PEMBUNUHAN MISTERIUS
Mayat itu ditemukan di Malqata, situs arkeologi di ujung selatan pegunungan Theban, dulu merupakan tempat berdirinya istana Firaun Amenhotep III. Kini tempat itu merupakan area terpencil berisi reruntuhan yang tertiup badai pasir dan hanya dikunjungi para pecinta mesir paling dedikatif. mobil polisi Daewoo yang berdebu telah menunggu Khalifa di luar kantor. Setelah menitipkan putranya pada Ginger, yang berjanji akan mengantarkannya kerumah dengan selamat, ia segera duduk di kursi penumpang dan mobil pun melesat cepat. Tangisan Ali yang memprotesnya terdengar menggema di belakang mereka.
“Aku tak mau pulang, Yah! Aku ingin melihat mayat!”
Perlu waktu dua puluh menit untuk mencapai tempat kejadian. Sang sopir polisi, seorang laki-laki muda dengan pipi berbintik-bintik dan barisan gigi tidak rata, menancapkan kakinya pada pedal gas, melintasi jalan di perbukitan menuju dataran Nil dan kemudian berbelok ke selatan di sepanjang tepi pegunungan.
Khalifa memandang ke luar jendela ketika melewati kebun gula tebu dan molochia, sembari mengisap rokok Cleopatra dan setengah mendengarkan laporan berita pada stereo mobil tentang k*******n yang semakin meningkat antara Israel dan Palestina bom bunuh diri lagi, serangan balasan lagi, semakin banyak yang mati dan sengsara.
“Ini akan memicu terjadinya perang,” kata sopir.
“Memang sudah perang,” desah Khalifa, seraya menarik isapan terakhir pada rokoknya dan menghembuskan melalui jendela.
“Sudah berlangsung selama 50 tahun terakhir.” Sopir mengambil bungkusan permen karet dari dalam laci dasbor, menyelipkan dua potong ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan semangat.
“Menurut Anda perdamaian masih bisa terjadi?”
“Tidak kalau keadaannya seperti sekarang. hati-hati, ada pedati!” Sopir sedikit membelokkan kemudi mobilnya untuk menghindari pedati yang ditarik seekor keledai, yang mengangkut tebu gula hasil panen, dan segera kembali ke jalur di depan pedati itu pada saat yang tepat sehingga terhindar dari tabrakan dengan sebuah kereta turis.
“Allah melindungiku,” gumam detektif itu, sembari memegang dasbor. “Allah maha Pengampun.” Mereka melewati Dar al-Bahri, Ramesseum dan reruntuhan kuil penyimpanan mayat merenptah yang bertebaran, sebelum akhirnya mencapai titik yang membelah jalan menjadi bercabang, yang satu membelok ke arah timur menuju sungai Nil dan yang lain ke arah barat menuju desa kuno para pekerja di Dar Al-madinah dan Lembah Para Ratu. mereka terus berkendara melintasi aspal halus ke jalur berdebu melewati kuil besar di Medinet habu lalu keluar ke arah padang pasir yang bergelombang, permukaannya tertutup s****h dan semak tanaman kamel berduri.
Mereka terus melaju sejauh beberapa kilometer, menikung dan berguncang, kadang-kadang melewati puing-puing dinding berbatu bata lumpur peninggalan zaman purba, yang berwarna cokelat tak berbentuk seperti cokelat meleleh, sebelum akhirnya bertemu empat mobil polisi dan ambulans yang diparkir dekat tiang telepon berkarat, serta mobil kelima, mercedes biru berdebu, yang agak terpisah. mereka berhenti dan Khalifa keluar dari mobil.
“Aku tidak habis pikir kenapa kau tidak memiliki telepon genggam saja,” gerutu muhammad Sariya, deputi Khalifa, sambal memisahkan diri dari kelompok paramedis dan berjalan untuk memberi salam. “Perlu waktu satu jam untuk menemukanmu.”
