Sirine penanda akhir pertandingan berbunyi seperti ejekan.
Damar berdiri di tengah lapangan, napasnya tersengal, peluh menetes dari ujung dagunya ke lantai kayu yang berderit di bawah sepatu lawan. Papan skor di sudut gedung olahraga itu menyala terang, terlalu terang, seolah ingin memastikan tidak ada satu pun penonton yang luput membaca angka yang tertera di sana.
SMA Garuda 58, SMA Tunas Bangsa 71.
Tiga belas poin. Lagi-lagi kalah.
"Bagus, bagus, semangat ya tahun depan!" seru seseorang dari tribun lawan, nada suaranya manis tapi menusuk. Tawa kecil menyusul. Damar tidak menoleh. Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat itu sampai kehilangan kemampuan untuk merasa sakit hati.
Di sebelahnya, Bagas menjatuhkan diri ke lantai, punggungnya basah, dadanya naik turun. "Maaf, Mar," ucap pemain bertubuh besar itu, suaranya nyaris hilang. "Aku kehabisan tenaga di kuarter ketiga."
"Bukan salahmu." Damar mengulurkan tangan, menarik Bagas berdiri. "Kita semua kehabisan tenaga. Itu yang jadi masalah."
Tim SMA Garuda berjalan tertunduk ke pinggir lapangan. Mereka berbaris seadanya, menyalami pemain lawan yang tersenyum lebar, sebagian bahkan sudah mulai bercanda tentang rencana makan malam mereka. Damar menyalami satu per satu tanpa benar-benar melihat wajah mereka. Tangannya dingin meski tubuhnya berkeringat.
Ini bukan kekalahan pertama. Bukan yang kelima. Dalam tiga musim terakhir, tim basket SMA Garuda tidak pernah lolos dari babak penyisihan regional. Mereka adalah lelucon. Tim yang dipakai sebagai pemanasan oleh sekolah-sekolah lain sebelum menghadapi lawan sungguhan.
Dan Damar adalah kaptennya.
"Anak-anak, kumpul." Pak Hendra, pelatih lama mereka, melambai lemah. Pria paruh baya itu sudah melatih Garuda selama enam tahun, dan setiap tahun wajahnya tampak semakin lelah. "Kalian sudah berjuang. Pulang, istirahat. Minggu depan kita evaluasi."
Tidak ada yang menjawab. Evaluasi. Kata itu sudah kehilangan makna sejak lama. Mereka mengevaluasi setiap minggu dan tetap kalah setiap pertandingan.
Damar memasukkan handuknya ke dalam tas, menyampirkan tasnya ke bahu, dan berjalan keluar gedung. Udara malam Jakarta menyambutnya dengan kelembapan yang lengket. Lampu jalan berpendar oranye di atas trotoar, dan suara klakson dari kejauhan terdengar seperti latar yang tak pernah berhenti.
Ia mengeluarkan ponsel. Satu pesan dari ayahnya.
"Menang?"
Cuma satu kata. Damar menatap layar itu lama sekali. Ia tahu ayahnya tidak benar-benar bertanya. Ayahnya sudah tahu jawabannya, mungkin sudah tahu sebelum pertandingan dimulai. Pertanyaan itu hanyalah cara halus untuk mengingatkan Damar tentang apa yang selalu gagal ia lakukan.
Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi. Akhirnya hanya membalas satu kata juga.
"Belum."
Belum. Seolah masih ada kemungkinan. Seolah musim ini belum benar-benar habis. Padahal Damar tahu, ia sudah kelas dua belas, dan ini musim terakhirnya. Setelah itu, tidak ada lagi pertandingan SMA. Tidak ada lagi kesempatan untuk membuktikan apa pun pada siapa pun.
Terutama pada ayahnya.
Damar masih ingat bagaimana ayahnya, Pak Rusdi, dulu adalah pemain basket kebanggaan di kotanya. Foto-foto lama tergantung di ruang tamu mereka: ayahnya melayang di udara, bola di tangan, ekspresi penuh keyakinan. Setiap kali Damar melewati foto itu, ia merasa seperti melewati ujian yang tak pernah bisa ia lewati.
"Kamu punya tinggi badannya," kata ayahnya suatu kali, beberapa tahun lalu, "tapi nggak punya nyalinya."
Kalimat itu tertanam di dada Damar seperti paku.
Ponselnya bergetar lagi. Bukan ayahnya kali ini, tapi grup tim.
Bagas: "Besok latihan jam berapa? Atau libur dulu lah, capek banget."
Reza: "Libur aja. Buat apa latihan kalau ujung-ujungnya kalah terus."
Damar menatap dua pesan itu. Reza, point guard mereka, selalu yang pertama menyuarakan apa yang sebenarnya dipikirkan semua orang. Buat apa. Pertanyaan itu menggantung di udara seperti kabut.
Buat apa.
Damar tidak punya jawaban. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia merasa godaan itu nyata: untuk meletakkan bola, menggantung sepatu, dan berhenti. Berhenti berpura-pura bahwa hal ini bisa berubah. Berhenti membohongi diri sendiri.
Ia memasukkan ponsel ke saku tanpa membalas. Langkahnya membawanya ke halte bus, tapi pikirannya jauh, melayang ke suatu tempat di mana ia masih kecil dan basket masih terasa seperti permainan, bukan beban.
Di halte, ia duduk sendiri. Lampu jalan berkedip sekali. Dari kejauhan, ia bisa mendengar suara bola dipantulkan, entah dari lapangan mana, ritmenya tetap dan sabar.
Dum. Dum. Dum.
Suara itu, yang dulu adalah musik favoritnya, kini terdengar seperti hitungan mundur menuju akhir.
Ia tidak tahu bahwa malam itu, di seberang kota, di sebuah ruang rapat sekolahnya yang gelap, sebuah keputusan sedang dibuat. Keputusan yang akan mengubah segalanya. Pak Hendra sudah mengajukan pengunduran dirinya. Dan SMA Garuda, untuk pertama kalinya dalam sejarah, akan mendatangkan seseorang dari luar.
Seorang pelatih baru.
Tapi malam itu, Damar hanya menatap aspal, lelah, dan untuk sesaat membiarkan dirinya percaya bahwa mungkin, mungkin sebaiknya ia berhenti saja.