Mina yang tergopoh-gopoh sambil memegangi perut bagian bawahnya, tidak menyia-nyiakan kesempatan saat revolver milik Yordan melayang lalu jatuh beberapa meter di depannya. Mina berlari secepat yang dia bisa, hal yang sama pun dilakukan oleh Yordan hingga tatkala keduanya sudah dekat dengan senjata api itu, Aria yang tertangkap oleh orang suruhan Yordan berteriak kesakitan saat dia mendapat pukulan kasar yang tak main-main hingga tubuh mungilnya terlempar, berguling, lalu jatuh ke dalam jurang.
Melihat kejadian tersebut, Mina dan Johan berteriak histeris menyebut nama putri semata wayang mereka. Konsentrasi Mina yang teralihkan segera dimanfaatkan oleh Yordan untuk merebut senjata miliknya, lalu dengan cepat mengalungkan lengannya ke leher Mina dengan revolver yang teracung ke arah Johan. Johan yang akhirnya bisa melepaskan diri dari cengkeraman preman-preman sialan itu hampir tertembus peluru Yordan jika saja Mina tidak menggigit lengan adik iparnya dan mengarahkan tangan Yordan ke atas.
Perebutan senjata pun terjadi di antara mereka. Mina yang berusaha keras menghalangi Yordan menyakiti suaminya, harus terkena tembakan tak disengaja Yordan ketika senjata mengarah ke perut. Untuk sejenak, dunia seperti membeku dan waktu seakan berhenti berputar baik bagi Yordan atau pun Johan. Perlahan-lahan tubuh Mina luruh ke bumi bersama darah yang merembes membasahi pakaian.
"Mina..." panggil Johan lirih, sementara dirinya berjalan pelan dengan kedua mata terpaku ke arah tubuh sang istri sambil menatap tak percaya. "Mina, Sayang. Please... don't!" Pria itu memangku kepala sang istri, tangannya membelai lembut pipi yang dulu dihiasi semburat merah jambu tapi tidak untuk kali ini. Saat itu, Mina masih bisa memberikan senyum lemah kepada Johan di detik-detik embusan napas yang terus dia perjuangkan.
Senyum tulus itu, senyum sedih itu, merupakan satu-satunya senyum yang bisa dinikmati oleh Johan sebagai salam perpisahan. Karena setelahnya, tarikan napas Mina yang berat perlahan hilang bersama pudarnya senyum tipis serta mata yang terkatup rapat. Tangan dalam genggaman Johan tak lagi sanggup membalas dekapan tangan pria itu, fakta yang membuat jantung Johan serasa dicabut paksa begitu dia menyadari bahwa hidup yang terkandung dalam raga sang kekasih telah pergi untuk selamanya.
"Mina, tidak... tidak mungkin..." Sambil memeluk tubuh Kang Mina yang sudah tak bernyawa, Johan menggeleng dengan keras ditemani air mata yang bercucuran serta jemari yang bergetar hebat. Jerit pilu Johan menggema merobek dingin dan sunyi, sementara gemuruh, gonggongan hewan liar, berikut suara berisik dari daun-daun yang kalang kabut diterpa angin kencang sudah seperti paduan sendu yang mengiringi perpisahan sepasang sejoli yang harus menelan pahitnya kehilangan.
Ada setitik rasa bersalah yang menikam nurani tipis Yordan tatkala pemandangan tubuh kaku Mina memenuhi mata. Namun kejahatan yang mengalir di dalam darah pria itu seakan tidak membiarkan rasa bersalah merasuk semakin jauh, hingga alih-alih pergi dan menyudahi semua kekejian yang dia lakukan, Yordan malah meniup peluit ultrasonic yang biasa dia gunakan untuk melatih hewan peliharaannya.
Tak membutuhkan waktu lama, para hewan liar itu pun mulai berdatangan seolah-olah mereka sedang memenuhi undangan. Awalnya hewan berkaki empat tersebut tampak tenang-tenang saja, tetapi setelah Yordan meniupkan kembali peluit ultrasonic yang dia pegang dengan cara yang berbeda, hewan liar yang pendengarannya sangat sensitif itu langsung gelisah, berubah agresif, dan mulai menyerang secara serentak.
Yordan serta anak buahnya berhasil memukul mundur beberapa hewan yang menyerang mereka menggunakan senjata api, sedangkan Johan yang sibuk melindungi jasad istrinya supaya tidak dicabik-cabik, kewalahan setengah mati menghadapi serangan. Tanpa diketahui oleh seorang pun, Aria yang ketika jatuh masih sempat berpegangan ke akar-akar pohon sedang berusaha sekuat tenaga untuk naik ke permukaan. Sayangnya ketika gadis itu berhasil melihat apa yang terjadi di atas sana, Aria harus menyaksikan pemandangan tragis yang membuat dirinya mendadak bisu dengan kedua mata terbelalak lebar.
