Rindu mengarahkan matanya kesamping dan memperhatikan sosok yang sangat disayanginya. Rasa iba itu hadir begitu kuat, Rindu tahu, bahwa kali inipun sahabatnya akan terluka.
Namun apalah daya, ia hanya mampu memberikan nasihat. Dan kala kesedihan itu benar- benar menampakkan diri, maka Rindu akan sedia disini mengulurkan tangan untuk memeluk sahabatnya.
Bukan hanya sekali dua, sahabatnya tersebut menerjunkan diri kelubang luka. Namun setiap kali. Dan sayangnya, Dari selalu membuka diri terhadap luka- luka baru, yang kadarnya kian hari, kian bertambah sakit.
Rindu bingung, harus dengan apa ia menyadarkan Dari dari semua angan semunya itu.
Mulai dari Awal, Hendri, Jimmy, Riki Dimas, Wira dan sekarang Anton.
Sederet lelaki kejam, yang hanya mengambil keuntungan dari ke bucinan seorang Dari. Yang rela memberikan apa saja, agar ia dicintai oleh lelaki yang dia ingin kan.
Bukan berarti Dari juga tak lepas dari kesalahan, karena sesungguhnya yang membuka jalan untuk menyakiti dirinya itu adalah ia sendiri.
Contohnya kali ini, cinta yang entah keberapa. Seorang Arjuna keturunan darah Belanda Minang. Sama dengan Dari yang juga berdarah campur. Halah... udah kek es aja.. pake campur segala, sekalian aja es doger neng, eeh.
" Kak.. yakin mau melanjutkannya kak? Si Abang dah punya istri. Dan si Abang punya karier yang bagus, yang akan menjadi alasan untuk tidak melayani kakak." bujuk Rindu.
" Ndu.. Jan lo patahin semangat gw. Lo tau, dari dulu gw sayang ama dia. Dan setelah tau dia juga sayang ma gw, masa gw harus diam. Melihat dia sama perempuan kampungan itu? Dia ngga sebanding dengan gw, gw lebih segalanya dari perempuan itu!" bantahnya dengan nada yang sudah meninggi.
"Tapi kak, perempuan kampungan itu istri sah nya!" Rindu mulai muak dengan kebiasaan Dari yang selalu memandang rendah orang. Kesombongannya sudah berlapis- lapis, dan berapa lapis? jawabnya adalah ratusan.
" Dan satu hal yang harus lo ingat, sayangnya dia ke lo itu, dulu. D U L U , dan itu sudah berlalu selama belasan tahun. Apa lo yakin, dia masih sesayang itu ke lo? Hari gini? Dia dah punya anak." ingat Rindu.
Dan seperti biasanya, Dari menghempas stir. " Buktinya gw masih sayang sama dia" teriaknya.
Rindu menghela nafas berat. Kembali ia tatap sosok yang ia sayangi itu. Bagaimana tidak, posisinya yang merupakan anak tertua, tak memberinya hak untuk mendapat seorang kakak. Maka, sahabatnya inilah yang ia anggap menjadi seorang kakak. Walau terkadang, Dari lebih egois dari anak umur 5 Tahun.
Mungkin karena orang tuanya yang selalu memanjakan, dan menuruti semua keinginannya. Maklum, Dari anak bungsu dari tiga bersaudara.