Ayah Shinta tidak habis pikir, putri bungsunya menolak perjodohan dengan putra kedua dari gubernur setempat. Ia sangat kuat menduga bahwa ada yang disembunyikan oleh Shinta. Namun beliau juga tidak percaya jika anaknya tersebut sudah memiliki kekasih, pasalnya tak pernah ada seorang pria pun yang Shinta ajak datang ke rumah apalagi diperkenalkan kepada orang tuanya. Setahu sang Ayah, Shinta hanya sibuk memperdalam ilmu bahasa asing dan seni ketrampilan tangan.
Ayahnya kemudian berniat untuk menggeledah kamar Shinta. Mungkin ada sesuatu yang ia sembunyikan. Kebetulan pada saat itu Shinta sedang pergi ke yayasan. Ayahnya membuka pintu kamar yang terkunci itu dengan kunci cadangan. Safya yang tidak sengaja mengetahui hal tersebut, langsung berlari menuju taman belakang kamar mbak Shinta. Ia curiga dengan gelagat ayah Shinta yang dari dulu tidak pernah masuk ke kamar tanpa sepengetahuan anaknya. Safya berinisiatif mengambil surat-surat yang disimpan di laci meja tempat Shinta biasa membaca buku.
Ketika meraup amplop-amplop surat tersebut, Safya sekejap melihat ke arah miniatur rumah adat Limas. Dirinya sempat ragu untuk ikut menyembunyikannya atau tidak. Tiba-tiba terdengar suara kunci pintu belakang kamar Shinta dibuka. Karena takut si Bapak akan segera keluar, Safya cepat-cepat lari dengan barang cakupan di tangan. Hanya berselang beberapa detik saja saat laki-laki berusia limapuluh tahunan itu membuka daun pintu kamar. Namun betapa ceroboh Safya saat genting seperti tadi. Ia menjatuhkan hal yang paling penting. Sampul surat yang Yusuf kirimkan saat meminta Shinta untuk menjadi kekasihnya tercecer, tepat di depan kaki sang Ayah. Isi surat itu dibaca hingga memunculkan percikan amarah di hatinya.
Pada malam hari seperti kebiasaan rutinnya sebelum tidur, Shinta menyempatkan diri untuk membaca buku di dekat taman. Betapa terkejutnya ia tidak mendapati miniatur rumah adat itu berada di tempatnya yang biasa diterangi oleh cahaya lampu minyak di malam hari. Refleks Shinta juga langsung memeriksa laci mejanya. Semua surat dari Yusuf sudah raib termasuk surat-surat yang dibuat Rama. Kemudian ia berlari mencari mbok Darsih di kamar belakang.
“Mbok! Simbok Darsih!” Panggil Shinta.
“Iya Mbak!” Jawab mbok Darsih langsung keluar dari dalam kamarnya. “Ada apa mbak Shinta?”
“Mbok, tadi lihat miniatur rumah di taman tidak? Lalu surat-suratku di laci juga hilang kemana?” Tanya Shinta dengan perasaan khawatir.
“Tadi pagi sewaktu simbok bersih-bersih ya masih ada di sana! Simbok tidak tahu kalau ada yang memindahkan.” Jawab mbok Darsih apa adanya.
Ditengah kerisauan itu, Safya muncul dari arah dapur di ruang sebelah. Shinta langsung menanyainya, “Safya kamu tahu barang-barang yang saya simpan di meja dekat taman?”.
“Oh! Maaf Mbak, saya baru ingat! Tadi saya melihat Bapak menggeledahi kamarnya mbak Shinta. Jadi karena takut ketahuan, saya mengambil semua surat-surat di laci itu. Masih saya simpankan di dalam lemari sana!” Kata Safya sambil menunjuk ke dalam kamarnya bersama mbok Darsih.
“Syukurlah kalau begitu! Lalu, dimana kamu pindahkan miniatur rumah adat itu?” Tanya Shinta ladi.
“Miniatur? Sebenarnya tadi sempat mau saya amankan. Tetapi karena waktunya sempit jadi saya tinggalkan begitu saja di atas bangku taman itu.” Jelas si Safya.
Shinta semakin resah karena belum mengetahui dimana kenang-kenangan dari Yusuf itu berada. Ia juga menanyakan kepada pak Subekti sebagai penjaga rumah. Namun pak Subekti juga tidak mengetahui apa-apa. Pada saat itu ibunya tiba-tiba memanggil Shinta untuk masuk ke ruang keluarga. Di sana sudah ada ayahnya yang duduk di kursi menunggu dengan tangan dilipat dan raut muka serius.
“Duduklah! Pinta sang Ibu kepada Shinta.
Shinta kemudian mengambil tempat duduk yang sedikit berjarak dengan ayahnya.