“Aku tadi sedang bersenang-senang, mengunjungi dua dari sekian makam yang menarik di Wadi Biban al-muluk,” balas Khalifa. “Ini salah satu alasan mengapa aku tak memilikinya. Selain itu, telepon genggam juga menyebabkan kanker.” Ia menarik sebatang rokok dan menyulutnya.
“Jadi, apa yang sudah kita temukan?”
“Mayat,” katanya. “Laki-laki kulit putih, namanya Jansen. Piet Jansen.” Sariya merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan tas plastik dengan dompet kulit di dalamnya, lalu menyodorkannya pada Khalifa.
“Berkebangsaan mesir,” katanya, “meskipun kau pasti tidak akan berpikiran begitu kalau melihat namanya. Punya hotel di Gezira, The Menna-Ra.”
“Di sisi danau? Ya, aku tahu itu.” Khalifa mengambil dompet dari dalam tas plastik dan mengeluarkan isinya, memerhatikan sebuah kartu identitas mesir. “Lahir 1925. Apakah kau yakin dia tidak mati karena memang sudah tua?”
“Tidak, jika keadaan tubuhnya seperti ini,” kata Sariya.
Sang detektif menarik keluar kartu kredit Banque misr dan beberapa lembar uang kertas senilai 20 pound mesir. Di dalam saku samping dompet ia menemukan kartu keanggotaan masyarakat Perkebunan mesir dan sehelai foto lusuh hitam-putih bergambar anjing Alsatin bertampang galak di baliknya. Pada bagian belakang foto tertulis dalam pensil yang sudah memudar, “Arminius, 1930”. Ia mengamati tulisan itu beberapa saat, merasa nama itu sedikit familiar namun tak dapat secara pasti mengungkap kan sebabnya. Kemudian ia meletakkannya kembali, memasukkan dompet itu ke dalam tas plastik dan mengembalikannya pada sang deputi.
“Kau sudah mengabari keluarga terdekatnya?”
“Tidak ada kerabatnya yang masih hidup,” kata Sariya. “Kami sudah menghubungi hotel.”
“Dan mobil mercedes ini? miliknya?” Sariya mengangguk. “Kami menemukan sejumlah kunci ini di dalam sakunya.” Ia pun memberikan tas lain berisi serentengan kunci besar. “Sudah kami periksa. Tidak ada yang luar biasa di dalamnya.” Mereka berjalan menuju mercedes dan melihat melalui jendelanya. Bagian interiornya kulit penutup jok yang sudah pecah-pecah, dasbor yang dicat, botol wewangian yang tergantung dikaca spion dalam kosong, kecuali sebuah harian Al-Ahram edisi dua hari lalu pada kursi penumpang dan, di lantai kabin belakang, sebuah kamera Nikon yang tampak mahal harganya.
“Siapa yang menemukannya?” tanya Khalifa.
“Seorang perempuan Prancis. Dia sedang mengambil gambar diantara reruntuhan lalu secara tidak sengaja menemukan mayatnya.” Sariya membuka buku catatan dan menelitinya. “Claudia Champollion,” ia membaca nama yang ditulisnya, berusaha keras menyesuaikan mulutnya untuk mengucapkan huruf vokal yang asing. “Usia dua puluh sembilan tahun. Seorang arkeolog. Ia tinggal di sebelah sana.” Sariya menganggukkan kepalanya ke arah kompleks yang dipenuhi pepohonan di sepanjang jalur, dikelilingi dinding tinggi berbatu bata lumpur. Kantor french Archaeological Mission di Thebes.
“Tidak ada hubungan dengan Champollion yang itu, ’kan?” tanya Khalifa.
“hmm?”
“Jean francois Champollion.” Sariya terlihat bingung.
“Orang yang menemukan fieroglif,” katanya sembari berpura-pura jengkel. “Ya Tuhan, muhammad, tidakkah kau tahu apa pun tentang sejarah negeri ini?”
Sang deputi hanya mengangkat bahu. “Dia cukup cantik, aku tahu itu... besar, kau tahu....” Ia menggerakkan tangannya. “mantap!” Khalifa menggelengkan kepala dan mengisap rokoknya. “Kalau pekerjaan polisi semata persoalan menggoda perempuan, muhammad, kau pasti adalah kepala komisionernya sekarang juga. Ada pernyataan tertentu?” Sariya meneliti kembali buku catatannya untuk menandakan dia telah menuliskannya.
