"Ya Tuhan...." Leonard mendesis pilu sembari mengusap wajah setelah bersusah payah menemukan kembali suaranya. "Apa kau sudah memberitahu keluarga korban kalau Aria sudah ditemukan?"
"Belum. Saya merasa harus mengkonfirmasinya terlebih dahulu sambil memastikan sendiri kalau anak yang Anda temukan memang anak dari pasangan tragis ini."
"Saya turut berdukacita, Tuan Lee," lanjut si Kepala Polisi begitu suasana muram yang berlangsung cukup lama di sana seakan menuntutnya untuk berkata demikian.
Leonard Lee yang terisolasi oleh gelembung pikirannya sendiri pun mulai berusaha menguasai diri. Diambilnya secangkir kopi yang disajikan oleh Bella dengan tangan gemetar dalam upaya membasahi kerongkongannya yang kering luar biasa kemudian menoleh perlahan ke arah Aria. Leonard bisa merasakan rasa sakit luar biasa yang sedang Aria tahan dalam isak tanpa suara ketika pandangan matanya bertemu dengan manik biru gadis malang itu.
"Tunggu sebentar," kata Leonard.
Leonard pun bergegas mendekati Aria sebelum gadis malang itu hancur oleh kesedihan, sementara si Kepala Polisi buru-buru mengekor di belakang Leonard.
"Tenanglah, Sayang. Kau harus kuat. Ada Paman di sini."
Leonard berusaha membuat Aria tenang melalui genggaman tangannya yang kuat namun tidak menyakiti, merasa bersalah karena sudah membicarakan hal semenyakitkan ini di hadapannya langsung karena berpikir berita yang datang pastilah berita baik. Dia seka bulir kristal bening yang sangat mampu membuat matanya ikut dipenuhi kabut kesedihan. Kendatipun Leonard sangat ingin menyerap semua rasa sakit yang Aria rasakan, hal yang mampu dia lakukan sekarang hanyalah menenangkan histeria yang dialami Aria lewat rengkuhan kedua tangannya.
...
Sore itu suara high heels Selia terdengar sangat tidak santai. Tatapan matanya nyalang. Wajahnya sudah segarang macan betina sedangkan bara di hatinya sudah sepanas lava di gunung berapi: berbahaya, menggelegak, dan siap menghanguskan apa pun yang begitu sial terkena muntahannya. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan dari rumah menuju rumah sakit tempat Leonard berada, Selia mati-matian menahan amarahnya kepada sang suami setelah dirinya menemukan fakta dibalik sikap dingin Leonard beberapa minggu terakhir.
Leonard selingkuh sampai memiliki anak? Cih! Yang benar saja!
Rahang Selia mengeras diikuti dengan tangan yang terkepal kuat begitu dirinya mengingat kembali bukti apa saja yang sudah dia dapatkan dari jasa detektif yang sengaja dia sewa untuk mengawasi gerak-gerik Leonard setelah dia merasa adanya kejanggalan. Hal-hal klise yang lumrah terjadi pada orang yang berselingkuh semuanya ada di dalam diri Leonard. Mulai dari Leonard yang suka pulang larut malam meski pekerjaannya di kantor sudah selesai, Leonard yang masih saja sibuk di hari libur, Leonard yang sering berbohong setiap kali Selia bertanya mau ke mana dan dari mana dirinya, serta Leonard yang mulai abai ke si bungsu Aerin meski tidak sampai ke taraf benar-benar tidak peduli.
Semua faktor tersebut tentu saja membuat hati Selia jadi tidak tenang. Dia tahu kalau Leonard tidak pernah mencintainya. Dia juga tahu kalau pernikahan yang mereka jalani sekian tahun lamanya bukanlah sesuatu yang Leonard inginkan, karena satu-satunya wanita yang suaminya cintai hanyalah gadis bernama Kang Mina—adik tingkat Leonard sewaktu kuliah dulu.
