Suatu pagi yang dihujani berkah air turun dari langit. Satu kompi pasukan sepeda ontel tunggang langgang menyerbu emperan SERAT SURYA. Ada yang terlihat berlindungkan mantol plastik. Ada yang mengangkat payung terbalik karena melawan angin. Ada yang memasang jaket di kepalanya. Ada juga yang menerobos derasnya air hujan begitu saja dengan tubuhnya. Namun yang paling mengherankan adalah kenapa yang memakai mantol plastik juga basah kuyup ya?. Hemmm..ada yang nampak janggal rupanya.
“Pak Harso! Itu pakai mantolnya kok hanya dimasukkan ke tudung kepalanya to?. Bagian badan mantolnya jadi hanya menutupi tubuh depan saja kan?”. Pertanyaan dari pak Darjat memancing perhatian orang-orang di situ.
Pak Harso sadar lalu memeriksa dirinya sendiri.
“Heh??. Owalah.. bagian leher mantolnya sobek.” sambil memperlihatkannya.
“Yaaa kalau memakai jas hujan itu yang benar dong pak. Dilihat dulu lubangnya yang mana?” saran pak Bagyo.
“ Ya maaf. Tadi saya tergesa-gesa. Nunggu hujan kok ndak mereda malah semakin deras. Padahal tingggal lima belas menit lagi masuk jam kerja.” alasan beliau.
Lalu pak Darjat menambahi pembicaraan sambil tertawa kecil.
“Bagyo..Bagyo. Kalau menasehati orang itu ya bercermin dulu. Lha kamu sendiri juga tahu hujan deras banyak angin kok ya naik sepeda pakai payung to?”.
Pak Bagyo membela diri, “Ehee. Jas hujannya dibawa anak, jadi saya pakai payung. Untung tidak terbang di jalan.”
Dua junior yang berdiri dalam ujung barisan tidak memiliki minat mencampuri obrolan ketiga senior itu.
Di dalam ruang kerja semua pegawai terlihat serius. Suara sambaran petir di tengah hujan dengan irama dari mesin ketik menjadi musik yang menemani kesibukan mereka. Kebetulan hari ini tidak ada jatah surat yang harus dikirim.
Saat itu…
”Eh dari tadi saya tidak melihat pak Rendra ya?. Apa tidak masuk kerja lagi?” tanya Rama.
Mas Paijo menjawab, “Bukaan. Beliau ada di ruang kerjanya, dari kemarin tidak pulang.”
Rama jadi bertanya-tanya. “ Memang kenapa?”.
“Entahlah. Mungkin dia kabur dari rumah.” jawab Jo masa bodoh.
Terlalu penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, Rama mencoba memeriksa ruang kerja pak Narendra. Ketika memasuki ruangan, Rama melihat pria dengan kumis tebal dan rambut tipis disisir klimis menyamping itu tengah terduduk diam menghadap tembok.
“Ehem ehem.” Rama berdeham memberi pertanda.
“Selamat pagi Pak!. Katanya dari kemarin pak Rendra tidak balik ke rumah. Kalau ada masalah bicara dengan saya tidak apa-apa Pak. Yaa siapa tahu saya bisa sedikit membantu.”
Pak Narendra tidak merespon. Rama kembali berceloteh.
“Nanti kalau dicari istrinya bagaimana. Terus anak-anak Bapak menangis terjerit-jerit menanyakan dimana bapaknya. Aduh! Bisa gawat itu Pak.” Rama mendramatisasi.
Kemudian pak Rendra menjawabnya dengan penuh wibawa.
“ Istri saya sudah meninggal lima tahun yang lalu karena penyakit yang dideritanya. Anak saya hanya satu dan sudah dewasa. Sekarang ia bekerja bersama saya. Di sini. Di tempat ini. Bersamamu.”
“Hah” Rama tak mengerti maksudnya.