"A-ayah..." Bisikan lirih nyaris tak terdengar yang diucapkan dengan susah payah dan terpatah keluar dari bibir Aria. Di sana, Aria melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana agresifnya hewan-hewan liar itu menggigiti pakaian ayah dan ibunya, sementara sang ayah yang menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng, masih setia memeluk Mina dengan erat di serpihan kecil tenaga serta harapan yang dia punya untuk tetap hidup.
Johan yang sudah terluka parah dan kehabisan banyak darah tak lagi mampu menahan serangan beringas dari hewan-hewan itu. Pria itu pun jatuh tersungkur masih dalam posisi memeluk sang istri. Di situasi tersebut Aria kecil ingin segera berlari menolong ayah dan ibunya, namun dia kesulitan karena pegangannya sempat terlepas sedangkan tanah yang dia pijak selalu saja longsor. Sebelum Johan memejamkan mata, kontak mata antara ayah dan anak itu terjadi. Di sela-sela kaki hewan liar yang mengepung Johan, Aria bisa melihat senyum lega sang ayah.
Johan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, menyuruh Aria untuk tetap diam dan bertahan di sana agar persembunyiannya tidak ketahuan. Perintah dari Johan yang mungkin akan menjadi perintah terakhir untuknya dituruti Aria dengan hati hancur. Sambil menggigit bibir bawahnya supaya isak tangis yang meledak-ledak di dalam diri tidak meluncur keluar lalu mengusik mereka, Aria yang didera kesedihan tak terperi tatkala mendapati sang ayah mulai memejamkan mata dan diam tak bergerak, tak lagi sanggup mengokohkan pegangan tangannya pada akar pohon.
Tubuh mungil Aria berikut dunianya yang dipenuhi kebahagiaan jatuh dengan tragis di tanah berbatu. Entah sudah berapa banyak luka fisik yang dia dapat dari tajamnya semak berduri, dari kerasnya kerikil yang ikut menyertai, pun dari trauma dan duka kehilangan yang seperti memberikan maut sebelum mati. Luka terakhir adalah luka paling menyakitkan yang harus ditanggung oleh seorang gadis kecil berumur lima tahun itu.
Ini mimpi buruk yang tak pernah ia sangka-sangka akan mampir di dalam hidupnya yang dihiasi pelangi. Di saat kesadaran Aria hampir terenggut begitu dirinya tersangkut di sebuah batang pohon besar, ingatan akan wajah sang ibu yang tengah tersenyum sembari menasihatinya terputar kembali di dalam benak.
Memori hangat tentang betapa nyamannya dia saat sedang merebahkan kepala di atas paha wanita yang telah melahirkannya, sementara surainya yang hitam panjang dibelai dengan sangat lembut dan penuh kasih, terasa begitu nyata sampai-sampai Aria mengira bahwa ibunya benar-benar sedang berada di dekatnya, bersamanya seperti biasa.
"Nak, kau harus tahu kalau manusia itu lemah. Uang dan kekuasaan memang membuat manusia terlihat gagah karena kedua hal itu sudah seperti senjata yang mempermudah segala sesuatu. Tapi kau harus tahu kalau manusia memiliki senjata lain yang jauh lebih ampuh dari harta dan kekuasaan."
"Apa itu, Bu?"
"Itu adalah doa. Doa yang kau ucapkan dengan tulus dan penuh kerendahan hati tanpa ada setitik pun kesombongan di dalamnya. Doa itu mampu menembus ke lapisan-lapisan langit. Jadi, kalau kau sedang merasa sangat putus asa, jangan pernah berniat untuk mati. Yakin saja. Pasti akan datang bantuan yang dikirimkan dari Tuhan kepadamu berkat doa-doa yang kau panjatkan."
Sekelebat ingatan manis ketika dia sedang berada bersama ibunya membuat kedua kelopak mata Aria yang tertutup perlahan terbuka. Gadis itu ingin melihat langit. Karena dengan memandang jauh ke atas sana, Aria merasa kalau dia tidak sedang sendirian. Namun sayangnya saat ini dia tidak bisa melakukan apa yang menjadi kehendak hatinya karena tubuhnya terlalu remuk redam untuk digerakkan. Bahkan fakta bahwa dia masih sanggup bernapas saja sudah seperti keajaiban yang mengalahkan tujuh keajaiban dunia.