Bahkan ketika Leonard mengetahui perselingkuhannya dengan pria lain pun, Leonard cenderung bersikap kalem seolah-olah dia tidak terlalu peduli dengan apa yang Selia lakukan sampai Selia nekat meneruskan hubungan terlarangnya hingga dari perselingkuhan tersebut lahirlah Aerin yang dia akui sebagai anaknya Leonard.
Seharusnya Selia membenci Leonard atau malah mengajaknya bercerai sebab luka patah hati yang dia terima dari pria itu. Tapi memikirkan status sosial dan harta yang Leonard miliki, Selia memilih menahan diri dan memendam rasa bencinya demi kehidupan yang nyaman.
Bukan hanya sekali, dua kali Selia menyewa jasa detektif untuk menguntit kegiatan sehari-hari Leonard, karena dia ingin tahu apakah suaminya memiliki wanita idaman lain di suatu tempat atau tidak. Berkali-kali menyelidiki, berkali-kali pulalah dia mengetahui kalau Leonard benar-benar bersih dari semua tuduhan yang dia tujukan kepadanya. Kecuali hari ini, ketika detektif yang dia sewa menghasutnya dengan berkata bahwa Leonard ternyata memiliki anak dari sekretaris culun yang tidak pernah Sehi duga akan menarik perhatian sang suami.
Brak!
Pintu ruang rawat Aria terbuka dengan satu entakan keras yang membuat Bella terperanjat. Selagi masuk semakin dalam, tatapan sinis Selia tak henti-hentinya menghujani wajah polos Bella yang dia tuding menjadi wanita simpanan suaminya. Begitu Selia berhenti tepat satu langkah saja di depan Bella, Bella seketika menundukkan pandangan sebab merasa terintimidasi.
"Angkat wajahmu," kata Selia dingin.
Takut-takut, Bella pun mengangkat wajahnya yang tanpa ba-bi-bu lagi langsung disambut Selia dengan sebuah tamparan keras di pipi. Bella memekik, Leonard yang baru keluar dari kamar mandi refleks berlari ke sumber suara, sementara Aria yang belum lama tertidur langsung terbangun karena terkejut.
"Dasar wanita tidak tahu malu! Berani-beraninya kau menggoda suamiku! Apa di rumah kau tidak memiliki cermin, hah! Lihat dirimu! Kau itu sangat jelek, kotor, dan miskin! Bahkan seekor lalat pun tidak sudi berada dekat-dekat denganmu!? Selia terus menjerit seperti orang gila sambil memukuli tubuh Bella menggunakan tas miliknya berkali-kali.
Melihat sekretarisnya diserang secara bar-bar oleh Selia, Leonard sontak berlari ke arah istrinya, memeluk pinggang wanita itu dari belakang kemudian menariknya agar menjauh dari Bella dengan penuh pemaksaan. Sumpah serapah yang sangat tidak pantas didengar terus berhamburan dari bibir bergincu Selia, sedangkan Bella yang sama sekali tidak mengerti kenapa dirinya diperlakukan seperti ini hanya bisa menangis sesenggukan sambil menahan rasa malu.
"Lepaskan aku, Leonard! Kurang ajar kalian berdua! Lepas!" Selia meronta sekuat tenaga supaya dia bisa terlepas dari kekangan tangan Leonard, sementara jari telunjuknya teracung lurus ke wajah dipenuhi air mata Bella sambil mengata-ngatai.
"Selia! Apa-apaan kau!" Leonard membentak sambil memaksa istrinya keluar dari ruangan.
Setelah berada agak jauh dari kamar rawat Aria, Leonard segera melepaskan tangannya dari Selia. Pria itu berniat meminta penjelasan atas sikap istrinya yang sangat tidak masuk akal, tetapi sebuah tamparan keras lebih dulu mendarat di pipi bahkan sebelum Leonard membuka mulut. Beberapa detik lamanya pandangan sengit mereka saling beradu. Leonard dengan sorot penuh kemarahan serta Selia dengan binar kebencian yang sarat akan dendam, sudah seperti dua orang musuh yang bertemu di medan peperangan.