“Tapi saya minta maaf Pak soal istri tadi, saya tidak bermaksud…”
“Iya Nak. Saya maklum saja. Kamu kan masih anak bau badan. Eh maksudnya bau kencur alias belum banyak pengalaman. Sudah kebanyakan tingkah, jam kerja malah untuk main-main, merasa paling tahu, berlagak begini..begitu..blablabla”. Rama malah kena semprot pak Narendra.
Di saat situasi yang membuat Rama canggung itu, tiba-tiba seseorang muncul di belakangnya dan merajuk.
“Pulanglah Pak. Dari kemarin Bapak dicari orang-orang mau bertemu lho di rumah. Katanya sudah ada janji.”
Rama terkejut.
“Mas Jo?”.
Jadi anak pak Narendra itu adalah…
“Ndak! Bapak tidak mau pulang sebelum cincin pernikahan bapak sama ibuk ketemu.” Bicara pak Rendra dengan nada gemas.
Anaknya itu menanggapi, “Ya bagaimana aku mau cari kalau Bapak sendiri lupa dimana terakhir kali melihatnya?”.
Si Bapak menyanggah, “Bapak tidak lupa. Hanya saja waktu itu sempat tak masukkan ke dalam wadahnya. Terus bapak bawa ke tempat kerja. Waktu sore mau pulang Bapak baru ingat dan sadar kalau sudah hilang.”
“Jatuh di jalan mungkin Pak?”. Sambung Rama begitu saja.
“Tidak mungkin. Orang saya sempat taruh di atas meja ini kok.” Ingat pak Rendra.
Mas Paijo langsung bereaksi.
“Berarti masih ada di sekitar sini. Coba tak lihat di kolong meja..... Ndak ada! meja sebelah sana...sebelah sana! mungkin tidak sengaja kena tendang. Tidak ada juga? Aaaa, di bawah kursi..kursi!”. NIHIL.
“Kamu tidak bakal nemu. Bapak juga sudah cari di setiap sudut.” Kata bapaknya memberi tahu.
Rama lalu bertanya, “ Apa mungkin pak Rendra sempat membawanya ke ruang kerja umum di depan?.
Pak Narendra berpikir keras. “Ah apa iya? Oh bisa jadi begitu. Ayo sana cepat kalian cari! Perintahnya.
Rama dan Paijo segera mencari secepat kilat.
sesaat kemudian....
“Kalian ini sedang mencari apa? Sedari tadi tidak selesai-selesai.” Tanya pak Darjat yang merasa terganggu dengan pemandangan itu.
“Kami sedang mencari kotak kecil Pak. Lha isinya itu cincin nikahnya Bapak.” Sahut mas Jo.
“Maksudmu punyanya pak Rendra? Pak Darjat memperjelas.
“Iya” jawab mas Jo.
Pak Harso merasa heran, “ Lha masa iya carinya di tempat kerja to?”.
“Lha itu Pak masalahnya hilangnya itu karena dibawa kerja sama bapak.” Si Anaknya memberi alasan.
Dua setengah jam mencari, dua pemuda itu tak menemui hasil. Hingga jam istirahat sudah lewat. Tak ada yang menghiraukan mereka. Betapa kejam bekerja dalam pengabaian.
“Sudahlah Rama. Aku lelah. Sejauh mana benda itu pergi? Kaki pun tidak ada.” keluh mas Jo.
“Iya Mas. Aku rasa tidak mungkin juga ada di tempat ini!” kata Rama sambil berkipaskan kertas karena kegerahan.
“Kalian tidak perlu mencari lagi!” ucap datar pak Narendra yang tiba-tiba berdiri di depan pintu.
“Saya baru ingat kalau cincinnya tak gadaikan untuk pinjaman modal usaha ternak ikan lele.” Pak Narendra berlalu begitu saja memasuki ruang kerjanya dan segera menutup pintu.
“BAPAAAAKK!” teriak kesal Rama dengan Paijo bersamaan suara petir yang menggelegar. DUARRR!