“Dan?”
“Tidak ada. Dia tidak melihat apa pun, tidak mendengar apa pun. hanya menemukan mayat ini, lalu kembali ke kompleksnya dan menelepon 122.” Khalifa menuntaskan Cleopatra-nya, membuang dan menginjaknya dengan bagian bawah sepatunya.
“Aku kira kita harus memeriksanya. Sudah mengabari Anwar?”
“Dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dokumennya terlebih dahulu, nanti akan menyusul. Katanya, pastikan saja tubuh korban ini tidak berpindah ke mana-mana.” Detektif itu mendesak dengan agak jengkel, karena terbiasa dengan selera humor Anwar, si ahli penyakit, yang tidak begitu baik. Keduanya kemudian memeriksa tempat kejadian, dengan kaki menginjak serpihan keramik yang mengotori permukaan padang pasir seperti remah biskuit. Jauh di sisi kanan mereka sejumlah anak-anak sedang duduk di atas tumpukan batu. Salah satu di antaranya memegang bola kaki, memerhatikan barisan polisi yang sedang menyisir padang pasir untuk mencari tanda; diatasnya matahari mulai terbenam di balik kubah biara Dar Al-muharab yang berbentuk telur.
Sinarnya berubah dari kuning pucat ke jingga madu yang kuat. Di sana-sini gundukan dinding berbata lumpur muncul dari dalam pasir, termakan cuaca dan menyedihkan, seperti makhluk purba yang muncul dari kedalaman padang pasir. Sebaliknya, tidak terlalu menandakan bahwa mereka sedang melintasi apa yang dahulunya merupakan salah satu bangunan megah di zaman mesir kuno.
“Sulit dipercaya kalau tempat ini dulunya istana, ya ‘kan?” kata Khalifa sambil memunguti serpihan keramik dengan jejak cat berwarna biru pucat di atasnya. “Pada masanya, Amenhotep III memerintah separuh dari dunia yang sudah diketahui. Dan kini....”
Ia membalikkan pecahan benda tanah di antara jari-jarinya, sambil menggosok pigmen dengan ibu jarinya. Sariya tidak mengatakan apa-apa, hanya membuat gerakan dengan tangannya, menandakan bahwa mereka harus belok ke kanan.
“Di sebelah sana,” katanya. “Di balik dinding itu.” Mereka menyeberangi teras jalan yang terbuat dari batu bata, retak dan pecah-pecah, melewati sesuatu yang dulunya pasti adalah pintu utama, kini hanya berupa dua tumpukan batu dengan anak tangga terbuat dari batu kapur di antara keduanya. Di sisi lain, seorang polisi berteduh di bawah bayangan pada kaki din ding.
Beberapa meter dari situ ada lembaran kanvas yang berat dengan gundukan berbentuk mayat di bawahnya. Sariya melangkah maju, menggenggam bagian sudut lembaran dan menyingkapnya.
“Allahu Akbar!” kata Khalifa. “Allah maha Kuasa!” Di depannya terbaring seorang tua, sangat tua.
Tubuhnya lemah dan kurus, kulitnya yang kering mengeriput bintik-bintik. Ia tertelungkup dengan satu tangan di bawah tubuhnya, tangan yang lain terkulai di sisinya. Laki-laki itu mengenakan setelan safari berwarna khaki, dan kepalanya agak botak dengan beberapa helai rambut kuning keputihan tertarik ke belakang dan agak memutar, seperti seorang perenang sedang menghirup udara sebelum menenggelamkan kembali wajahnya ke dalam air. Postur tak biasa yang disebabkan kaki palsu menancap dari bawah ke kantung mata kirinya. Darah kering memerciki pipi, bibir, dan dagunya; luka yang tidak begitu dalam menggores sisi kepalanya, tepat di atas telinga kanan.