Leonard sudah sangat terbiasa dengan perangai buruk istrinya yang tidak hanya membuatnya jenuh tetapi juga membuatnya malu. Selia pun begitu. Dia juga sudah terbiasa dengan perhatian palsu dari Leonard yang tak jarang malah membuatnya semakin terlihat menyedihkan.
Pikiran bahwa Bella bisa membuat Leonard menyentuhnya bahkan sampai memiliki seorang anak tanpa setitik pun keterpaksaan di dalamnya, menjadi alasan terkuat terjadinya ledakan di dalam diri Selia. Padahal demi mengandung anak kandung Leonard yang bernama Sevrin—kakak Aerin, Selia harus memberikan suaminya obat perangsang secara diam-diam.
"Sekarang katakan," Selia berkata tanpa berkedip, "apa kau benar-benar selingkuh dengan sekretarismu?"
Sambil mengembuskan napas kasar, Leonard yang tidak menyangka kalau istrinya bisa berpikiran seperti itu lantas menjawab, "Jangan berbicara omong kosong."
"Oh, jadi itu benar?"
"Selia hentikan. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu."
"Kenapa? Kau sudah tidak bisa mengelak, bukan?"
"Aku tidak selingkuh." Leonard berusaha keras untuk tidak terpengaruh provokasi dari Selia. "Sekarang lebih baik kau tenangkan dirimu. Baru setelah itu kita kembali ke dalam. Bagaimanapun juga, kau harus minta maaf kepada Bella."
Selia langsung melepaskan tangan Leonard yang melingkar di pergelangan tangannya dengan satu sentakan.
"Apa kau bilang? Kau menyuruhku minta maaf padanya?" Wanita itu memalingkan wajah ke arah lain seraya mendengus dan tertawa mengejek, seolah-olah pemintaan suaminya barusan adalah permintaan paling bodoh yang pernah dia dengar. "Tidak salah? Kenapa malah aku yang harus minta maaf kepadanya? Harusnya dia yang bersujud di kakiku—"
"Bella tidak perlu bersujud di kakimu karena dia sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun!"
"Jadi berselingkuh itu tidak salah?"
"Kau terlalu denial, Selia."
"Oh, ya?"
"IYA!" bentak Leonard hingga Selia terkesiap. "Kau terlalu banyak berhalusinasi. Aku sudah bilang padamu kalau aku tidak pernah berselingkuh dengannya. Jadi aku harap, kau bisa menghentikan imajinasimu yang super itu karena aku tidak mau bertengkar di sini."
"Lalu bagaimana dengan anak itu? Jika anak itu bukan darah dagingmu, kenapa kau sangat perhatian dengannya? Kau bahkan berbohong kepadaku demi menyembunyikannya di sini!"
"Aku berbohong karena tahu kau akan bersikap seperti ini!"
"Berhenti bersikap seolah-olah kau adalah orang yang paling mengenalku, padahal kau adalah orang yang paling tidak mengharapkan kehadiranku di hidupmu! Apa pun yang kau berikan kepadaku tidak ada yang tulus! Tidak perhatian, tidak kasih sayang, tidak juga anak! Dan tadi apa katamu? Kau sudah tahu kalau aku akan bersikap seperti ini? Sejak kapan kau beralih profesi menjadi cenayang? Hah! Lucu!"
Selia sengaja melebarkan masalah supaya Leonard tahu bagaimana perasaannya selama ini. Kendatipun keluhan semacam itu sudah sering Selia sampaikan kepada Leonard, sama sekali tidak ada yang berubah di antara mereka. Mereka seperti dua titik yang berhenti. Mereka adalah perwujudan dua kutub magnet yang saling berlawanan alih-alih saling tarik menarik. Tetap seperti itu. Sejak awal mereka bertemu bahkan mungkin sampai akhir.