Dia masih hidup. Sendirian dan mungkin sebentar lagi akan ikut mati menyusul kedua orang tuanya. Anak polos itu tidak tahu, sama sekali tidak mengerti mana yang harus dia lakukan antara mensyukuri napas yang masih bertahan, atau menyesali nyawa yang masih terkandung.
"Tuhan... tolong lindungi Ayah dan Ibuku," pintanya, sebelum gelap menariknya menjauh dari dunia nyata.
...
Aria tidak tahu berapa lama rentang waktu yang sudah dia lalui dalam keadaan tidak sadarkan diri. Jika saja langit tidak mengirimkan rintik hujan yang diiringi sengatan hawa dingin ke seluruh pori, gadis kecil itu mungkin saja masih terbungkus dalam kenangan manis tentang ayah dan ibunya yang tersaji di alam mimpi.
Remuk redam yang dia rasakan di sekujur tubuh menikamnya tanpa ampun begitu cahaya senja menyinari mata. Aria meringis, tak tahan dengan semua hal yang dia alami hingga jerit pilu keluar dari bibirnya di tengah riuh tangisan langit yang semakin lama semakin deras. Kesendirian dalam luka di hutan yang hening tampaknya menjadi bujuk rayu paling ampuh bagi semesta untuk menghantarkan belas kasih.
Hujan pun reda dalam waktu yang tak lama, sementara insting untuk bertahan hidup yang dititipkan oleh Tuhan tumbuh subur bagai benih yang disemai dengan baik. Anak itu susah payah berjuang naik ke daratan, seolah-olah seluruh hidupnya dipertaruhkan di atas tanah lembek nan basah yang membuatnya tergelincir berkali-kali hanya demi satu tujuan. Aria berharap kalau ayah dan ibunya kini sedang menunggunya di atas supaya nanti mereka bertiga bisa melanjutkan kembali perjalanan ke rumah lalu berkumpul seperti biasa.
Angan itulah yang menjadi cemeti hingga semangatnya terpacu untuk terus berusaha meski sulit. Setelah berjuang sekian lama, Aria pun berhasil naik ke atas, persis di tempat di mana dirinya melihat ayah dan ibunya sebelum terjatuh. Hal pertama yang dia dapati ketika sampai di sana adalah kekosongan. Tidak ada siapa pun, tidak jejak-jejak yang menandakan bahwa di sana pernah terjadi penganiayaan. Tak peduli seberapa jauh matanya memandang, pun tak peduli seberapa keras dia memanggil, tak pernah sekali pun dia mendengar kedua orang tuanya menjawab seruan yang ia lontarkan dengan putus asa.
"Ayah, Ibu... kalian di mana? Aku tidak mau tinggal sendirian di sini...." Aria masih terus memanggil, tetapi hampa dan hening masih saja menjadi sesuatu yang menyambutnya.
Aria masih terus mencari dan mencari. Kakinya bergerak mengikuti firasat yang dia punya sambil sesekali memanggil kedua orangtuanya yang entah ada di mana sekarang. Tadinya gadis kecil itu ingin rehat sejenak di bawah sebuah pohon besar, karena haus dan lapar membuat tubuhnya lemas. Sayangnya suara gonggongan hewan yang dia dengar tak lama kemudian rupanya telah menanamkan memoar pedih yang berujung trauma.
Tubuh gadis kecil itu menggigil hebat. Wajahnya yang memang sudah pucat semakin bertambah pucat dikala sekelebat ingatan tentang bagaimana taring tajam hewan liar itu mencoba mengoyak tubuh orang tuanya melintas di kepala hingga nyaris membuatnya pingsan. Aria berteriak histeris sebelum berlari tunggang langgang tak tentu arah. Dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya dia bisa keluar dari hutan kemudian masuk ke satu-satunya jalanan sepi yang ada di daerah itu. Yang dia ingat hanyalah rasa lapar dan haus yang sangat menyakitkan sementara dunia di sekitarnya serasa terserap ke dalam pusaran, mengabur, lalu hilang dalam kegelapan.
...
"Bagaimana keadaan anak itu?" tanya pria paruh baya bernama Leonard, sesekali memindahkan pandangannya ke arah gadis kecil yang tidak sengaja dia temukan di pinggir jalan dalam keadaan terluka dan tidak sadarkan diri.
Sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan Leonard kepadanya, dokter tersebut ikut mengarahkan pandangannya ke titik yang sama dengan pria itu. Embusan napas berat serta suara decakan halus menjadi pembuka ketika dokter tersebut mengatakan, "Anak itu beruntung karena Anda menolongnya tepat waktu. Karena jika tidak, dia bisa saja meninggal terserang hypothermia." Diam sesaat, sang dokter pun kembali meneruskan. "Meski luka di tubuhnya cukup memprihatinkan, untungnya dia tidak mengalami cedera berat yang membahayakan nyawa selain patah tulang pergelangan kaki. Mudah-mudahan dalam waktu dekat dia sudah bisa sadar."
"Syukurlah." Leonard berkata sembari mengembuskan napas lega.
"Anda tidak mengenal anak ini?"
"Tidak." Leonard kini menempatkan atensinya secara penuh ke arah Aria, sementara kernyit halus yang tercipta di dahi pria itu menandakan bahwa dia sedang memikirkan sesuatu. Cukup lama Leonard bertahan dalam kebisuan sebab pikiran yang mengembara. Barulah setelah dokter yang berdiri di hadapannya berdehem beberapa kali, kesadaran pria itu terlepas dari belenggu memoar yang tiba-tiba saja mengurungnya dalam gelembung. "Ah, maaf, Dokter. Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu."
"Tidak apa-apa," balas Dokter tersebut sembari tersenyum ramah. "Berhubung saya masih ada pasien lain, saya permisi dulu."
"Terima kasih, Dokter." Leonard ikut tersenyum sembari mengulurkan tangannya untuk dijabat.
Setelah dokter itu pergi meninggalkan ruangan, Leonard menarik kursi yang ada di sebelah ranjang kemudian duduk di sana. Dia pandangi wajah Aria lamat-lamat sembari mengingat-ingat sketsa samar seseorang yang tergambar di kepalanya. "Kau sangat mirip dengan seseorang, Nak," katanya, setelah berhasil mencocokkan kemiripan gadis kecil yang dia tolong dengan seseorang. "Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa terluka sampai seperti ini?"
Hening pun berpendar di setiap sudut ruangan. Leonard tidak tahu apakah dugaannya itu salah atau benar. Yang jelas, anak ini mengingatkannya kepada sosok mahasiswi yang dulu pernah dia sukai dan berakhir dengan cinta sepihak. Sesaat kemudian, suara dering telepon memecah sunyi yang mendekap Leonard selama sepuluh menit lamanya. Pria itu pun berdiri setelah mengambil ponselnya dari dalam saku kemudian pergi keluar karena khawatir dirinya akan membuat Leonard terganggu.
"Halo," sapa Leonard kepada istrinya.
"Yeobo... katanya kau tidak jadi menghadiri seminar?"
"Iya. Seminar akhirnya dibatalkan karena satu-satunya akses yang menuju ke sana sedang ditutup."
"Lalu, sekarang kau ada di mana?"
"Aku..." Leonard terlebih dahulu melirik ke pintu yang ada di belakang punggungnya. "Aku sedang berada di rumah sakit."
"Apa? Di rumah sakit? Kenapa? Apa kau terluka? Atau—"
"Tidak tidak. Jangan khawatir. Aku sehat-sehat saja."
"Syukurlah. Kalau begitu, siapa yang sakit?"
"Di jalan... aku nyaris menabrak seorang anak kecil. Aku khawatir dia kenapa-kenapa. Jadi aku membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa."
"Ya ampun... kau membuat jantungku hampir copot. Ya sudah, tolong kabari aku jika kau sudah dalam perjalanan pulang, ya?"
Tiba-tiba saja Leonard terdiam. Sesuatu membuat bibirnya terkunci diikuti pendengaran yang menajam serta kernyit dalam di dahi.
"Apa kau sedang bersama seseorang?"
Nada curiga di dalam nada suara Leonard membuat Selia gugup. Wanita itu menjauhkan ponselnya terlebih dahulu dari telinga kemudian memberi kode kepada selingkuhannya untuk segera pergi menjauh.
"Tidak, kok. Kenapa memangnya?"
"Sepertinya aku mendengar suara laki-laki tadi."
"Oh, itu... aku memang sedang memanggil tukang service untuk memperbaiki AC di kamar Aerin." Sejenak percakapan pun hening. "Kau tidak cemburu hanya karena hal itu, bukan?"
"Tidak," Leonard menggosok keningnya, terlalu pening untuk berprasangka buruk kepada sang istri ketika pikirannya sedang dipenuhi oleh hal lain, "aku tidak cemburu. Ya sudah, nanti aku akan mengabarimu jika urusanku di sini sudah selesai."
"Hati-hati di jalan, ya. Love you."
"Love you too."
