Rama dan Safya telah membiarkan bunga yang kering itu, tetap hidup bersama tunas daun yang mulai bersemi. Sepasang insan di sana sudah cukup waktu hanya untuk meragukan rasa cinta dari hati masing-masing. Kini mulai menemukan ketenangan dan berusaha semaksimal untuk menunaikan hak dan kewajiban atas nama pernikahan suci semata. Demi calon jabang bayi, Rama maupun Safya sampai akhir mempertahankan ilusi dari kisah cinta ini.
Walau dalam kehidupan mereka sudah tidak ada lagi Shinta yang lebih sering menjadi pemicu terjadinya perdebatan, namun ternyata kecemburuan bukanlah akar masalah dalam rumah tangga Rama dan Safya. Tidak adanya cinta sejati, itulah yang membebani Rama selama ini. Safya memang tulus mencintainya sejak ada setitik rasa sakit, kala melihat Rama dengan Shinta yang bahagia