Sudah berkali-kali kukatakan padanya untuk berhenti memperlakukanku semanis itu. Dan sudah tak terhitung entah berapa puluh kali kami mempertengkarkan hal itu. Dia tak pernah peduli pada segala penolakanku, semua kemarahanku.
"I just loving you, like the way you are. I don't care eventhough you said that you will never loved me. That's enough, when you stand by my side so, do not ever thought to leave me alone!"
Aku melihat sorot terluka milik wanita itu beberapa kali saat ia melintas di depan rumah kami. Berkali-kali ingatan tentang hal itu membuatku tak hentinya merasa bersalah. Bukan hanya pada wanita itu, tapi juga padanya serta padanya serta pada diriku sendiri.
Wanita itu mengingatkanku pada diriku sendiri yang sampai saat ini masih terperangkap dalam bayang-bayang pria lain yang kucintai bahkan sampai saat ini. Dan penyesalan, mungkin sesuatu yang lebih kompleks dari kata itu masih mengungkungku sampai detik ini karena aku takkan bisa lagi memiliki dirinya utuh hanya untuk diriku sendiri.
"Aku gak pengen liat wanita itu bersedih. Kumohon, tinggalkan aku dan pergilah pada wanita itu. Kamu harus tahu, dia pasti amat mencintaimu lebih besar dari rasa cintamu padaku," pernah kukatakan hal itu di suatu sore ketika wanita itu kembali melirik ke dalam rumah untuk ke sekian ratus kalinya, tak lupa dengan tatapan yang khas itu.
"Aku akan menyuruhnya untuk tidak melirik-lirik lagi ke rumah kita."
Bagaimana mungkin dia tahu bahwa tatapan wanita itulah yang membuatku sakit?
"Aku nggak bisa mengenyahkan bayangannya dari kepalaku. Bagaimana mungkin kamu dapat hidup dan terus mencintai perempuan seperti itu?" kataku di suatu malam ketika kegalauanku meningkat tajam tak bisa kukendalikan.
"Memang takkan pernah mudah melupakan seseorang yang benar-benar kau cintai. Kamu mengatakan hal yang benar untuk kali ini. Bagaimana mungkin aku akan sanggup mengenyahkan bayangmu dan berhenti mencintaimu? Itu adalah sesuatu yang mustahil!"
Bagaimana mungkin dia selalu memiliki jawaban-jawaban yang kalem seperti itu? Semua orang tahu bahwa dia adalah orang yang baik. Sangat baik malah, kalau tidak bisa dikatakan bodoh. Jadi aku memutuskan untuk mengatakan hal itu padanya.
"Tolong tanda tangani surat cerai ini."
Aku bahkan dapat merasakan perihnya sayatan luka yang kusayatkan di hatinya untuk mengucapkan kalimat itu. Saat itu tak ada kata apa pun yang keluar dari mulutnya untuk 5 menit pertama. Lalu tangannya perlahan bergerak memegang kertas itu.
Breettt, brett, bret, srek.
Surat itu hancur menjadi serpihan-serpihan kecil, sementara tatapan matanya yang semula berbinar berubah jadi sangat menusuk.
"Aku nggak bakalan pernah cerai sama kamu. Dan aku nggak akan pernah membiarkan kamu meninggalkanku apa pun yang terjadi!" ujarnya dengan nada rendah yang mendirikan bulu kudukku.
"Aku tak peduli! Kenapa kau tak pernah membiarkanku untuk pergi? Aku selalu berusaha buat nggak melukaimu saat meminta hal ini! Kenapa kamu selalu membuatku menjadi antagonis seperti ini?" teriakku putus asa.
"Akan lebih baik bagiku bila kamu melukai hatiku setiap hari dibandingkan permintaanmu untuk berpisah dariku. Lebih baik kamu bunuh aja aku sekarang!" balasnya dengan air yang menggenang di pelupuk matanya. Dia adalah orang yang baik, karena itulah hal ini menjadi jauh lebih sulit. Sekarang saja dadaku pun ikut terasa sesak karenanya.
