Tunas-tunas itu telah tumbuh dan memunculkan bakal bunga di pekarangan. Mekar bulat memerah dari bunganya kini dinanti oleh orang yang menanam. Ibu Rama, duduk-duduk di kursi teras sambil menanti kepulangan sang Anak bersama mendungnya langit senja yang memayungi. Sorotan lampu dari sepeda motor menerangi arah lajunya. Rama sudah pulang.
“Kok bajumu basah begitu, Rama? Bukannya pakai mantol? Perasaan juga belum turun hujan!” Kata ibunya.
Rama mengangin-anginkan jas hujan yang baru saja dilepaskannya. “Tadi dari lokasi proyek sudah hujan deras, Bu. Terangnya baru dekat-dekat sini! Barangkali sebentar lagi juga turun hujan.” Jelas si Rama.
“Oh begitu! Ya sudah sana, kamu langsung mandi pakai air hangat supaya tidak masuk angin!” Perintah si Ibu.
“Iya.” Jawab Rama.
Ibu Rama kemudian masuk ke dapur untuk membuatkan segelas teh hangat. Mas Eka tiba-tiba muncul dari pintu belakang. Ia membawakan lauk ikan goreng yang masih panas dari rumahnya. Setelah mempunyai anak, mas Eka membangun rumahnya sendiri bersebelahan dengan rumah yang ditempati Ibu dan Rama. Di atas tanah warisan sang Ayah tersebut, mas Eka bertahan menghidupi keluarga kecilnya. Bau amis dari ikan-ikan laut sudah seperti minyak wanginya sehari-hari.
“Rama belum pulang, Bu?” Tanya mas Eka sambil meletakkan sepiring ikan goreng bumbu di atas meja makan.
“Sudah. Masih di kamar mandi. Tadi pulang dia sudah kehujanan.” Tutur ibunya.
Mas Eka lalu melihat-lihat isi panci. “Bahan sayurannya sudah habis, Bu?”
“Masih ada. Ibu simpan di pendingin.” Jawab Ibu.
“Terus kenapa Ibu tidak memasak sayur untuk makan malam? Ini pancinya hanya berisi air!” Kata mas Eka.
“Iya, Ibu memang sengaja. Niatnya mau membuat mi instan saja, soalnya Ibu masih sedikit lelah membuat soto seharian.” Ucap si Ibu.
Mas Eka mengambil sepotong kerupuk dari dalam kaleng. Bertanya ia, “Tadi ramai sekali ya di warung?” lalu menggigit kerupuk yang ternyata sudah melempem.
“Alhamdulillah! Masih banyak yang suka soto buatan Ibu!” Jawabnya penuh syukur.
Pertanyaannya sudah dijawab oleh ibu, mas Eka malah sibuk beradu dengan kerupuk yang masih tersangkut di giginya.
“Alot ya? Itu sisa kerupuk minggu lalu. Terakhir Rama yang makan lupa menutup kaleng kerupuknya.” Ujar ibu memberitahu.
“Oalah, pantas saja! Saya kembali ke rumah dulu. Ibu mau sayur tumis kacang? Baru saja Dewi selesai masak. Kalau mau Eka ambilkan.” Tawar mas Eka.
“Sudah, kalian saja yang makan! Ibu juga sedang kurang berselera makan sayur.” Penjelasan dari ibunya.
“Lalu Rama bagaimana?” Mas Eka bertanya lagi.
“Biar nanti makan bersama Ibu. Pakai lauk saja juga sudah cukup. Kalau kurang ya… paling dia buat mi sendiri.” Jawab Ibu dari dua anak laki-laki tersebut.
Mas Eka pun keluar lagi dari pintu belakang.
“Bicara sama siapa Ibu?” Tanya Rama yang tiba-tiba muncul mengganti kehadiran sang Kakak di dapur itu.
Dengan berpakaian kaos, celana Training panjang serta handuk yang masih tersampir di bahu Rama langsung mengambil piring, nasi dan satu ikan air tawar yang sudah digoreng sampai garing kulitnya ditambah satu sendok makan sambal terasi.
Sambil mengambil menu makan malamnya Rama bertanya, “Tadi mas Eka ke sini?”
“Iya! Baru saja ia keluar. Bagaimana tadi pekerjaanmu?” Tanya ibu Rama.
“Ya begitulah Bu!” Jawab Rama menambah rasa penasaran si Ibu.
“Lah, kenapa? Sepertinya kamu merasa kesal. Ada yang menghambat pekerjaanmu ya?” Duga ibunya.
“Tidak ada kok Bu! Hanya merasa sedikit bosan karena masih harus survey lapangan. Tapi leganya tadi adalah hari terakhir kami melakukannya.” Jawab si Rama. Padahal yang membuat Rama lega adalah mungkin juga menjadi hari terakhirnya bertemu dengan Safya yang menyusahkan dirinya.
Benar saja! Sejak insiden angsa itu, Rama tidak lagi berjumpa dengan Safya. Bahkan batang hidungnya pun tidak berani muncul di hadapan si Rama. Hal tersebut dikarenakan kini Rama hanya tinggal di kantor untuk menggambar desain rancangannya. Akan tetapi kemana wanita itu?. Dalam daftar absensi karyawan tertulis bahwa Safya sakit. Apakah dia mengalami demam tinggi karena kehujanan waktu itu?. Tapi izinnya hanya dua hari, dan sekarang sudah lebih dari dua minggu Safya tidak masuk kerja. Posisinya juga telah digantikan oleh orang lain. Ternyata Safya pindah ke tempat kerja baru bersama Reni yang sudah lebih dulu bekerja di sana.
