"Fin, Mama mau ke sini katanya," ucap Ilyas agak kurang senang setelah menutup panggilan yang baru saja diterima.
"Biasanya juga ke sini jenguk Eyang, ini juga 'kan emang rumah Mama, kenapa wajah Mas berubah gitu?" tanya Safina melihat raut muka suaminya yang tak biasa. Mertuanya memang biasa datang ke rumah itu, bagi istri Ilyas itu tak ada masalah.
"Emang biasa ke sini, tapi kali ini lain."
"Ya apa masalahnya? jelasin, biar aku ngerti."
"Mama mau nikah lagi, Fin, dia ke sini mau bahas soal itu."
"Hah? Nikah lagi?" Safina terperangah. Diusia mertuanya yang sudah menginjak 53tahun, ternyata masih ada hasrat untuk perempuan itu membina mahligai rumah tangga.
Dipandang dari segi fisik, mertuanya itu memang masih terlihat cantik, biarpun tubuhnya agak sedikit berisi, tapi soal penampilan masih bisa mengalahkan Mama-Mama muda.
"Iya, apa kata orang nanti?"
"Nggak apa lah Mas, Mama masih muda, wajar saja kalau pengen nikah lagi. Hidup sendiri itu nggak enak, nggak bisa berbagi rasa, berbagi beban hidup."
"Aku nggak masalah soal pernikahan Mama, Fin, tapi Mama bilang mau nikah di sini, tinggal di sini juga sama kita, sedangkan Papa....?"
Safina terdiam, hal itu yang kini jadi kebimbangan mereka. Tak ada yang salah dengan pernikahan, bukan salah mertuanya juga jika ada niat menikah lagi, tapi jika ingin tinggal di rumah itu, lain lagi pemikiran mereka.
"Terus gimana?" tanya Safina tak kalah bimbang.
"Nantilah kita bicarakan lagi sama Mama." Ilyas melepas napas berat. Safina bisa merasakan perasaan suaminya sekarang ini, mana mungkin menyatukan dua insan yang sudah bercerai hidup dalam satu rumah. Selain kasihan pada sang Papa mertua, ia juga khawatir dengan omongan tetangga.
Rumah yang mereka duduki sekarang memang harta warisan milik Winarti--Ibunya Ilyas--,semenjak Dimas--Ayah Ilyas--terkena stroke dan lumpuh total, perempuan itu menggugat cerai dan meninggalkan rumah, membiarkan mantan suami tinggal bersama Ilyas--anak laki-laki--satu-satunya. Sedangkan dua anak perempuannya tinggal jauh di luar kota.
Winarti masih mengizinkan mantan suaminya tinggal di sana diurus Ilyas dan Safina. Akan tetapi, kini perempuan itu membuat keputusan lain, memilih menikahi laki-laki baru dan ingin tinggal di tempat Ilyas, di mana di sana masih ada seseorang yang harus di jaga perasaanya.
Ilyas yakin, biarpun Ayahnya sudah tak berdaya dan tak memiliki kemampuan apa pun, tapi hati orangtuanya itu pasti masih bisa merasakan hancurnya perasaan saat mantan istri menikah lagi dan tinggal satu bumbung bersamanya.
Perpisahan orang tua Ilyas memang tak bisa dielakkan, Winarti dulu bersikukuh ingin bercerai. Tujuh tahun Dimas terserang stroke, dulu taklah terlalu parah, empat tahun belakangan kondisi suami Winarti itu makin parah hingga lumpuh total.
Perempuan itu merasa tak sanggup lagi dan memutuskan berpisah. Harta mereka habis digunakan berobat Ayah Ilyas selama tiga tahun, tapi tak kunjung mendapat kabar baik. Harta yang tersisa hanya satu-satunya hanya rumah warisan milik Winarti yang mereka tempati saat ini.
Beruntung waktu Winarti memutuskan bercerai, Ilyas menikahi Safina dan memboyongnya ke rumah itu, menggantikan Winarti mengurus dan menjaga Dimas.
***
Hari yang dijanjikan Winarti pun tiba, perempuan itu datang ke rumah Ilyas untuk mengenalkan sosok laki-laki yang akan menjadi calon suaminya.
"Apa kabar, Safina?" sapa Winarti ramah.
"Baik, Ma."
Dua perempuan yang berstatus menantu dan mertua itu saling peluk, lama juga mereka tak bertemu dengan alasan Winarti sibuk dengan usaha barunya yang ia rintis beberapa tahun belakangan.
"Papa kamu gimana kabarnya?" tanya Winarti lagi. Biarpun Dimas adalah mertua Safina, tapi menantunya itu tak pernah menganggap mertua, baginya Dimas dan Winarti adalah orang tua kandung.
"Masih begitu saja, Ma," jawab Safina sambil tersenyum. Dari hari ke hari, tak ada perubahan apa pun pada Papa mertuanya, tak ada juga tanda-tanda kesembuhan. Namun, Safina tetap sabar mengurus beliau karena tak ada siapa-siapa lagi yang bisa diandalkan.
