Entah kenapa Safya sangat yakin bahwa Rama yang telah membawa kabur Shinta. Safya harus segera menemukannya. Safya langsung teringat alamat yang pernah diberikan oleh Rama pada secarik kertas.
“Tapi ini alamat kantor jasa SERAT SURYA itu! Kenapa bukan alamat rumahnya saja yang ia berikan? Apa dia ingat bahwa aku pernah datang ke rumah pamannya waktu itu?” Safya berbicara sendiri.
Safya kemudian berpikir untuk mencoba mencari Rama di tempat kerjanya tersebut. Karena untuk menjaga kerahasiaan, Safya memutuskan pergi sendiri dengan menaiki sepeda milik Shinta. Cukup lihai ia mengendalikan kendaraan manual itu, hingga jalanan kasar berlubang dan berbatu pun diterobos begitu cepat. Safya tidak peduli dengan suara berisik disebabkan baut-baut yang longgar karena getaran yang tak biasa. Akhirnya dengan sigap ia menarik rem sepeda. Alhasil keranjang sepeda itu lepas dari tempatnya dan jatuh terguling.
Sayang sesampainya di sana ternyata kantornya tutup. Safya lupa jika hari ini tepat akhir tahun, jadi semuanya libur. Bahkan semua kios di kawasan tersebut juga tidak ada yang buka. Hanya beberapa pedagang kaki lima yang masih berjualan di pinggir jalan depan pasar. Safya celingukan sendiri. Ia berencana untuk mencari Rama langsung ke rumah pamannya. Namun tanpa diharapkan, mas Jo berjalan dengan seekor ayam hidup yang dikempit di bawah lengan kirinya. Mas Jo mendatangi si Safya.
“Kantornya tutup kenapa kemari?” Tanya mas Jo yang tidak asing lagi dengan wajah Safya.
“Kamu tahu Rama sekarang ada di mana?” Safya balik bertanya.
“Tadi pagi ada di rumahnya.” Jawab si Paijo.
“Bagaimana kamu tahu?” Kata Safya yang tidak percaya.
“Ya tahulah! Kami kan bertetangga dekat!” Ucap mas Jo.
Safya langsung bertindak, “Oke, kalau begitu antar saya ke sana! Cepat!. Safya mendesak mas Jo untuk menaiki sepeda dan ia duduk di boncengan.
“Eeh, tunggu sebentar! Ini sepedanya diperbaiki dulu. Ini! Bawakan ayamnya!” Pinta mas Jo langsung memindahtangankan ayam hidup yang baru dibelinya kepada Safya.
Mas Jo sekalian pulang ke rumah waktu itu, sehingga ia meninggalkan temannya yang masih memilih beberapa ekor ayam lagi untuk dibeli dari sebuah peternakan.
Sesampainya di depan sebuah rumah, Safya melihat Shinta sedang berkumpul bersama beberapa ibu dan gadis-gadis lain. Shinta yang mengetahui kedatangan Safya bersama mas Jo langsung menyambut dengan hangat.
“Kamu mau ikut membantu kami memasak Safya? Kita sudah meyiapkan beragam resep makanan yang akan dihidangkan saat acara pergantian tahun nanti malam.” Kata Shinta bersemangat.
Safya menanggapi dengan sedikit senyuman. “Kelihatannya mbak Shinta sangat senang berada di sini. Apa sudah tidak memikirkan bagaimana keadaan orang di rumah?” Pertanyaan itu dalam sekejap mengubah air muka Shinta menjadi murung.
“Saya harap mbak Shinta segera pulang. Kasihan Ibu semalam sampai tidak bisa tidur karena khawatir! Sejujurnya kaburnya mbak Shinta dari rumah sama sekali tidak menyelesaikan permasalahan ini.” Ujar Safya.
Shinta merasa resah. “Saya tahu itu, Safya! Ini satu-satunya jalan pintas bagi saya untuk mencegah pertunangan itu. Entah sampai kapan saya bisa mengulur waktu karena Yusuf belum juga memberikan jawabannya.”