“Bapak kira selama ini sudah memenuhi segala keinginannmu. Kamu ingin mengambil kursus ini itu Bapak turuti. Kamu berencana melanjutkan pendidikan tinggi juga Bapak Ibumu iya-iya saja. Terserah kamu mau berbuat apa untuk kesenanganmu. Tapi bagaimana bisa kamu menolak permintaan Bapak untuk menjodohkanmu dengan anak pak Gubernur?” Ujar Ayah Shinta.
Shinta tidak mengerti kenapa ayahnya tiba-tiba menyinggung pembicaraan tentang hal tersebut.
“Kamu anggap bisa menyembunyikan semuanya dari Bapakmu ini?” Tanya si Bapak.
Shinta semakin tidak mengerti arah pembicaraan ini.
“Bapak tidak mau tahu. Besok lusa kita akan bertemu dengan pak Gubernur beserta anaknya. Bapak sudah buat janji mau ketemuan di luar!” Tegasnya.
“Bapak tidak seharusnya membuat keputusan begitu saja!” Kata Shinta yang terkejut mendengar ucapan bapaknya.
“Untuk apa? Tidak seharusnya bapak menunda-nunda lagi. Pokoknya pertunangan itu harus secepatnya dilaksanakan. Kalau perlu langsung kita gelar pernikahannya saja!” Desak ayah Shinta tersebut.
“Kalau Bapak terus memaksakan hal ini lebih baik Shinta pergi!” Shinta mencoba melawan.
“Pergi? Hah! Apa kau mau pergi dengan pria asal Palembang yang tidak diketahui latar belakang keluarganya itu?” Gertak sang Ayah.
“Dari mana ayah…?” Pertanyaan Shinta langsung dijawab tegas oleh ayahnya dengan melemparkan selembar surat yang dikeluarkan dari saku. Shinta lalu memungutnya dari lantai dan mencermati apa yang tertulis di kertas itu.
“Ini yang sebenarnya kamu inginkan? Batang hidungnya pun belum pernah terlihat di rumah ini. Apa itu yang kamu tunggu?” Amarah Ayah Shinta meledak. Kemudian ia masuk ke dalam ruang kerjanya dan keluar dengan membawa miniatur rumah yang dibuatkan Yusuf untuk Shinta. Kemudian sang Ayah berjalan cepat menuju ke halaman belakang rumah. Shinta pun langsung berlari mengikutinya dan berusaha merebut kembali barang miliknya tersebut.
Braaaaaaak!
Hasil karya itu remuk seketika hingga menjadi beberapa bagian. Lalu ayahnya menuangkan cairan minyak pada benda yang dibanting tersebut. Ia pun mengeluarkan korek api dari sakunya dan menyulutkannya. Api pun dengan cepat menyala dan membakar seluruh potongan miniatur yang terbuat dari kayu tersebut. Shinta tak kuasa menahan emosinya sampai ia berupaya mengais potongan-potongan yang sudah terbakar dengan tangannya. Ibunya yang menyaksikan hal itu segera menghentikan perbuatan Shinta karena melukai dirinya sendiri.
“Hentikan Nduk! Jangan biarkan jari tanganmu terluka hanya untuk benda seperti ini!” Nasihat ibunya sambil menggenggam pergelangan tangan Shinta.
Kulit ujung jarinya sudah nampak melepuh dan hitam terkena arang. Sang Ibu kemudian membujuk Shinta untuk masuk ke kamar. Namun ia tetap memandang sesal ke arah api yang membara. Orang tuanya pun meninggalkan Shinta sendiri agar ia akhirnya sadar dan mengerti. Mbok Darsih dan juga Safya yang menyaksikan semua kejadian itu tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka lalu mengajak si Nona Muda untuk masuk ke dalam. Namun ia tetap menolak dalam diam. Mbok Darsih kemudian hanya mengoleskan obat dan membalutkan luka bakar di jari-jari tangan Shinta.
Segera setelah nyala api habis membakar apa yang dilahapnya, Shinta kembali mengorek pada tumpukan abu dan arang yang tersisa. Safya yang masih menemani hanya memperhatikan kelakuan Shinta.
“Untunglah masih selamat!” Ucap Shinta penuh rasa lega.
“Apanya yang selamat Mbak?” Tanya Safya.
“Ini! Aku menyimpan pena ini di dalam miniaturnya.” Kata Shinta sembari menunjukkan pena yang sudah sedikit gosong pada sisi luarnya.
“Kalau hanya pena, mbak Shinta kan bisa beli yang baru?” Saran si Safya.
“Saya tidak bisa Safya! Karena pena ini satu-satunya bagi saya. Ini adalah milik Yusuf. Terselip pada buku catatan bersampul biru yang pernah saya ceritakan padamu. Setiap saya menulis surat untuknya, selalu saja menggunakan pena ini. Semoga masih bisa berfungsi!” Ujar Shinta.