"Eyang mana?" Winarti clingukkan mencari sosok perempuan tua yang biasanya tak jauh dari depan TV untuk menonton acara televisi.
"Tadi di kamarnya, habis main air, aku udah balur pake minyak kayu putih, terus tidur."
Narsih--Ibunya Winarti--sudah sangat tua, di usianya saat ini, perempuan tua itu tak dapat mengingat banyak atau mengenal orang-orang di sekitarnya. Tingkahnya kembali seperti anak kecil, dan hanya Safina yang tak pernah ia lupa.
Sebagai anak bungsu satu-satunya yang masih hidup, Winarti harusnya menjaga Narsih, tapi ia malah sibuk dengan dunia dan bisnis baru. Sedangkan lima Kakak-kakak Winarti sudah berpulang lebih dulu, tersisa keturunan mereka saja yang sama sekali tak lagi peduli dengan Narsih yang sudah kehilangan segalanya termasuk harta.
Dulu, waktu wanita tua itu masih sehat, rumah yang sekarang mereka tempati menjadi tempat utama untuk berkumpul keluarga besar, setelah Narsih renta dan tak berharta, kehadirannya menjadi tak berharga dan tak ada yang menginginkan.
Ditambah anak-anak yang lebih tua sudah tiada, hanya cucu cicit yang sama sekali tak mau peduli, makin terputus hubungan keluarga mereka. Hidup masing-masing tanpa ingin tahu urusan satu sama lain. Disebabkan Winarti yang selama ini menjaga dan mengurus Narsih, maka rumah itu menjadi hak milik mertua Safina tersebut.
Winarti lah yang menjaga Narsih selama ini, tapi selama empat tahun belakangan tugas itu diserahkan pada Safina, maka tak heran jika Narsih menganggap Safina adalah Winarti.
Ketika Menantunya itu pergi sebentar, perempuan tua itu akan menangis mencari-cari. Hal itu pula yang membuat istri dari Ilyas Irawan itu tak bisa terlalu lama meninggalkan rumah, karena Narsih akan menangis merasa kehilangan.
"Makasih, ya Safina. Mama berhutang budi sama kamu, harusnya mama yang jaga Eyang."
"Itu sudah kewajiban aku, Ma."
Winarti merasa beruntung mendapatkan menantu seperti Safina, selain cantik, gadis itu juga sangat berbakti pada suami dan orang tua. Sudah empat tahun pernikahan Safina dan Ilyas, selama itu juga ia mengurus mertua dan Nenek Ilyas yang memiliki kekurangan fisik dan psikis dengan kasih sayang, tambah lagi mereka belum juga dikaruniai keturunan, tapi Safina tetap mau tinggal dan bertahan bersama Ilyas.
"Mas, ayok sini!" panggil Winarti pada laki-laki yang akan menjadi calon suaminya.
Laki-laki bertumbuh tinggi dengan gaya yang perlente itu masuk, melepas kacamata hitam yang dikenakan. Mengenalkan diri dengan senyum ramah pada Safina dan Ilyas, suaranya yang khas dan lembut menambah point lebih dari laki-laki itu.
"Ini Om Darmawan, kalian bisa panggil Om Damar, atau kalau sudah nikah nanti, bisa panggil Papa," tutur Winarti sambil menggandeng tangan laki-laki itu.
Safina dan Ilyas terperangah, bukan karena terpesona. Mereka terheran, Winarti yang berusia 53 tahun akan menikahi laki-laki yang usianya lebih muda dari usia Mama mereka. Malah tebakan Ilyas umur laki-laki itu tak beda jauh darinya.
"Ma, bisa kita bicara sebentar?" ajak Ilyas.
"Ada apa?"
"Sini deh pokoknya," paksa Ilyas.
"Safina, tolong kasih minum Om Damar, ya," titah Winarti sebelum ikut dengan Ilyas.
"Iya, Ma."
"Mau minum apa, Pak?" tanya Safina pada Darmawan yang duduk di kursi ruang tamu. Mata laki-laki menelusuri seluruh ruangan, lalu beralih pada Safina.
"Mmm. Air putih saja."
Safina mengerti dan melenggang ke dapur, lalu kembali ke ruang tamu membawa segelas air. Safina duduk berseberangan dengan sang tamu, menunggu suaminya yang tengah mengobrol dengan sang mertua.
Sementara di ruangan lain, Ilyas begitu terguncang dengan keputusan Ibunya, bukan hanya itu, pautan perbedaan usia dengan laki-laki yang akan dinikahi Mamanya juga kini menjadi tanda tanya baginya.
"Mama yakin mau nikah sama laki-laki itu?" tanya Ilyas berusaha bersabar.
"Apa salahnya?"
"Dia masih muda, Ma, apa Mama nggak merasa curiga?"
"Curiga apa? Kamu tahu, Ilyas, usaha restauran mama sekarang bisa berkembang maju itu karena bantuan Damar. Apa yang harus kita curigai dari dia?"
Ilyas mulai tak enak duduk. "Tapi, Ma, aku nggak bisa bayangin kalau dia jadi suami Mama, terus tinggal di sini, apa kata orang?"