Meski tidak mengenal, Safya semakin merasa geram ketika nama Yusuf disebutkan. “Sebaiknya mbak Shinta membuang jauh-jauh ingatan tentang orang itu. Safya rasa dia bukan orang yang baik. Kalau ia peduli denganmu dia pasti dengan cepat memberikan balasan surat dan tidak membuatmu menunggu tanpa kepastian seperti ini!” Tegas Safya.
“Maaf Mbak! Saya memang bukan orang yang pantas untuk didengar ucapannya. Tapi saya sendiri sebagai seorang perempuan juga tidak mau kalau dibodohi terus!” Kata Safya sedikit terbawa emosi.
Shinta termenung mendengar ucapannya. Kalimat itu sedikit banyak memang menyindirnya. Kemudian Safya menggenggam tangan Shinta dan meminta maaf karena sikapnya yang berlebihan. Ia juga akhirnya menceritakan ancaman ayah Shinta kepada dirinya. Safya yang masih begitu muda belum pernah dan tidak pernah ingin berurusan dengan hukum di pengadilan.
“Maafkan Saya, Safya! Kamu harus mengalami kesulitan karena semua ini. Beri waktu saya sampai malam ini saja. Besok saya janji akan pulang ke rumah. Saya akan berbicara sendiri ke Ayah.” Terang Shinta.
Selepas itu Safya pamit pulang terlebih dahulu, takut pak Bupati nanti curiga jika sampai sore ia belum kembali. Kini Safya sudah merasa lega karena keberadaan Shinta sudah diketahui. Meski di sana dia tak sempat mengomeli Rama yang juga membuatnya repot seperti ini.
Tepat sebelum jam memasak untuk makan malam, Safya tiba di kediaman si Bapak bupati. Ia langsung mencari bude Darsih di dapur dan mengajak bicara empat mata di dalam kamar mereka. Di lain kesempatan, bu Ajeng masuk ke ruang dapur dan menemukan adonan mentah yang ditinggalkan oleh si tukang masak.
“Kemana simbok Darsih? Kok masakannya ditinggal begini!” Tutur ibu Shinta tersebut.
Kemudian beliau mencarinya di kamar pribadi mbok Darsih. Sayup-sayup ia mendengar suara orang yang berbincang dengan lirih. Bu Ajeng yang curiga langsung pergi melapor ke suaminya, ayah Shinta. Tanpa memastikan kabar itu, ayah Shinta langsung menghubungi para preman bayaran untuk mencari orang yang bernama Rama. Ia baru memberikan alamat yang akurat setelah memperoleh pengakuan dari Safya dibawah ancamannya.
Para preman beraksi dengan mengendarai sepeda motor yang diberikan sebagai ganti atas tertangkapnya beberapa kawan mereka karena melaksanakan misi terlarang dari pak Bupati. Di malam itu, sekelompok orang tersebut masuk ke wilayah desa dan tidak sulit untuk menemukan rumah dimana si Rama tinggal. Namun rumah itu nampak sangat sepi dan tidak ada cahaya dari dalam padahal baru jam delapan malam. Begitu juga yang terlihat dari rumah-rumah di sekitarnya. Keenam preman bayaran mencoba untuk menyusuri jalanan di pemukiman tersebut. Sampai akhirnya mereka menjumpai keramaian di halaman rumah Kepala Desa setempat.
Tanpa ada sopan santun, tiba-tiba mereka masuk dan mengganggu kekhidmatan acara pada malam pergantian tahun itu.
“Tunjukkan kepada kami! Siapa yang bernama Rama di sini!” Gertak salah seorang dari preman.
Bapak Kepala Desa yang tengah memberikan kata sambutan secara spontan menanggapi, “Ada maksud apa anda berenam datang ke desa kami? Tolong jangan buat keributan di sini!”.
