Nama itu adalah Darto.
Rani membutuhkan tiga hari untuk menggalinya, dan ia harus menggali seperti orang membongkar kuburan—pelan, hati-hati, karena tiap kali ia menyebut nama Kowi, kampung menutup diri seperti kerang.
Ia mulai dari yang paling mudah: catatan kependudukan di kantor desa. Tapi di kartu keluarga Kowi, hanya tercantum tiga nama—Kowi sang kepala keluarga, kini sekitar tujuh puluh tahun; istrinya, Bu Kowi, perempuan dengan mata waspada di balik celah pagar; dan seorang anak laki-laki yang sudah pindah ke kota bertahun lalu. Tak ada nama keempat. Tak ada Darto.
"Dulu ada," kata Pak Carik, staf desa tua yang sudah bekerja di kantor itu sejak Rani masih kecil. Ia bicara pelan, melirik pintu, meski ruangan kosong. "Adiknya Pak Kowi. Darto. Tapi udah lama dicoret. Dianggep... nggak ada."
"Dicoret kenapa?" Rani menahan suaranya tetap datar.
Pak Carik menyeka keringat yang tak ada. "Dulu, waktu zaman Pak Lurah lama, ada urusan. Saya nggak inget jelas. Yang saya tahu, dari saya masih muda, Darto itu udah... di belakang. Di rumah itu. Nggak pernah keluar." Ia menatap mejanya. "Sudah, Mbak. Jangan diutak-atik. Itu urusan keluarga Kowi sejak dulu. Nggak ada yang berani."
"Berapa lama, Pak? Darto di belakang itu—berapa lama?"
Pak Carik diam lama. Lalu, suaranya nyaris tak terdengar: "Anak saya yang bungsu lahir tahun delapan empat. Waktu itu Darto udah di dalam. Udah lama."
Rani merasa lantai miring di bawahnya. Empat puluh tahun lebih. Bukan lima tahun seperti Ratri, bukan belasan seperti Sutejo. Empat dekade. Hampir seumur hidupnya sendiri. Seorang manusia yang masuk ke kegelapan sebelum Rani lahir dan tak pernah keluar.
Ia pergi ke Bu Inah berikutnya, yang punya jejaring di antara ibu-ibu tua kampung lebih dalam dari siapa pun. Dan dari Bu Inah, lewat bisik-bisik yang dikumpulkan dengan susah payah dari perempuan-perempuan yang lebih suka tak bicara, gambaran yang lebih gelap mulai terbentuk.
"Yang lain, Mbak, kalau dipasung, itu karena keluarganya takut, malu, capek," kata Bu Inah, suaranya rendah, di ruang konseling dengan pintu tertutup. "Tapi Kowi—dari yang saya denger, dulu Darto itu nggak parah-parah amat. Sakit jiwa, iya, tapi ada masanya dia masih bisa diajak ngomong, masih jalan-jalan. Yang bikin dia masuk ke belakang dan nggak keluar lagi—" Bu Inah ragu. "Kakaknya. Pak Kowi. Dia itu... keras, Mbak. Dari muda. Suka mukul. Istrinya dulu sering kelihatan lebam. Anaknya yang ke kota itu kabur, nggak balik-balik. Orang takut sama Kowi bukan karena dia nyimpen orang gila. Takut sama Kowi-nya sendiri."
Rani duduk diam, mencerna. Ada perbedaan besar—perbedaan yang mengubah seluruh sifat kasus ini—antara keluarga yang memasung karena putus asa dan keluarga yang memasung sebagai bagian dari pola kekerasan yang lebih luas. Yang pertama adalah tragedi sistem; ia tahu cara menanganinya, dengan empati, sumber daya, kesabaran. Yang kedua adalah kejahatan. Dan kejahatan butuh penanganan yang sama sekali berbeda.
"Bu Inah," katanya hati-hati. "Lebam, mukul—itu Pak Kowi ke istrinya. Ada yang denger soal Darto? Soal gimana Darto diperlakukan?"
Bu Inah menunduk. Tangannya yang biasa mantap mengaduk-aduk ujung kerudungnya. "Ada satu, Mbak. Bu Tarni, yang rumahnya paling deket. Dia tua banget sekarang, hampir delapan puluh. Saya tanya hati-hati. Dia nangis. Dia bilang—" Bu Inah menelan ludah. "Dia bilang dulu, kalau malam, kadang kedengeran. Bukan cuma erangan. Bunyi... pukulan. Sama suara Darto. Terus diem. Terus erangan lagi. Bertahun, katanya. Mereka semua denger. Nggak ada yang berani."
Ruangan terasa dingin. Rani teringat erangan monoton yang ia dengar dari balik tembok—suara seseorang yang telah berhenti berharap ada yang mendengar. Kini ia mengerti kenapa. Selama empat puluh tahun, ada yang mendengar. Seluruh kampung mendengar. Dan memilih, malam demi malam, untuk tidak mendengar.
Kasus ini, ia menyadari dengan jantung yang berat, telah melampaui ranah medis. Sutejo, Wulan, Ratri—semua bisa ia tangani dengan obat, kunjungan, edukasi, pembebasan pelan yang membangun kepercayaan. Tapi Darto bukan sekadar pasien yang dipasung. Darto adalah—jika yang dikatakan Bu Tarni benar—korban kekerasan selama puluhan tahun. Dan membebaskannya tidak akan sesederhana membuka rantai. Itu berarti masuk ke rumah seorang lelaki keras yang menjaga rahasianya dengan anjing dan ketakutan. Itu berarti membongkar sesuatu yang seluruh kampung telah kubur dengan diam selama empat dekade.
"Mbak mau ngapain?" tanya Bu Inah pelan, melihat wajah Rani.
Rani menatap peta di dinding, titik merah tebal di ujung barat yang kini ia tahu menyembunyikan bukan hanya rantai, tapi luka yang lebih dalam dari rantai. Sebagian dirinya—yang lelah, yang baru pulih dari kolaps, yang baru belajar batas—berbisik bahwa ini terlalu besar, terlalu berbahaya, di luar wewenangnya sebagai perawat.
Tapi bagian lain, bagian yang membawanya pulang ke kampung ini, bagian yang mendengar erangan Bagas dalam erangan Darto, tahu bahwa ia tak bisa berpura-pura tuli seperti seluruh kampung selama empat puluh tahun.
"Saya belum tahu, Bu," jawabnya jujur. "Tapi saya tahu satu hal. Membebaskan Darto bukan cuma soal buka rantai. Itu berarti ngebongkar sesuatu yang keluarga itu—yang seluruh kampung ini—rela bunuh diam-diam supaya tetep tersimpan." Ia menatap Bu Inah. "Dan begitu saya ketuk pintu itu sungguhan, nggak ada jalan mundur lagi."