"Tidak perlu melebar ke mana-mana. Justru kau yang lucu. Aku tidak perlu beralih profesi menjadi cenayang hanya untuk mengetahui bagaimana reaksimu. Sekarang terbukti 'kan kalau tebakanku itu benar? Sifatmu memang tidak pernah berubah meski kerap kali kau tutup-tutupi dengan kata-kata manis. Ini terakhir kalinya aku bilang kalau dia bukanlah anakku dan aku sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengan Bella. Jika kau tetap bersikeras dengan pemikiranmu, silakan saja. Aku tidak peduli."
Leonard yang merasa jengah dengan drama yang dibuat istrinya memilih pergi dari tempat itu. Namun Selia yang tidak akan pernah puas hanya dengan penyangkalan tanpa bukti segera mengejar Leonard dan menghentikan langkahnya.
"Tunggu!"
"Ada apa lagi?"
"Tes DNA."
"Apa?"
"Kalau kau yakin dia bukan anakmu, buktikan dengan tes DNA."
Diamnya Leonard yang diiringi tatapan tajam mematikan membuat Selia berpikir kalau Leonard takut dengan tantangannya. Merasa di atas angin, Selia lantas menarik kedua sudut bibirnya seraya berkata, "Kenapa? Apa kau takut?"
"Buat apa aku takut. Jika itu maumu, akan aku lakukan." Setelahnya, Leonard maju selangkah lebih dekat kepada istrinya. "Kau harus menerima konsekuensinya jika perkataanmu itu tidak terbukti."
...
Leonard akhirnya berhasil memaksa Selia pergi dari sana setelah melewati perdebatan alot untuk yang ke sekian kali dalam waktu berdekatan.
"Tolong maafkan istriku," kata Leonard kepada Bella yang baru masuk ke ruangan itu setelah mengobati luka bekas cakaran Selia di wajahnya.
Bella yang tidak bisa memaafkan perbuatan istri atasannya dengan mudah itu memilih diam. Sengaja memberikan arti yang ambigu dalam lengkung tipis di bibir sementara dia berjalan ke arah meja guna mengambil tas hitam miliknya. "Sudah lewat jam kerja, Tuan Lee. Saya mau pamit pulang."
Leonard hanya memberikan lirikan tipis dan anggukan singkat kepada Bella. Sepakat kalau Selia kali ini sudah sangat melewati batas sampai Bella yang dia kenal penyabar tidak bisa mengiyakan perkataannya barusan dengan cepat. Kini di dalam ruangan yang didominasi oleh warna krem itu hanya tinggal Aria dan Leonard seorang. Pria itu membelai puncak kepala Aria, menatapnya penuh kelembutan.
"Wanita yang marah-marah tadi istriku. Maaf karena dia sudah membuatmu takut."
Reaksi Aria tidak banyak berubah. Sebatas menatap Leonard tanpa suara, mengantuk tetapi entah kenapa dia tidak bisa tidur.
"Tidurlah, Nak. Kau pasti lelah. Besok aku akan menghubungi keluargamu untuk memberitahu bahwa kau—" Leonard tiba-tiba berhenti, terdistraksi oleh cekalan tangan Aria di pergelangan tangannya.
Jemari kurus itu membelenggu dengan keketatan yang terasa lemah, meski sejatinya Aria sudah mengerahkan seluruh daya yang dia punya semata-mata agar Leonard mengerti kalau dia tidak ingin pamannya tahu dimana keberadaannya sekarang. Sosok paman yang orang lain kira bisa menjadi pengganti sosok ayah nyatanya adalah sumber dari semua kesengsaraan yang mengoyak jiwa Aria.
Mendengar namanya disebut saja napas Aria serasa ingin putus. Aria tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya jika dia dikembalikan ke rumah neneknya sementara Yordan yang sudah membunuh kedua orang tuanya ada di sana. Setelah semua yang terjadi, tidak mungkin Yordan diam saja melihat saksi mata yang harusnya ikut tewas pada malam itu ternyata masih hidup. Jika pria itu bisa melenyapkan ibu dan ayahnya dengan cara yang sadis, tidak menutup kemungkinan kalau Yordan akan merencanakan sesuatu yang lebih gila lagi kepada Aria.
