Suara gemerincing papan ketik dan hilir mudik karyawan di divisi administrasi PT Cahaya Utama selalu menjadi melodi penenang bagi Lily. Selama lima tahun terakhir, kesibukan inilah yang menyelamatkannya. Ruangan kantor yang bising, tumpukan berkas laporan, dan aroma kopi instan di paginya adalah benteng pertahanan yang sengaja ia bangun untuk mengubur ingatan masa lalu.
Lily menghela napas panjang, merapikan letak kacamatanya, lalu menatap layar komputer. Hidupnya sudah tenang sekarang. Ia bukan lagi gadis berusia awal dua puluh tahun yang rapuh dan cengeng. Ia sudah menata kembali hatinya yang dulu hancur berkeping-keping.
"Lily! Tolong rapikan berkas laporan keuangan kuartal terakhir, ya. Taruh di meja kubikelku sebelum jam sepuluh," seru Mbak Sarah, kepala divisi administrasi, memecah fokus Lily.
"Baik, Mba. Segera saya siapkan," jawab Lily dengan senyum profesional terbaiknya.
Namun, ketenangan pagi itu tidak bertahan lama. Sekitar pukul setengah sepuluh, suasana kantor tiba-tiba berubah tegang. Beberapa staf senior terlihat kasak-kusuk, bahkan manajer HRD tampak berlarian kecil menuju lobi depan.
Mba Sarah tiba-tiba berdiri di tengah ruangan dengan wajah panik sekaligus bersemangat. "Perhatian semuanya! Tolong rapikan meja kalian sekarang juga. Jangan ada berkas yang berantakan atau sampah makanan. CEO baru dari kantor pusat mendadak memajukan jadwal kunjungannya. Mobilnya baru saja memasuki area parkir basement!"
Seketika seluruh ruangan menjadi riuh. Lily hanya bisa menggelengkan kepala melihat teman-teman sekantornya yang perempuan sibuk mengeluarkan kaca dan memoles ulang lipstik mereka. Bagi Lily, siapapun CEO nya tidak akan mengubah statusnya sebagai staf administrasi biasa. Ia hanya perlu menunduk, bekerja dengan baik, dan menerima gaji di akhir bulan.
"Lily, ayo ikut berbaris di koridor depan," ajak salah satu temannya sambil menarik lengan Lily.
Mau tidak mau, Lily ikut berdiri dalam barisan karyawan di sepanjang koridor menuju ruang rapat utama. Jantungnya entah mengapa tiba-tiba berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Suasana mendadak hening ketika pintu kaca otomatis di ujung koridor terbuka.
Langkah kaki yang tegas dan beritme terdengar menggema di atas lantai marmer. Diikuti oleh jajaran direksi dan sekretaris pribadi, sang CEO baru berjalan dengan aura yang begitu mendominasi. Pria itu mengenakan setelan jas mewah berwarna hitam legam yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Wajahnya tegas, dengan rahang kokoh dan tatapan mata yang dingin menatap lurus ke depan.
Lily yang awalnya menunduk, perlahan memberanikan diri untuk mendongak, ingin melihat seperti apa rupa sang penguasa baru perusahaan ini.
Namun, begitu netranya menangkap siluet wajah pria itu dari samping, seluruh pasokan oksigen di paru-paru Lily seolah tersedot habis. Dunia di sekitarnya mendadak senyap, menyisakan suara detak jantungnya sendiri yang berpacu liar karena rasa takut dan syok yang luar biasa.
Garis wajah itu, tatapan mata elang itu, 'Tidak mungkin,' batin Lily menjerit, jemarinya meremas ujung kemejanya hingga memutih.
Langkah kaki pria itu tiba-tiba melambat tepat di depan barisan divisi administrasi. Seolah memiliki ikatan tak kasat mata, manik mata pria itu bergerak ke samping, lalu berhenti dan mengunci pandangannya tepat pada manik mata Lily yang bergetar hebat.
Pria itu tertegun sejenak. Sorot matanya yang semula sedingin es, mendadak berubah. Ada kilat keterkejutan, rasa bersalah, dan kerinduan yang mendalam terpancar di sana dalam waktu satu detik, sebelum akhirnya ia kembali menguasai ekspresi wajahnya menjadi datar.
"Selamat pagi, Pak Glen," sapa manajer HRD dengan membungkuk hormat.
Glen.
Nama itu terucap lantang, menghantam kesadaran Lily seperti godam yang menghancurkan benteng pertahanannya selama lima tahun ini. Pria di depannya ini adalah Glen. Pria b******k yang lima tahun lalu mengkhianatinya di atas ranjang bersama wanita lain, pria yang langsung menikah dan pergi meninggalkannya dalam kehancuran tanpa satu pun kata maaf.
