjukkan kelemahan di hadapan siapapun, apalagi kepada sahabatnya. Namun, entah mengapa, kata-kata Clara menggugah sesuatu dalam dirinya. Sejak lama, Tata tidak pernah membiarkan dirinya berbicara terbuka tentang perasaannya. Ia selalu merasa seperti ada beban yang harus dipikul seorang diri, tanpa bisa berbagi dengan orang lain.
Ia menatap layar ponselnya sejenak, kemudian mengetik balasan.
“Aku baik-baik saja, Clara. Hanya sedikit lelah, itu saja.”
Namun, setelah menekan kirim, ia merasa ada sesuatu yang salah dengan kata-katanya. Keletihan yang ia rasakan bukan hanya fisik, tetapi lebih kepada batinnya. Seiring berjalannya waktu, Tata merasa semakin jauh dari dirinya sendiri, semakin terjebak dalam ekspektasi yang datang dari luar. Ia merasa seperti sedang hidup untuk orang lain, untuk memenuhi harapan-harapan yang tak pernah ia pilih.
Di luar jendela, langit sudah mulai gelap. Angin malam berhembus pelan, tetapi suasana di dalam kamar terasa begitu berat. Tata menghela napas, mencoba mencari jawaban atas perasaannya yang tak pernah selesai. Ada ketegangan di dalam dirinya yang semakin menumpuk, namun tak pernah ada kata yang bisa mewakili semuanya.
Ibunya sering berkata bahwa Tata harus bisa lebih berusaha. Harus lebih fokus pada sekolah, harus lebih memperhatikan karier masa depannya. Tata tahu bahwa ibunya hanya ingin yang terbaik untuknya, tetapi kadang ia merasa seolah-olah ibunya tidak melihat siapa dirinya. Ia bukanlah anak yang selalu ingin berprestasi dengan cara yang orang lain harapkan. Tata ingin hidup dengan caranya sendiri, meskipun itu terasa sulit dan penuh dengan pertentangan.
Jeritan dalam dirinya semakin lama semakin sulit untuk ia tahan. Ia merasa terperangkap dalam kehidupan yang tidak pernah ia pilih. Semua pilihan yang datang padanya seolah-olah datang dari orang lain—dari ibunya, dari guru-gurunya, bahkan dari teman-temannya. Semua itu terasa seperti sebuah beban yang harus ia pikul sendiri. Tata merasa seperti robot, yang hanya menjalankan peran sesuai dengan yang diinginkan orang lain. Tetapi di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia tidak bisa terus seperti ini.
Satu-satunya tempat yang ia merasa sedikit bebas adalah saat ia menulis. Namun, menulis pun bukanlah solusi yang mudah. Kata-kata dalam pikirannya seringkali terlalu banyak, terlalu berantakan untuk dituliskan dengan baik. Ia ingin menulis tentang perasaan itu—tentang betapa lelahnya ia menjalani hidup seperti ini, tentang betapa ingin ia berteriak namun tidak tahu caranya. Tetapi setiap kali ia memulai, kata-kata itu seakan menghilang begitu saja.
Tata memutuskan untuk berjalan-jalan di luar rumah, mencoba menyegarkan pikiran. Ia membutuhkan waktu untuk sendiri, jauh dari segala tekanan. Langkahnya terasa berat, seperti membawa beban yang tak terlihat oleh orang lain. Semua yang ada di sekelilingnya tampak begitu jauh, begitu asing. Ia merasa seolah-olah hidupnya berjalan di jalur yang salah, tapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
Di taman yang sepi itu, Tata duduk di bangku, menatap langit malam yang penuh bintang. Keheningan mengelilinginya, tetapi hati Tata justru semakin gaduh. Ada perasaan terperangkap yang semakin kuat, seakan semua pilihan yang ia miliki hanya akan membawa kekecewaan. Ia ingin berteriak, namun mulutnya terasa terkunci. Ia ingin melarikan diri dari segala tekanan, tetapi tak tahu ke mana harus pergi.
“Tata, kita harus bicara,” kembali terlintas pesan dari Clara dalam benaknya. Tata tahu sahabatnya itu peduli, tapi ia merasa tidak siap untuk berbicara. Bahkan, ia tidak yakin kata-kata yang tepat untuk menjelaskan perasaan yang sedang ia alami.