"Lihat? Kamu bahkan bilang kalo kamu terluka. Untuk apa mempertahankan semua omong kosong ini kalau hal itu tak memberimu kebahagiaan sedikit pun? Kita—“
***
"Lihat? Kau bahkan bilang bahwa kau terluka. Untuk apa mempertahankan semua omong kosong ini,kalau itu tak memberimu kebahagiaan sedikitpun? Kita—"
Kalimatku terputus di tengah jalan. Bibirnya telah mengunci bibirku rapat-rapat untuk berhenti melukai hatinya lagi lewat perkataan-perkataanku yang tajam. Untuk sesaat, diriku terpana sebelum akhirnya kesadaran kembali membuatku mampu menggerakkan anggota tubuhku untuk melepaskan diri. Sayang, kedua lengannya ikut mengunci tubuhku.
Aku masih terus berontak, sampai kurasakan wajahku basah. Saat bibirnya perlahan-lahan menjauh, barulah kutahu bahwa air matanyalah yang barusan membasahi wajahku. Dadaku kembali terasa sakit saat ia menghapus cairan tersebut dari wajahku. Aku tak tahu kenapa hal itu bisa terjadi.
"Kumohon. Jangan pernah memberiku surat cerai lagi. Aku sanggup menahan apa saja, bahkan kenyataan bahwa kamu nggak cinta sama aku. Tapi aku nggak sanggup dengan yang kau lakukan barusan. Aku akan benar-benar sendirian .... " ujarnya dengan suara lirih menyerupai bisikan.
Akulah yang benar-benar akan sendirian bila kami benar-benar berpisah. Keluargaku benar-benar akan membuangku bila aku kabur darinya. Orang tuaku dulu benar-benar sudah putus asa menghadapiku. Aku masih ingat saat itu usiaku 20 tahun saat dia—pria yang kucintai— akan menikah dengan seseorang yang tak kukenal. Dan lucunya, hal itu terjadi tepat sehari sebelum aku menyatakan perasaanku pada pria itu.
Aku bahkan tak melihat bahwa di tangannya terselip sebuah undangan berwarna hujan. Entahlah, aku tidak tahu seperti apa warna hujan itu tapi saat itu memang sedang turun hujan. Amat deras.
Aku bahkan tak merasakan bahwa rasa malu telah membuat wajahku menebal. Yang kuingat setelah dia mengucapkan kata maaf sambil menyodorkan undangan sialan itu, aku meracau tak karuan— aku bahkan tak tahu apa yang kukatakan.
Sama tidak tahunya entah tangan siapa yang menamparku setelah itu. Dan setelah itu aku benar-benar sudah berada di luar jalur kewarasanku.
Dua hari kemudian aku ditemukan di luar kota dalam sebuah gedung tua. Aku tak tahu bagaimana aku dapat berada di sana atau bagaimana keluargaku dapat menemukanku.
Dua minggu lebih aku hanya bisa terbaring seperti orang mati—atau mungkin seperti orang gila. Setelah itu, semuanya berubah menjadi abu-abu. Aku seperti orang yang sudah tak dapat diapa-apakan lagi sampai-sampai keluargaku curiga bahwa laki-laki itu telah melakukan sesuatu padaku.
Enam bulan lamanya aku hidup seperti orang mati seperti itu. Sesuatu yang menurut orang lain terlalu berlebihan. Apakah terlalu berlebihan bila aku terlalu kaget karena laki-laki yang telah kucintai sejak aku baru berusia 12 tahun tiba-tiba menolakku dengan cara yang ‘amat halus’?
Apakah aku memang terlalu pengecut sampai-sampai waktu pun tak pernah berpihak padaku? Haruskah kuungkapkan perasaanku ketika usiaku menginjak 16 dulu, saat yang sama ketika wanita yang paling dicintainya tewas setelah ditabrak bis antar kota ketika menyeberang di jalan depan rumahnya dulu?
Aku bahkan tak tahu kenapa aku bisa seperti itu. Hanya saja, aku tahu ada satu hal yang kulupakan dan masih tertidur di kedalaman lipatan otakku yang paling dalam. Sesuatu seperti sebuah kunci yang dulu telah berhasil membuka kotak Pandora dalam diriku yang membuatku seperti orang yang kehilangan akal.
