Happy Reading ^_^
***
“Serahkan seluruh harta kamu—mulai dari saham perusahaan, rumah, dan seluruh aset atas nama kamu untuk aku.” kata Arga dengan begitu tidak tahu diri.
Di seberang tempat duduk Arga, Lentera Hadiyata tampak menaikkan sebelah alisnya. Ia terlihat menahan tawa dengan keras atas permintaan Argani Rahadyan yang terdengar sangat serakah.
“Maksudnya harta gono-gini? Izinkan aku menjelaskan kalau kamu tidak paham tentang harta—”
“Aku paham. Sangat paham,” sela Arga dengan penuh penekanan. “Tapi yang aku minta memang semuanya. Keputusan pengadilan boleh begitu, tapi di luar pengadilan, aku mau semuanya. Paham?”
Lentera tak kuasa menahan tawanya lagi. Perempuan itu masih duduk nyaman di kursinya—bersandar dengan kaki kiri ia silangkan ke kaki kanan. Gesturnya seolah menega