Malam itu, Tata kembali ke rumah. Ia merasakan sesuatu yang berbeda, seolah-olah dirinya telah berubah. Sesuatu dalam dirinya merasa hilang, dan jeritan batin itu semakin menguat. Namun, ia tidak tahu kepada siapa ia bisa berteriak, atau apa yang bisa ia lakukan untuk mengubah perasaannya yang semakin hampa. Ia ingin berbicara, tetapi takut tidak ada yang mengerti.
Dengan langkah yang berat, Tata masuk ke kamarnya. Ia duduk di tempat tidur, memandang ponselnya yang bergetar lagi. Sebuah pesan baru masuk dari Clara.
“Tata, aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Jika kamu butuh bicara, aku di sini.”
Tata menatap pesan itu dengan mata yang basah. Ia ingin sekali berbicara, mengungkapkan semuanya, tetapi entah mengapa ia merasa takut. Takut jika ia mengungkapkan apa yang dirasakannya, maka semuanya akan semakin kacau. Takut jika ia membuka suara, maka dunia yang sudah ia bangun dengan penuh kepura-puraan akan runtuh begitu saja.
Tata memutuskan untuk tidur lebih awal malam itu. Namun, seperti biasa, tidur tak datang begitu saja. Matahari yang telah tenggelam seolah membawa semua kegelapan dunia ke dalam pikirannya. Semua yang seharusnya tenang malah terasa begitu kacau. Pikirannya berputar-putar tanpa henti, merangkai memori yang terus kembali mengganggunya. Perasaan hampa itu tidak pernah benar-benar pergi, seakan tetap menggantung di udara, tak terjangkau oleh kata-kata atau alasan apapun.
Ponselnya bergetar lagi, kali ini dari Clara.
“Tata, aku khawatir. Aku tahu kamu tidak sedang baik-baik saja. Jangan biarkan dirimu tenggelam dalam kesendirian itu. Aku di sini, kamu tidak perlu menanggung semuanya sendiri.”
Tata menatap pesan itu dalam diam. Ada sebuah ketulusan dalam kata-kata Clara yang terasa menohok jauh di dalam hati. Ia ingin sekali memberitahu Clara semua yang ada dalam pikirannya. Ia ingin menceritakan betapa beratnya perasaan itu, betapa ia merasa seperti hidup dalam dunia yang tak pernah ia pilih. Namun, kata-kata itu masih terhalang di tenggorokannya. Seperti ada sesuatu yang menghalangi dirinya untuk berbicara, seperti ada ketakutan yang terlalu dalam untuk ia hadapi.
Ia menggenggam ponselnya dengan erat, merasakan dingin logam itu menembus telapak tangannya. Di saat itu, rasa rindu terhadap kedamaian yang hilang begitu mendalam. Rindu terhadap hidup yang sederhana dan tanpa beban. Rindu terhadap diri yang bisa tertawa tanpa merasa bersalah. Tetapi, semua itu terasa semakin jauh, seolah-olah hanyut oleh arus yang begitu kuat.
Tata berjalan ke jendela kamar, memandang ke luar dengan mata yang kosong. Pikirannya mulai melayang, mengingat masa-masa kecilnya yang penuh kebahagiaan. Waktu itu, ia tidak pernah memikirkan hal-hal rumit. Ia hanya bermain, tertawa, dan menikmati setiap detik kehidupannya. Namun, seiring bertambahnya usia, hidupnya mulai berubah. Semua itu datang dengan harapan-harapan yang harus dipenuhi. Dan sekarang, ia merasa terjebak dalam ekspektasi yang tak ada habisnya.
Pikiran-pikirannya terus berputar, menanyakan pada diri sendiri mengapa semua ini harus terjadi. Mengapa hidup harus dipenuhi dengan pilihan-pilihan yang tak pernah ia inginkan? Mengapa ia harus menjalani hidup seperti ini, penuh dengan tekanan dan ketidakpastian? Tata merasa seperti sebuah perahu yang tak pernah tahu ke mana arah angin membawanya. Ia hanya bisa mengikuti arus, tanpa tahu apakah itu akan membawa ke tempat yang baik atau justru semakin tenggelam.