Kini, pria itu kembali. Bukan sebagai masa lalunya, melainkan sebagai bos tertinggi yang memegang penuh kendali atas nasibnya di perusahaan ini. Glen kembali menatap Lily sekilas, memberikan satu anggukan tipis yang sarat akan arti, sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruang rapat.
Sementara Lily, ia harus berpegangan pada dinding di belakangnya agar tubuhnya tidak jatuh merosot ke lantai. Lututnya lemas. Luka lama yang ia kira sudah sembuh total, ternyata sore ini kembali menganga lebar, mengeluarkan rasa sakit yang sama persis seperti lima tahun yang lalu.
"Kenapa kamu datang kembali Glen," lirih Lily.
"Kamu kenapa Lily, kamu sakit?" tanya Mba Sarah dengan lembut dan penuh kekhawatiran dari raut wajahnya.
Lily menggelengkan kepalanya, "Engga Mba, aku cuman mau ke toilet, sebentar ya mba," ucap Lily, ia bergegas menuju toilet yang berada di dekat sana.
Sesampainya di dalam toilet, Lily langsung mengunci pintu bilik dengan rapat. Ia bersandar pada pintu kayu tersebut, merosot pelan hingga terduduk di atas lantai yang dingin. Kedua tangannya membekap mulutnya sendiri, menahan isak tangis yang mati-matian ia bendung agar tidak terdengar sampai ke luar. Pertahanan lima tahunnya hancur lebur hanya dalam hitungan detik.
"Kenapa harus sekarang? Kenapa harus di sini, Glen?" bisik Lily di sela isakannya, air mata mengalir deras membasahi pipinya.
Setiap sudut ingatan menyakitkan yang selama ini dikuburnya dalam-dalam, mendadak berputar ulang tanpa ampun. Bayangan saat Glen b******u mesra di atas ranjang dengan dengan wanita lain, disusul kabar pernikahan megah pria itu yang tersebar tak lama setelahnya, kembali menghantam d**a Lily hingga terasa sesak. Di mata Lily, Glen adalah definisi luka paling berdarah yang pernah ada. Pria itu sudah bahagia dengan kehidupan barunya di luar negeri, lalu untuk apa sekarang dia kembali dan mengusik ketenangan Lily?
Lily mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih bertalu liar. Ia tidak boleh terlihat lemah. Ia bukan lagi Lily yang dulu bisa diinjak-injak dengan mudah.
Setelah beberapa menit menata emosinya, Lily berdiri dan berjalan mendekati wastafel. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Matanya sedikit memerah. Dengan gerakan tegas, ia membasuh wajahnya dengan air dingin, menghapus sisa-sisa air mata, dan merapikan kembali pakaiannya.
"Kamu hanya staf biasa di sini, Lily. Dan dia adalah CEO-mu. Cukup bersikap profesional, anggap dia orang asing," bisik Lily pada dirinya sendiri, mencoba mengokohkan kembali dinding pertahanan yang sempat runtuh.
Dengan langkah yang dipaksakan tegap, Lily keluar dari toilet dan kembali ke kubikel kerjanya. Suasana kantor masih tampak ramai membicarakan kedatangan sang CEO baru, namun Lily memilih abai dan langsung fokus pada tumpukan laporan keuangan di mejanya.
Tepat pukul sebelas siang, interkom di meja kerja Mba Sarah berbunyi. Kepala divisi itu mengangkat telepon, mendengarkan dengan serius sebelum akhirnya matanya beralih menatap ke arah kubikel Lily dengan tatapan heran. Mba Sarah menutup telepon, lalu berjalan menghampiri meja Lily.
"Lily," panggil Mba Sarah pelan, membuat Lily mendongak dari layar komputernya. "Kamu dipanggil ke ruangan CEO sekarang juga."
Jantung Lily seketika mencelos. "Saya, Mba? Ada urusan apa, ya?" Tanya Lily, berusaha menyembunyikan nada panik dalam suaranya.
Mba Sarah mengangkat bahu, ikut bingung. "Mba juga kurang tahu. Sekretaris Pak Glen baru saja menelepon, katanya ada berkas laporan keuangan kuartal terakhir yang harus kamu antarkan langsung ke ruangannya sekarang. Kamu yang pegang berkas itu, kan? Ayo segera dibawa ke atas, jangan bikin Pak CEO menunggu lama."
Lily membeku di tempatnya. Tangannya yang memegang map plastik berwarna biru mendadak terasa dingin dan gemetar. Baru saja ia meyakinkan diri untuk menghindar, namun takdir atau mungkin Glen sendiri justru langsung menariknya masuk ke dalam kandang singa.
Bersambung.....