“Kamu benar tidak menyesal sudah keluar dari produsen gerabah itu, Ya?” Tanya Reni membuka obrolan di kamar kos sore itu diiringi alunan lagu yang diputar dari sebuah radio.
“Bukannya kamu selalu berusaha keras selama ini untuk bertahan di sana?” Sambungnya.
Sejenak Safya menghela nafas. “Memang! Padahal aku baru berhasil membuat satu hasil karyaku sendiri! Tapi semuanya menjadi hancur.” Keluh si Safya.
“Kalau begitu kenapa kamu harus keluar? Kamu bisa memulainya lagi dari awal!” Saran Reni.
“Hemm! Lebih baik jika aku membuat sesuatu yang lain.” Pikir Safya.
“Maka dari itu saya ikut denganmu, Ren! Suasana kerjanya enak, ada angina semilir dan bunyi deru ombak dari pantai. Kalau bosan kerja di dalam ruangan tinggal keluar. Langsung saja mata ini tersegarkan oleh pemandangan keindahan batas daratan dan lautan di sana.” Kata Safya memperjelas alasannya.
“Bohong!” Tegas Reni sambil menurunkan volume suara radio.
“Ha?” Kaget si Safya.
“Kamu pasti menyembunyikan sesuatu bukan? Safya itu seorang yang keras kepala. Jadi mana mungkin tiba-tiba mundur dari lingkungan pekerjaan yang sudah membuatnya sangat tertarik sejak awal?” Jelas temannya tersebut.
“Kita memang baru beberapa tahun berteman dekat, tapi saya tahu kalau kamu sedang menyembunyikan masalah pasti sukanya makan petai. Apa-apa lalapannya petai. Perutmu kalau sampai sakit baru tahu rasa! Di mana-mana bau petai, sampai saya sudah tidak tahan.” Gerutu si Reni terhadap kebiasaan Safya.
Safya membela diri, “Iya, iya! Maklumlah! Lagi pula aku makannya juga tidak sering kok! Makanya kamu coba juga Ren, biar kita bisa saling berbagi tahu!”
“Bukan berbagi tahu namanya, tapi berbagi bau baru aku percaya!” Sanggah Reni atas tawaran tersebut. “Lalu apa alasan sebenarnya, kamu keluar dari sana?” Reni kembali bertanya untuk memastikan.
“Entahlah! Saya juga tidak yakin. Saya merasa malu dengan diri saya sendiri.” Jawab Safya.
“Kenapa kamu ini? Apa semua ini ada masalahnya dengan Rama?” Tebak Reni keceplosan.
Safya sama sekali tidak menduga. “Dari mana kamu tahu namanya? Rasanya saya tidak pernah memberitahumu!”
“Lah? Aku juga tidak tahu sama sekali lho! Aku hanya baru saja dengar dari drama radio. Memangnya siapa Rama yang kamu maksud?” Reni ingin tahu.
Safya menghela napas sekali lagi. Safya merasa malas untuk menjelaskannya kepada Reni. Pada akhirnya obrolan itu menjadi sia-sia tanpa kesimpulan yang berarti. Safya lalu kembali ke kamar kosnya sendiri mengistirahatkan sementara beban di hidupnya.
Sementara itu, malam semakin larut. Suara katak mengorek berlomba dengan suara jangkrik mengerik, meramaikan hawa dingin seusai hujan berhenti. Rama berdiri sendiri di atas pasir pantai. Kekuatan angin menerpa dengan lembut dan menyibakkan ujung-ujung rambutnya yang tertahan oleh topi yang Rama pakai. Ia melihat seorang wanita dengan rambut panjang terurai berdiri menghadap ke arah laut. Kemudian tampak wanita itu menemukan sebuah botol yang terdampar di pinggir pantai. Tanpa ragu ia membukanya dan mengeluarkan satu gulungan kertas yang tidak terkoyak oleh terjangan ombak dari laut lepas selama bertahun-tahun. Seketika Rama teringat kisahnya dahulu, saat ia melemparkan sebuah botol ke dalam aliran sungai yang cukup deras. Benda itu adalah miliknya. Dan lembaran kertas itu berisi tulisan tangannya. Rama kemudian berjalan mendekati wanita tersebut. Rama tidak bisa melihat wajah dari seseorang yang tengah menunduk sambil membaca kalimat-kalimatnya.
“Kini cinta pertama telah pergi dan meninggalkanku. Siapapun yang menemukan surat ini, maka Dia akan menjadi cinta terakhirku!” Begitulah tulis sang Rama.
“Anda siapa?” Tanya Rama kepada sosok wanita di hadapannya.
Dia masih tidak menunjukkan wajahnya kepada Rama. “Benarkah yang tertulis di sini adalah menjadi janjimu?” Tanya wanita itu.
“Benar! Saya Rama, orang yang telah menulisnya beberapa tahun silam. Apa saya mengenal Anda?” Ucap si Rama.
“Saya rasa begitu.” Jawab si Wanita.
“Jika demikian, bersediakah Anda untuk memperlihatkan wajah jika benar kita telah saling mengenal sebelumnya?” Pinta Rama secara halus.
Wanita itu membalikkan badannya dan menunjukkan dengan jelas wajah yang sungguh-sungguh Rama kenal meskipun dalam keadaan terpaksa. Rama hampir saja pingsan. Safya, wanita itu adalah Safya.
“Tidak...! Tidak…! Bukan saya yang menulisnya!” Teriak Rama lalu berusaha lari dari Safya. “Tolong...! Jangan ikuti aku…!”
Rama terus mengelak bahwa itu bukan dirinya. Ia lalu tersadar dan bangun dari tidur malamnya yang panjang. Ternyata semua itu hanyalah mimpi.