Titik merah berikutnya bernama Topan, dan ketika Rani akhirnya berdiri di rumahnya di Wuni Kidul, ia harus menahan sesuatu yang lebih panas daripada iba.
Topan sembilan belas tahun. Ia dikurung di kamar belakang, kakinya tak dirantai tapi pintunya dikunci dari luar, dan ia sudah begitu—Rani menghitung dari cerita ibunya—sejak ia berusia sekitar dua belas. Tujuh tahun. Tujuh tahun masa muda yang seharusnya diisi sekolah, teman, sepak bola di lapangan kampung, dihabiskan di kamar pengap karena suatu hal yang seluruh keluarganya yakini sebagai kerasukan.
"Dia sering kesurupan, Mbak," kata ibunya, perempuan lelah dengan kerudung lusuh. "Tiba-tiba badannya kaku, matanya muter ke atas, mulutnya berbusa, kadang ngompol. Habis itu dia bingung, nggak inget apa-apa. Orang pinter bilang ada yang ngikutin dia dari kecil. Kami sudah bawa ke mana-mana, sudah diruqyah, dimandiin. Nggak mempan. Jadi pas dia mau kumat, biar nggak nyakitin diri, biar nggak bikin malu di luar, kami kurung."
Rani mendengarkan dengan wajah tenang yang ia latih bertahun, tapi di dalam dirinya diagnosis menyala terang dan menyakitkan, karena ia sudah mendengar deskripsi ini persis sebelumnya—di gudang Sutejo, sebelum kejang malam itu. Badan kaku, mata berputar ke atas, busa, ngompol, lalu bingung dan lupa. Itu bukan kerasukan. Itu kejang tonik-klonik. Itu epilepsi—penyakit listrik di otak yang, dari semua kondisi yang ia tangani, mungkin yang paling kejam disalahpahami, karena gejalanya begitu mirip dengan gambaran kesurupan yang dihafal tiap kampung, dan karena—inilah yang membuat tenggorokan Rani tercekat—epilepsi adalah salah satu yang paling mudah dikendalikan.
Obatnya murah. Fenitoin, asam valproat, fenobarbital—obat antiepilepsi yang sudah ada puluhan tahun, tersedia bahkan di Puskesmas, harganya sebagian kecil dari antipsikotik. Dengan dosis yang tepat dan diminum teratur, sebagian besar penderita epilepsi bisa hidup nyaris bebas kejang. Bisa sekolah. Bisa bekerja. Bisa, dengan beberapa kehati-hatian, hidup seperti siapa pun.
Tujuh tahun. Topan kehilangan tujuh tahun masa mudanya—bukan karena penyakit yang tak terobati, tapi karena tak ada yang pernah menyebut nama yang benar untuk penyakitnya. Sama seperti Sutejo. Sama seperti, Rani menahan napas, Bagas. Kemarahan yang menyergapnya bukan kemarahan yang meledak; itu kemarahan yang tenang dan dingin dan dalam—kemarahan pada ketidaktahuan yang, seperti yang ia pelajari sejak hari di kelas keperawatan itu, adalah satu-satunya bentuk kekejaman yang bisa dilawan dengan pengetahuan saja.
Ia minta izin menemui Topan. Ibunya membuka kunci dengan tangan ragu.
Kamar itu sempit dan remang, tapi Topan tidak meringkuk di sudut seperti yang Rani takutkan. Pemuda itu duduk di tepi kasur, dan ketika pintu terbuka, ia mengangkat wajah dengan rasa ingin tahu seorang anak muda yang sudah terlalu lama tak melihat orang baru. Matanya jernih—di antara kejang, Topan sepenuhnya sadar, sepenuhnya cerdas, sepenuhnya seorang remaja biasa yang terjebak di tubuh yang sesekali mengkhianatinya. Itu yang membuat semuanya lebih menyayat: Topan tahu ia dikurung. Topan tahu dunia berjalan tanpanya di balik pintu itu.
"Halo, Topan. Saya Rani, dari Puskesmas." Ia jongkok agar setinggi pemuda itu. "Saya mau ngobrol soal yang sering kamu alami. Yang bikin badan kamu kaku terus kamu lupa."
Topan menunduk, malu. "Kata orang itu setan, Mbak."
"Bukan setan, Topan." Rani menjelaskan dengan kata-kata sederhana—tentang otak, tentang aliran listrik yang kadang kacau, tentang obat yang bisa menenangkannya. Ia melihat sesuatu menyala di mata pemuda itu saat menyadari bahwa apa yang menghantuinya selama ini punya nama, dan punya obat, dan bukan kutukan, bukan setan, bukan kesalahannya.
Rani mulai pengobatan hari itu juga, dengan asam valproat yang ia tebus dan jelaskan pada ibu Topan—dosis, jadwal, pentingnya tak putus, tanda yang harus diwaspadai. Ia menjelaskan pada ibunya, perlahan dan tanpa menghakimi, bahwa anaknya tak perlu dikurung lagi, bahwa pintu itu bisa dibuka, bahwa kejang yang terkendali bukan aib yang harus disembunyikan. Ibu Topan menangis—tangis yang Rani kenali, tangis seseorang yang baru menyadari bahwa tahun-tahun yang hilang itu bisa saja tak hilang.
Ketika Rani hendak pamit, dan pintu kamar dibiarkan terbuka untuk pertama kali dalam ingatan Topan, pemuda itu memanggilnya. Suaranya pelan, ragu, dengan harapan yang ia takut mengucapkannya keras-keras karena takut harapan itu dirampas lagi.
"Mbak." Topan memilin ujung kaosnya, matanya menatap lantai, lalu mengangkat ke wajah Rani. "Kalau... kalau setannya sudah nggak ada. Kalau saya minum obatnya teratur." Ia menelan ludah, dan kalimat itu keluar seperti sesuatu yang terlalu rapuh untuk diucapkan. "Saya... masih boleh sekolah lagi, nggak?"
Dan Rani, yang sudah belajar untuk tidak menjanjikan keajaiban, menahan diri untuk tak langsung menjawab ya yang bulat. Karena ia tahu sekolah berarti melawan tembok baru—guru yang takut, warga yang akan mengejek, stigma yang tak hilang hanya karena kejang berhenti. Tapi ia juga tahu bahwa pertanyaan itu, dari seorang pemuda yang baru saja dibebaskan dari tujuh tahun gelap, adalah pertanyaan yang tak boleh dijawab dengan keraguan.
Ia berlutut kembali, menyamakan tingginya dengan Topan, dan berkata dengan suara yang ia jaga agar penuh tapi jujur, "Kita usahakan, Topan. Sama-sama. Saya nggak janji gampang. Tapi saya janji saya nggak akan biarin kamu nyerah duluan."
Mata pemuda itu basah, dan untuk pertama kali sejak Rani masuk, ia tersenyum—senyum canggung, malu, tapi senyum seorang yang baru saja diberi kembali sebuah masa depan yang ia kira sudah dipasung selamanya bersama tubuhnya.