Khalifa berdiri mengamati mayat itu, memerhatikan tangan dan pakaian yang berdebu, robekan kecil pada bagian lutut celananya, bagian luka di kepala itu dipenuhi pasir dan kerikil halus. Ia kemudian berjongkok dan secara perlahan mengorek dasar kaki palsu besi yang muncul dari pasir. Kaki itu sangat kokoh tertancap di dalam tanah.
“Dari tenda?” tanya Sariya, tidak pasti.
Khalifa menggelengkan kepala. “Bagian dari kisi-kisi penelitian. Tertinggal dari penggalian. Sudah ada selama bertahun-tahun kalau dilihat dari bendanya.” Ia berdiri tegak, mengibaskan tangannya pada lalat yang mulai mengerumuni tubuh itu dan berjalan beberapa meter ke titik tempat pasir menyeruak dan terganggu. Ia dapat menyimpulkan paling tidak ada tiga jejak berbeda, yang mungkin saja milik polisi yang telah menyisir area tersebut. mungkin juga tidak. Ia berjongkok lagi, mengambil sapu tangannya, memungut benda tajam yang terkena bercak darah di bagian atasnya.
“Sepertinya seseorang telah menghajar kepalanya,” kata Sariya.
“Kemudian, ia tersungkur ke depan mengenai kaki palsunya. Atau didorong.” Khalifa membalikkan batu di tangannya, sambil menatap percikan darah merah tua.
“Rasanya aneh ada penyerang meninggalkan dompet penuh uang di dalam sakunya,” katanya. “Dan kunci-kunci di dalam mobilnya.”
“Barangkali ia diganggu?” ungkap Sariya. “Atau barangkali perampokan bukanlah motifnya.” Sebelum Khalifa mengajukan pendapat lain, terdengar teriakan dari kejauhan di seberang area reruntuhan itu. Dua ratus meter dari situ seorang polisi berdiri di atas gundukan pasir, melambaikan tangan.
“Sepertinya ia menemukan sesuatu,” kata Sariya.
Khalifa menyimpan batu temuannya kemudian keduanya berjalan menghampiri polisi. Begitu mereka sampai, ia telah turun dari gundukan itu dan berdiri di sisi dinding yang panjang di sepanjang bagian yang lebih rendah yang, dalam plester lumpur, bergambar bunga lotus biru, mulai pudar tetapi masih tampak jelas terlihat.
Pada bagian pusat garis ada celah tempat bagian plester terlihat seperti baru dihapus. Tak jauh dari situ tergolek tas punggung kanvas, palu dan pahat, serta tongkat hitam dengan panel perak. Sariya berjongkok di samping tas punggung dan membalikkan penutupnya.
“Ckk, ckk, ckk,” ia berdecak sambil menyingkirkan batu dengan plester bercat di atasnya. “Seseorang telah menjadi anak nakal.” Ia menunjukkan pecahan bata itu pada Khalifa. Detektif itu sedang tidak melihatnya. malahan ia berjongkok, mengangkat tongkat, dan mengamati penalnya yang di sekelilingnya ada pola miniatur hiasan berbentuk mawar berselang-seling dengan simbol Ankh.
“Pak?” Khalifa tidak menjawab.
“Pak?” Sariya mengulang, lebih keras.
“Maaf, Muhammad.” Detektif itu mengesampingkan tongkat dan berbalik ke arah deputinya. “Apa yang kau dapatkan?” Sariya memberikan batubata itu. Khalifa memegangnya, mengamati hiasan pada permukaannya. Sementara itu tatapannya beralih ke tongkat, alis matanya mengernyit seolah sedang mencoba mengingat sesuatu.
“Apa?” tanya Sariya.
“Ah, tidak. Tidak. hanya kebetulan yang ganjil.” Ia menggelengkan kepala tak peduli dan tersenyum. Namun begitu, tetap saja ada tanda kegelisahan di dalam matanya, semacam ketidaknyamanan yang lebih dalam.
Agak jauh di sisi kanan, seekor gagak besar mendarat di dinding menatap mereka, mengepakkan sayapnya dan mengaok dengan keras.