Hingga kemudian seseorang dari masa laluku datang dan berkata bahwa ia akan mencintai dan menjagaku selamanya. Kata-katanya bagaikan hujan yang membasahi ladang harapan mereka yang telah kering oleh keputusasaan.
Mereka sudah tidak tahan lagi dengan pertanyaan-pertanyaan orang lain mengenai diriku yang 'menghilang' seakan-akan ditelan bumi.
"Jangan pernah berpikir bahwa kami membuangmu. Kami sudah mengenal orang itu dan yakin bahwa dia akan membantumu keluar dari masa sulit ini. Dan jangan coba-coba menolak!"
"Bagaimana kalau dia berbuat jahat padaku? Apakah aku bisa pulang lagi?" tanyaku dengan suara yang terdengar aneh. Itu adalah suara pertama yang keluar setelah enam bulan lamanya diriku beku dalam kebisuan.
"Dia takkan pernah menyakitimu! Dan kamu hanya boleh pulang kembali, hanya jika dia menyerah padamu. Kau harus perlihatkan surat ceraimu, baru kau akan diterima kembali di rumah ini!"
Aku hanya ingin membantu orang tuaku untuk balas menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tanpa rasa malu. Sekarang mereka bisa membual bahwa aku tengah mempersiapkan pernikahanku.
Bahkan mereka bisa berbohong dengan mengatakan bahwa pesta pernikahanku adalah pesta yang paling besar dan mewah sehingga butuh persiapan yang lama untukku mempersiapkan segalanya.
Mereka benar-benar melakukan seperti yang kukatakan. Satu hal yang tak pernah kusangka-sangka adalah bahwa bualan itu memang sungguh-sungguh terjadi. Orang itu benar-benar mewujudkan perkataan isengku, dan menyumpal mulut orang-orang yang selalu ingin tahu itu saat mereka datang dan melihat betapa mewahnya pesta pernikahan palsu ini.
Mulanya, kupikir ini akan mudah. Sampai kapan orang itu akan sanggup menghadapi sikap dingin serta semua penolakan yang kulakukan dengan gencar? Dalam waktu 3 bulan, dia akan muak dan menceraikanku.
Setelah itu aku bisa kembali ke rumahku, mungkin sambil sedikit menangis tersedu-sedu. Mengatakan bahwa aku adalah perempuan paling sial sampai-sampai orang sebaik itu berani-beraninya ingkar janji dan meninggalkanku karena muak denganku.
Lalu aku akan kembali ke kamarku yang nyaman dan melanjutkan hidupku seperti saat sebelum pernikahan itu terjadi. Bermain dengan angan-angan kosong dan terus menjadi mayat hidup hingga maut datang menjemput.
Tapi segalanya tak semudah yang kupikirkan. Dia mampu bertahan selama 10 bulan dalam menghadapi sikapku yang menjengkelkan serta semua penolakanku.
Selama enam bulan pertama, dia tak pernah mengeluh meski aku tak pernah melaksanakan tugas-tugas rumah tangga, atau bahkan mengacaukan seisi rumah.
Dia tak pernah marah meski aku tak pernah mengacuhkan panggilannya, atau aku yang selalu berusaha menghindar saat ia hendak memeluk dan mencium pipiku sebelum berangkat kerja.
Dia tak pernah marah meskipun aku menyalakan musik keras-keras di malam hari saat ia amat lelah dan benar-benar butuh istirahat.
Sebaliknya, dia selalu tersenyum apa pun yang terjadi. Selalu memperlakukanku dengan lembut dan manis, sesuatu yang tak pantas untuk didapatkan istri buruk sepertiku. Dia selalu berkata bahwa dia amat mencintaiku dan takkan pernah melepaskan atau meninggalkanku apa pun yang terjadi.
Selalu membelikanku baju-baju dan hadiah-hadiah mahal yang tak sekalipun kugubris, bahkan beberapa di antaranya kubuang tepat di depan matanya. Dia tak berkata apa-apa, senyum itu tak pernah hilang dari wajahnya. Dan saat itulah aku akhirnya mengetahui bahwa dia benar-benar orang baik.
Maka dari itu, mulai di bulan ke-7 pernikahan palsu ini aku mulai melunak. Bukan berarti aku menyerah untuk bercerai darinya. Hanya saja, aku tak ingin mendapat karma karena terus-terusan melukai orang sebaik dirinya.