"Mama rasa nggak ada masalah, orang mau menilai apa juga ya terserah. Lagian mama sama dia itu cuma paut enam tahun, tapi karena Damar orang kaya, makannya dia masih segar, dia udah 46 tahun lho padahal. Orang-orang bilangnya dia kayak umur 30an," ucap Winarti bangga.
"Tetserah deh, kalau memang itu pilihan Mama, tapi jangan tinggal di sini," tegas Ilyas.
"Ini kan rumah Mama, kenapa nggak boleh?"
"Bukanya dia orang kaya? Kenapa mau tinggal di sini? Lagian kawasan ini termasuk kampung."
"Justru itu, di masa tuanya, Damar pengen kami hidup jauh dari keramaian kota yang menyesakkan. Makanya dia ngajak tinggal di sini. Dia rela usahanya diurus sama adik dan asisten pribadinya demi ikut mama tinggal di sini."
"Jadi itu semua rencana dia?" Ilyas mulai merasa ada yang tak beres dengan kehadiran laki-laki itu. "Kalau memang niatnya mau tinggal jauh dari kota, kenapa harus di sini? Orang kaya bisa dengan mudah beli rumah baru 'kan?" sindir Ilyas kemudian. Ia masih tak terima jika harus tinggal satu atap.
"Kamu ini apa-apaan Ilyas? Sejak kapan hidup mama diatur-atur sama kamu? Ini rumah Mama, mau tinggal di mana juga itu hak mama!" Winarti tak terima dengan kata-kata anaknya.
Ilyas mengusap wajah kasar, ia tak tahu lagi caranya agar Winarti mau mengerti keadaan ayahnya. "Apa Mama nggak kasihan sama Papa?"
"Kalau nggak kasihan, dari dulu sudah mama usir, saudaranya yang dulu sering berhutang waktu Papa kamu masih sehat juga masih ada, harusnya mereka urus Papa kamu sebagai tanda jasa atau bayar hutang. Tapi Mama masih punya hati nurani, makanya mama izinkan dia tinggal di sini sama kamu."
"Mama lupa kalau dulu juga menikmati kekayaan Papa? Mama lupa kalau nggak ada Papa, rumah ini sudah dirampas sama kakak-kakak Mama yang serakah sebelum mereka meninggal dulu? Aku nggak akan lupakan semua itu, Ma."
"Jadi mau kamu sekarang gimana?" tanya Winarti sambil melipat tangan dipinggangnya. Perempuan berambut pendek ikal sebahu itu menunggu jawaban dari anaknya.
"Mama bisa menikah sama laki-laki itu, tapi aku mohon, jangan tinggal di sini," pinta Ilyas sambil menangkup tangan.
"Terserah." Untuk sementara Winarti harus mengalah dengan sikap anaknya yang yang belum bisa menerima kehadiran Damar.
***
Safina masih menunggu di ruang tamu menemani Damar, ia sedikit pegal menunggu agak lama, tak tahu apa yang dibicarakan suami dan mertuanya.
"Kamu betah tinggal di sini?" tanya Darmawan tiba-tiba.
"Hmm?" Safina heran dengan pertanyaan laki-laki yang baru ditemuinya beberapa menit yang lalu, entah apa maksud mempertanyakan ia betah atau tidak.
"Hanya bertanya." Darmawan tersenyum ramah, tatapanya begitu terasa aneh bagi Safina.
"Kalau dilihat dari raut wajah kamu, kayaknya betah," gumam Darmawan sambil wajahnya menatap ke arah lain.
Dada Safina mendadak berdebar mendengar hal itu.
"Apa Bapak kenal saya?"
Darmawan tersenyum seperti tadi. Laki-laki itu mengeluarkan sebatang rokok dari saku celananya, sebelum menyalakan api, tangan laki-laki itu memutar-mutar rokok sambil melihat sekeliling.
Detak jantung Safina makin tak karuan, apakah yang tengah dilakukan calon suami mertunya itu suatu kebetulan? atau memang orang lain pun sering melakukan hal itu dengan sebatang rokok sebelum dinyalakan? Diputar lincah antara telunjuk dan jari tengah. Kenapa laki-laki itu juga seolah mengenal dirinya?
"Mungkin. Dua jiwa yang pernah menyatu, mana mungkin lupa semudah itu," jawab Darmawan datar.
"Maksudnya?" Safina makin tak mengerti.
"Apa pun yang coba disembunyikan, akan terlihat jelas jika memahami dengan hati. Meski terlihat bahagia, jika dipandang dari hati, itu terlihat jelas hanya sebuah sandiwara. Kamu belum lupa pada masa lalu."
Dada Safina makin bergemuruh. Perih tentang masa lalu yang dulu ia rasa, kini mengusik lagi, lara itu menjelma, rasa yang berusaha ia hilangkan dan sembunyikan, terbit lagi setelah mendengar laki-laki yang bernama Darmawan berkata. Siapa laki-laki itu sebenarnya?
"Siapa kamu?" Safina menatap tajam.
.
.
.
.
Bersambung ...