Mobil besar berwarna hitam itu melesat masuk ke dalam usai satpam membukakan gerbang. Seorang perempuan dengan kulit yang sudah tidak kencang lagi, keluar dari mobil. Ia melepaskan kacamatanya. Jangan heran, walaupun usia wanita itu sudah tua, namun masalah gaya, dia tidak ketinggalan.
Bel dipencet oleh jemarinya.
“Bibi, buka pintunya,” titah Sheren pada Bi Ima.
Bi Ima mengelap tangannya untuk mengeringkan setelah mencuci piring. Ia seketika bergerak melaksanakan perintah majikannya.
“Nyonya besar?” ujar Bi Ima tidak percaya.
Arumi memalingkan muka. Dia berjalan melewati Bi Ima begitu saja. Jangan kaget. Dari dulu, Arumi memang bersikap ketus pada Bi Ima. Apalagi kalau bukan karena kasta.
“Ibu datang? Secepat ini? Aku kira sampainya nanti sore.”
“Tidak. Cucu saya mana? Mana