Di tengah kebingungannya, suara ponselnya berbunyi lagi, kali ini lebih keras. Clara kembali mengirim pesan.
“Tata, aku tahu kamu ingin sendiri, tapi aku harap kamu ingat, kamu tidak sendirian. Aku di sini. Kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian. Kita akan cari cara bersama-sama. Jangan biarkan dirimu tenggelam dalam kesepian ini.”
Meskipun ia ingin menutup diri, ada sesuatu yang melelehkan dinding-dinding yang selama ini ia bangun. Clara tidak hanya peduli dengan kata-kata, tetapi juga dengan perasaannya. Clara tahu bahwa Tata sedang berjuang dengan sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan, dan itu memberi Tata kekuatan untuk sedikit membuka pintu hatinya.
Dengan gemetar, Tata mengetik balasan pesan kepada Clara.
“Aku… aku merasa lelah, Clara. Rasanya seperti aku sedang terjebak dalam dunia yang tidak aku pilih. Semua harapan orang tua, teman-teman, semua pilihan yang datang padaku… semuanya terasa seperti beban. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.”
Tata terdiam setelah mengirimkan pesan itu. Sebuah kelegaan yang aneh datang, meskipun perasaan berat itu masih ada. Setidaknya, ia telah mengakui perasaannya sendiri, bahkan jika hanya dalam kata-kata tertulis.
Beberapa menit kemudian, pesan balasan dari Clara datang.
“Tata, aku mengerti. Aku benar-benar mengerti. Tapi kamu harus tahu, kamu tidak sendiri. Aku di sini untukmu. Kita bisa melewati ini bersama. Jangan biarkan dirimu terperangkap dalam kesendirian itu. Aku akan selalu ada untuk mendengarkanmu.”
Pesan itu memberi sedikit kenyamanan di hati Tata. Meskipun masalah yang ia hadapi tak akan langsung selesai dengan kata-kata, namun dukungan Clara seperti sebuah pelita kecil di tengah kegelapan yang terus mengelilinginya. Namun, meskipun Clara menyatakan dukungannya, Tata merasa seperti ada jarak yang tak bisa dihilangkan. Clara, meskipun peduli, tidak pernah bisa sepenuhnya berada di sana untuknya. Sahabatnya itu punya hidupnya sendiri, punya teman-temannya yang lain, dan Tata selalu merasa seperti bayang-bayang yang terus mengikuti. Clara, meskipun baik dan perhatian, tidak pernah berada di jalur yang sama dengan Tata. Ada batasan yang selalu ada antara mereka, batasan yang sulit untuk diabaikan.
Tata menghapus air mata yang menetes, mencoba menenangkan diri. Mungkin inilah saatnya untuk mencoba lebih terbuka. Mungkin inilah saatnya untuk memberi tahu orang-orang yang peduli tentang perasaannya yang sebenarnya. Ia tidak bisa terus menahan semuanya sendirian. Clara sudah memberinya sebuah pintu untuk keluar dari kegelapan itu, dan kini Tata mulai berpikir bahwa mungkin, hanya mungkin, ia bisa menemukan sedikit cahaya di ujung jalan yang gelap ini.
Saat itu, Tata merasa sedikit lebih ringan. Ponselnya masih di tangannya, dan meskipun ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, setidaknya ia tahu bahwa ia tidak perlu lagi menghadapi semuanya dalam diam.
Namun satu hal yang itu tak bisa lepas bagi Tata,meskipun Clara peduli dan selalu berusaha ada untuknya, ada perasaan yang tak terhindarkan bahwa ia tetap akan berjalan sendiri dalam beberapa bagian dari perjalanannya. Dan itu, entah bagaimana, membuat semuanya terasa lebih nyata dan sulit. Tata juga tahu bahwa perjalanannya baru saja dimulai. Jeritan dalam dirinya belum selesai bahkan jeritan dalam dirinya semakin kuat, ia tidak bisa terus membiarkannya terpendam. Dan ia harus belajar untuk menghadapi itu, untuk berbicara tentangnya, dan untuk menerima kenyataan bahwa tidak semua hal dalam hidup bisa ia kendalikan. Tetapi setidaknya, sekarang ia tidak lagi merasa sendirian. Ia tidak lagi tenggelam dalam diamnya sendiri.