Safya hanya pasrah dengan sikap Shinta yang seperti itu.
Keesokannya, pada hari Minggu pagi Rama datang sekadar untuk melihat Shinta dari luar pagar. Akan tetapi ia sama sekali tak mendapati Shinta ada di halaman rumah, pintu belakang kamarnya juga tertutup. Suasana nampak sepi di hari libur seperti ini.
“Siapa Kamu?” Tanya pak Bupati tiba-tiba muncul di depan mata Rama.
“Rama, Pak!” Jawabnya dengan rasa was-was.
“Rama siapa?” Selidik ayah Shinta tersebut.
“Tukang pos, Pak!” Jawaban Rama.
Ayah Shinta terus menekan Rama dengan pertanyaan. “Hari Minggu kok masih kerja? Mau cari siapa ke sini pagi-pagi?”
“Shinta, Pak! Eh!” Rama keceplosan.
Mata sang Bupati langsung menyorot tajam ke wajah Rama. Ayah Shinta tersebut langsung menarik kerah baju si Rama.
“Jadi kamu yang selama ini mengantarkan surat dari anak Palembang itu?” Tanya si Bapak dengan paksa.
“Sa, Saya tidak mengerti apa yang pak Bupati maksud!” Rama mencoba menutupi.
“Tidak usah banyak alasan kamu! Kalau pak Narendra tidak mungkin dia akan menyembunyikannya dari saya. Lalu siapa lagi kalau bukan selain kamu ini?” Gertaknya.
“Ingat! Mulai sekarang kamu jangan mengantarkan apapun untuk Shinta lagi. Saya tidak ingin siapapun berusaha mengganggu kehidupannya. Hari ini juga Shinta akan saya bawa untuk bertemu dengan laki-laki yang pantas untuknya. Mengerti!” Ancam ayah Shinta dengan keras lalu mendorong tubuh Rama hingga membentur tembok pagar.
Bupati itu meninggalkan Rama dalam keadaan bingung sekaligus ketakutan.
“Apa yang terjadi sebenarnya? Apa semua rahasia Shinta sudah diketahui oleh ayahnya? Lalu bagaimana keadaan Shinta sekarang?” Rama dipenuhi oleh kekhawatiran.
Tidak ada yang bisa ia temui untuk dimintai penjelasan. Kemudian Rama hanya terduduk di atas sepeda onthelnya. Hampir satu jam ia mengamati kondisi rumah dinas itu. Rasa kantuk dan bosan mulai menghinggapi dirinya. Tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam keluar dari pintu pagar samping rumah.
Rama melihat ke arah mobil dan dari kaca jendela belakang yang terbuka, nampak Shinta menghadapkan wajahnya ke arah luar. Tidak sengaja ia juga melihat Rama berdiri dengan sepedanya di samping tembok pagar. Namun mereka sama-sama hanya mengarahkan pandangan dalam diam dan dilema. Rama kemudian mencoba untuk mengikuti arah mobil pergi. Akan tetapi kecepatan tunggangannya tidak sebanding dengan laju kendaraan tersebut. Rama tertinggal di tepi jalan raya.
Hati rama dirundung kegelisahan, hingga tanpa sadar ia malah mengayuh sepeda kembali ke kediaman Shinta.
“Apa yang mau aku lakukan di sini lagi?” Tanyanya pada diri sendiri. Rama pun hendak pulang ke rumah, tapi Safya tiba-tiba memanggilnya.
“Rama!” Baru pertama ini Safya memanggil dengan nama Rama.
Orang yang dipanggil pun membalikkan muka dan melihat ke arah orang yang memanggil. Tanpa satu kalimat yang terucap, Safya langsung mengajak Rama untuk masuk ke dalam halaman rumah. Safya menceritakan apa yang telah terjadi pada dua malam kemarin. Ia juga memperlihatkan bekas sisa dimana cenderamata itu telah dihanguskan.
“Sekarang apa yang bisa kamu perbuat? Bahkan ayahnya berencana mempercepat perjodohan itu baik dengan persetujuan mbak Shinta ataupun tidak sama sekali.” Safya memberi tahu.
Rama tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan untuk membantu Shinta. Seketika ia kehilangan kemampuan untuk memikirkan jalan keluar.
“Ini!” Rama memberikan secarik kertas bertuliskan alamat tempat ia bekerja.
“Kirim surat ke kantor atau mintakan seseorang untuk datang memberi kabar padaku jika nanti terjadi sesuatu. Bagaimanapun juga saya sudah berjanji untuk membantunya jika Shinta membutuhkan uluran tangan.” Pesan Rama kepada Safya.
“Saya pulang dulu. Terima kasih sebelumnya!” Pamit Rama yang segera pergi meninggalkan Safya yang masih menyimpan satu pertanyaan di benaknya.