Leonard menghela napas panjang begitu sambungan telepon terputus. Pria itu terpaksa berbohong dengan mengatakan kepada istrinya yang posesif bahwa dia nyaris menabrak anak yang sudah dia tolong, karena Leonard merasa dia harus memiliki alasan yang kuat untuk menungguinya sementara waktu di sini. Di sisi lain Selia—istri Leonard, juga mengembuskan napas panjang dengan alasan yang berbeda begitu percakapannya dengan sang suami berakhir.
Wanita berambut pendek sebahu itu mengarahkan tatapannya ke seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu sembari menyilangkan tangan di depan tubuh dan tersenyum miring kepadanya. "Gara-gara kau aku hampir saja ketahuan."
Pria bernama Mino yang telah menjadi selingkuhan Selia selama enam tahun, kini berjalan perlahan mendekati ranjang lalu berdiri di samping Selia. "Aku kira kau tidak peduli padanya."
Selia tersenyum. "Menurutmu, kenapa kita bisa menjalin hubungan selama enam tahun di belakang suamiku?" Selia menggantungkan tanya, salah satu tangannya bermain nakal di pusat gairah pasangannya yang otomatis tersulut berkat rangsangan tersebut.
Merasakan nikmat tak terperi, pria itu memejamkan mata. Menghayati setiap sentuhan lihai Selia yang membuat dirinya menahan napas dan mulai tidak fokus. Melihat kekasihnya menengadah sambil sesekali menahan geraman rendah, Selia menyeringai sebelum menjawab pertanyaannya sendiri. "Selain karena Leonard itu mudah dibodohi, aku sangat pandai berakting, Sayang," kata Selia, dengan bangga memuji diri sendiri.
"Ya. Kau memang pandai berakting, Selia. Seharusnya kau mendapatkan piala Oscar untuk kemampuanmu yang satu itu."
"Benarkah? Tapi sayangnya aku tidak berminat."
"Lalu, apa yang membuatmu berminat."
"Apalagi kalau bukan bermesraan denganmu?"
"Kalau begitu, aku ingin kau menunjukkan semua keahlianmu kepadaku."
"Dengan senang hati."
Setelahnya, kepala Selia mulai menunduk sedangkan tangan Mino refleks menahan belakang kepala wanitanya agar kenikmatan yang dihantarkan mulut Selia semakin terasa manis.
...
Sejak tiga puluh menit yang lalu terhitung setelah Leonard mendapati gadis yang tidak dia tahu siapa namanya perlahan membuka mata, tidak ada satu pun patah kata yang keluar dari bibir gadis kecil itu tak peduli seberapa kerasnya Leonard mencoba mengajaknya bicara. Aria seperti berada di dunia lain ketika pandangannya terus tertuju ke langit-langit ruang, sementara air mata kesedihan sudah seperti rinai yang tak pernah berhenti menerjemahkan sendu. Sampai detik ini, Aria masih tidak ingin mempercayai kalau semua kejadian buruk yang dia alami benar-benar terjadi kepadanya. Tapi semakin kuat dia menyangkal, rasa sakit yang dia rasakan sudah seperti luka yang disiram cairan asam.
Memoar mengerikan yang tak pernah menyingkir dari benak Aria telah menumbuhkan trauma yang mampu membungkam bibirnya dari setiap kata yang hinggap di kepala. Meski di dalam hati Aria ingin sekali menceritakan semua tragedi mengerikan yang telah menimpa keluarganya kepada pria paruh baya yang entah bagaimana membuatnya semakin rindu kepada ayahnya sendiri, Aria hanya mampu mengerjapkan mata dan terisak setiap kali pria itu bertanya siapa dirinya dan dari mana asalnya.
"Nak, kau masih belum mau memberitahuku siapa namamu?" tanya Leonard kembali sembari mengusap lembut puncak kepala Aria.
Lagi-lagi tak ada jawaban dari mulut Aria yang terkatup rapat. Merasa kasihan, Leonard lantas tersenyum kepada Aria tanpa adanya setitik pun jejak kemarahan di raut wajahnya yang teduh.
"Jika kau masih belum mau bicara padaku tidak apa-apa. Yang jelas, kau harus banyak istirahat supaya cepat sembuh. Mengerti?"
Di penghujung kalimat yang diucapkan oleh Leonard, dokter yang belum beranjak dari ruangan tersebut semenjak dirinya diberitahu bahwa anak yang pria itu temukan sudah sadar, kini meletakkan tangannya di bahu Leonard dan mengajaknya bicara di luar.
"Sepertinya anak itu mengalami kebisuan selektif akibat trauma mendalam yang dia alami," kata sang dokter dengan ekspresi serius.
"Apakah itu yang membuatnya enggan berbicara?"