Sayangnya Aria tidak bisa memberitahu hal itu kepada Leonard. Sebab setiap kali ingatan buruk itu datang, seribu macam rasa sakit seperti dipukulkan tepat ke ulu hati dalam satu waktu. Kesedihan yang bertumpuk-tumpuk sudah menguras nyaris seluruh energi Aria. Dan sekarang semakin terkikis oleh rasa takut sehingga untuk sekedar menangis Aria merasa amat kepayahan.
Ruangan itu kini hanya berisi suara napas Aria yang tersekat serta racauan-racauan tak jelas. Dalam mata biru Aria, Leonard bisa melihat retakan-retakan yang tidak bisa diperbaiki dengan mudah. Pemandangan tersebut sungguh menyakiti Leonard hingga paru-paru pria itu bekerja dua kali lipat lebih keras.
"Aria... ada apa?' Leonard panik, hendak menekan tombol emergency yang berada di dekat tempat tidur, tetapi Aria seolah tidak mengizinkannya melakukan hal itu dengan gelengan lemah di kepala.
Aria ingin mengatakan sesuatu kepada Leonard namun dia tidak mampu.
Leonard akhirnya berinisiatif meletakkan tangan Aria di punggung tangan kirinya sambil terus mengucapkan kata-kata menenangkan. "Aria, tenanglah. Tidak apa-apa. Tidak ada yang akan menyakitimu. Paman janji," kata Leonard mula-mula.
"Nah, sekarang... kau bisa melakukan ini," tangan Leonard yang berada di atas tangan Aria membimbing gadis itu membentuk tanda ceklis di punggung tangannya, "jika kau menginginkan sesuatu. Dan ini," kali ini Leonard membimbing telunjuk Aria membentuk tanda silang, "jika kau tidak menginginkan sesuatu. Mengerti 'kan anak pintar?"
Embusan napas Aria yang sedikit lebih tenang ditafsirkan iya oleh Leonard.
"Apa kau ingin segera bertemu dengan keluargamu?"
Mata Aria membesar. Napasnya tertarik seiring dengan tanda silang yang terbentuk di atas kulit Leonard.
"Jadi kau tidak ingin bertemu mereka?"
Tanda ceklis yang Aria buat memperkuat dugaan Leonard bahwa ada yang tidak beres di dalam keluarganya yang tersisa, sampai-sampai Aria terlihat begitu ketakutan saat Leonard berniat memulangkannya ke rumah. Antara neneknya atau pamannya, Leonard tidak tahu siapa yang bertanggungjawab membuat Aria jadi seperti ini.
Seketika keheningan tercipta di ruangan itu ketika Leonard mengambil waktu untuk berpikir. Aria sedang merasakan ancaman. Itu adalah kesimpulan terakhir yang Leonard tarik setelah beberapa detik berlalu. Mengembalikan fokusnya kepada Aria, Leonard tersenyum, menepuk tangan Aria lalu menyuruhnya untuk beristirahat.
"Baiklah. Paman tidak akan memberitahu keluargamu kalau kau ada di sini. Tapi sebagai gantinya, kau harus tidur, ya? Seperti yang sering Paman katakan. Kau harus banyak makan dan banyak istirahat supaya kesehatanmu pulih." Leonard merapikan selimut yang menutupi tubuh Aria sebelum berkata lagi. "Paman sedikit bisa menyanyi. Apa kau mau paman nyanyikan lagu pengantar tidur?"
Aria mengerjap lemah mengiyakan.
"Jika suara Paman jelek, jangan marah, ya."
Setelahnya, Leonard mulai bernyanyi. Senandung yang keluar dari bibir Leonard adalah alunan yang sering ayahnya nyanyikan ketika Aria sedang tidak bisa tidur. Sejenak Aria melupakan seluruh kesedihan yang melilit tubuhnya dengan tali berduri. Memainkan imajinasi bahwa suara rendah yang sedang memenuhi ruangan adalah suara laki-laki yang rela memberikan apa saja termasuk nyawanya.
Ayah... Ibu... aku rindu.