Dan aku harus mati-matian meyakinkan diriku untuk memintanya menandatangani surat cerai seperti barusan meski tahu itu akan sungguh-sungguh melukainya lebih dalam lagi.
Aku menyentuh bibirku. Bibirnya masih terasa di sini, menempel erat seakan tak ingin lepas walau hanya untuk sekejap saja.
Dalam 10 bulan belakangan ini, baru kali ini dia bersikap seagresif dan sekalut tadi. Selama ini, apa pun yang terjadi, paling-paling dia hanya akan diam, menghela napas dalam-dalam lalu meninggalkanku bersama kekacauan yang telah kuperbuat.
Aku masih dapat merasakan dadaku yang terasa sesak saat ia menghapus air matanya yang ikut membasahi pipiku. Tanganku perlahan meraba pipiku sendiri. Masih terasa basah.
Tunggu. Air mata miliknya sudah kering. Lantas yang mengalir ini air mata siapa?
Kenapa aku menangis?
Kenapa ini begitu sulit untuk diakhiri?
***
Aku takkan pernah membiarkannya meninggalkanku meski apa pun yang terjadi. Setelah melihat sosoknya yang seperti mayat hidup sementara keluarganya terlalu sibuk menutupi mulut orang-orang yang selalu curiga itu. Mereka takkan bisa membuat gadis itu kembali bila begitu caranya.
Aku sangat mencintainya.
Semua bermula dari 7 tahun lalu, hari pertama aku kenal dengannya secara tidak sengaja. Aku melihatnya mengendap-endap dan mengintip ke arah kelasku yang merupakan kelas khusus untuk para murid berotak cerdas sehingga mereka dapat menyelesaikan masa pendidikan mereka setahun lebih cepat.
Aku sendiri, saat itu tengah bosan dan memilih untuk bolos. Bagiku, kelakuannya ini begitu menarik untuk membunuh kebosananku.
"Lagi ngapain?" tanyaku sambil ikut berjongkok di sebelahnya.
"Ah! Hei, kamu ngagetin! Lah, lagian kamu sendiri sedang apa di sini?" balasnya setengah berbisik tanpa benar-benar melihat ke arahku.
Dia lebih sibuk melongok-longok dan sesekali berjongkok rendah saat kepala guru laki-laki itu menoleh ke arah tempat kami berada. Perlahan-lahan aku mulai dapat mengerti dengan maksud dari kelakuannya ini.
"Mau melihat orang itu lebih dekat? Dia nyebelin, loh!"
Barulah dia benar-benar menoleh padaku dan menatapku dengan alis yang hampir bertaut. Matanya yang bulat menelusuri tiap jengkal bagian tubuhku. Mulutnya lantas membulat saat matanya menangkap bayangan badge khusus murid akselerasi yang tersemat di dadaku.
"Kami murid aksel? Hei, itu berarti kamu lebih muda dariku, kan? Kenapa ngomongnya tidak sopan dengan kakak kelasmu, hah?" omelannya sukses membuatku bengong. Gadis ini benar-benar ajaib!
"Emangnya umurmu berapa?" balasku sedikit kesal. Ia mengacungkan jarinya membentuk angka 13. Aku langsung tersenyum sinis. Beraninya dia bicara sombong, padahal dia hanyalah murid kelas satu!
"Kamu pikir siapa yang lebih muda? Usiaku sudah masuk 15 akhir, tahu!" ujarku membalas omelannya tentang umur, berharap dia tak meremehkanku lagi.
Dia kembali membulatkan matanya, kali ini juga disertai mulutnya. Entah kenapa ekspresinya itu terlihat manis sekali.
"Astaga, kamu pasti bodoh! Tapi kenapa bisa masuk kelas khusus itu? Oh, kamu pasti orang aneh yang diceritakan Nana dulu! Ah, kenapa kamu malah ngajak ngobrol, sih?" dia kembali pada kesibukan awalnya, mencuri-curi pandang pada guru laki-laki yang menyebalkan itu.