“Kami tidak ingin cari ribut. Kami hanya minta serahkan Rama kepada kami sekarang juga!” Jawab preman yang lainnya.
“Siapa yang bernama Rama? Cepat keluar!” Teriak satu preman lagi berusaha menakut-nakuti. Semua warga yang berkumpul di tempat itu berbicara satu sama lain hingga membuat kebisingan. Bapak Kepala Desa beberapa tokoh masyarakat yang lain mencoba menghadapi situasi dengan kepala dingin. Sementara Rama yang berkali-kali namanya disebut, diam-diam keluar dari barisan tempat duduknya lalu mencari Shinta di barisan kaum hawa. Rama mengajak Shinta untuk pergi karena merasakan situasi yang berbahaya saat ini.
Celakanya, salah seorang anak buah preman memergoki kepergian mereka berdua.
“Itu mereka!” Serunya mengalihkan perhatian seluruh kawanannya.
Keenam preman berusaha mengejar Rama dan Shinta yang kabur. Namun, seketika itu juga barisan warga yang sudah teratur rapi semuanya menyebar dan menghalangi aksi para preman. Persekusi tidak dapat dihindari. Empat dari enam orang preman berhasil diamankan oleh warga. Sedangkan dua lainnya lolos dari pengepungan oleh massa dan terus berlari mengejar target mereka. Rama dan Shinta tidak bisa menemukan tempat sembunyi karena kedua preman berhasil membuntuti mereka. Aksi kejar-mengejar terus terjadi. Nyaris saja jaket Rama berhasil diterkam oleh kuku-kuku jari tangan yang kotor dari salah seorang pria yang mengejarnya itu.
Tiba-tiba, sekelebat sosok berkain putih melompat tepat di depan mata si duo preman.
“Aaaaarrrrrgh!” Sontak dua orang yang mengejar Rama berteriak karena terkejut dan gemetar ketakutan. Bahkan salah satunya sampai pingsan di tempat.
“Heh! Jangan pingsan di sini. Ayo kita kembali ke motor!” Bisik kawannya. Si preman yang pingsan tiba-tiba langsung membuka mata dan berdiri. “Aaaaarrrrgh! Keduanya kembali berteriak kencang karena sosok putih itu menampakkan wajah datar dengan mata sayu dan senyum menyeringai dari sela-sela kain, lalu secepat kilat berlari menjauh darinya.
“Sial! Mereka melihat wajahku ku lebih menakutkan daripada hantu, apa? Bwuahah, napasnya bau sekali!” Sindir mas Jo yang sudah tidak tahan lagi dan mengibaskan kain putih yang menutupi raganya.
“Ternyata mas Jo dibalik kain itu?” Tanya Rama yang baru saja menyaksikan salah satu adegan seperti di film horor.
“Hehe! Ideku lumayan berhasil, kan?” Kata mas Jo dengan percaya diri.
Rama, Shinta juga mas Jo tertawa bersama karena lelucon yang dibuat.
.......
Duk!
Seseorang dengan sengaja memukul bagian belakang mas Jo hingga membuatnya pingsan. Sekejap mata dua pasang sarung tangan hitam membekap mulut Rama dan Shinta. Tubuh keduanya ditarik paksa ke dalam sebuah mobil hardtop. Dengan mata dan mulut tertutup, Rama dan Shinta dibawa dalam perjalanan menuju tempat yang tidak diketahui.
Sesampainya di suatu bangunan lama, Rama termasuk Shinta disekap dalam satu ruang. Mata dan mulut mereka dibuka namun mereka terduduk dengan kedua tangan kaki diikat. Orang-orang itu meninggalkan mereka berdua dalam ruangan yang gelap gulita sampai terang pada keesokan paginya. Rama tidak bisa melihat satu celah cahaya sedikitpun untuk mencari jalan keluar. Keduanya akhirnya pasrah untuk menunggu sampai besok, saat sinar matahari telah masuk melalui sela-sela ventilasi udara di atas sebuah jendela kayu yang tertutup.