Mengacuhkanku dengan rasa kesal yang berlipat ganda karena dia tak takluk seperti yang kuperkirakan. Tapi fakta baru itu justru menawarkan rasa kesalku.
"Kamu kenal aku?" tanyaku sedikit heran.
"Tentu saja! Semua orang tahu tentangmu. Ah, aku tidak ingat Nana bilang apa tentang namamu. Oh, benar! Hari ini kamu ngga ada jadwal berantem kan? Kamu benar-benar sudah insaf kan? Lalu kenapa kamu membolos?"
Aku tersenyum sendiri mengingat kecerewetannya waktu itu. Kecerewetan yang bahkan sudah menjadi bagian dari dirinya, bahkan sampai hari ini.
Tanpa sadar tanganku sudah bergerak sendiri untuk menyentuh bibirku. Aku tidak tahu entah setan apa yang merasukiku tadi sampai-sampai kelepasan menciumnya.
Mungkin efek dari shock akibat surat cerai yang diberikannya itulah yang membuatku begitu ketakutan. Ditambah lagi dengan rentetan kata-katanya yang seakan mengiris kembali luka-luka kemarin yang masih belum sempat kering.
Aku tidak bisa menanggung semua kejutan itu. Aku ingin menyuruhnya diam tapi aku tidak tahu cara apa yang bisa kulakukan selain membentaknya.
Mendadak ide itu terlintas begitu saja dan tahu-tahu bibirku sudah mendarat di bibirnya, lenganku bergerak merengkuhnya sementara air mataku tiba-tiba mengalir tanpa bisa kucegah. Aku benar-benar takut dia akan meninggalkanku.
Begitu kuat pesona orang itu, atau justru cinta dari istriku yang terlalu dalam, aku tidak tahu. Aku bahkan tak mengerti bagaimana shock itu mampu mempengaruhinya sampai menjadi seperti mayat hidup selama setengah tahun.
Bahkan dia masih tak dapat mengenyahkan bayangan orang itu dari hatinya, tak peduli hal itu membuatku terluka. Dia masih begitu tergila-gila dengan laki-laki sialan itu!
Dan aku masih begitu tergila-gila dengannya. Setelah tak bertemu selama bertahun-tahun, aku masih berdebar-debar seperti saat pertama kali ia melemparkan senyumnya padaku saat kuberikan badge milikku padanya agar ia dapat masuk ke kelasku dan melihat wajah laki-laki itu dari jarak yang lebih dekat.
Sejujurnya, aku bahkan tak memiliki ide sama sekali tentang pernikahan ini. Orang tuanyalah yang memberiku ide saat mereka menceritakan awal mula dirinya berubah menjadi seperti itu.
Awalnya aku hanya ingin memberinya suasana baru sambil menjaganya tetap berada di sisiku. Aku mengatakan hal itu padanya saat memintanya untuk menikah denganku. Hal itu sama sekali tak bisa disebut lamaran, itu lebih seperti sebuah permintaan sepihak dan agak memaksa. Aku tahu apa yang dikatakan orang tuanya padanya agar dia tak menolak hal ini.
Dia sangat tenang saat itu, hanya mengangguk tanpa protes atau memberikan syarat apa pun hingga aku akhirnya memberanikan diri mengatakan bahwa aku melakukan hal itu karena aku sungguh-sungguh mencintainya dan akan membuatnya berbalik mencintaiku.
Saat itulah, untuk pertama kalinya ia bicara padaku dengan suara yang terdengar aneh karena sudah tidak bicara selama 6 bulan. Dan kalimat pertamanya adalah kali pertamanya menyayatkan luka di hatiku.
"Itu mustahil untuk terjadi," begitu katanya.
Sejak saat itulah penolakan demi penolakannya dimulai. Aku tak menyerah. Semakin sulit, semakin bernafsu bagiku untuk menaklukkannya. Aku sudah terlanjur terperangkap dalam rasa cintaku yang sulit, dan semakin mustahil bagiku untuk keluar dari situasi ini.
Aku hanya ingin mencintainya tanpa memedulikan rasa sakitnya. Hingga mungkin suatu hari nanti akan tiba waktunya ketika dia mampu melenyapkan bayang-bayang laki-laki itu dari hatinya dan menggantinya dengan bayanganku.