Hai, aku Lyora Seraphine Alvinda. Tapi jangan pusing, panggil aja aku Lily. Nama lengkapku kayak nama tokoh drama Korea, ya? Hahahaha! Aku selalu dapat komentar begitu setiap kali memperkenalkan diri. Tapi gapapa, aku sudah terbiasa. Aku cuma gadis biasa yang suka baca novel, dengerin lagu-lagu indie, dan kadang suka melamun sampai lupa waktu.
Umurku baru 18 tahun, dan hari ini adalah hari pertamaku di kampus. Universitas Brawijaya, Fakultas Sastra. Mimpi masa kecilku akhirnya terwujud. Aku sudah membayangkan bagaimana serunya jadi mahasiswa: ikut organisasi, punya teman-teman baru, dan… siapa tahu, ketemu seseorang yang bikin jantungku berdegup kencang.
Tapi, ya ampun… jangan lebay dulu, Lily!
Pagi yang Berbeda
Alarm di ponselku berbunyi nyaring pukul 05.30 pagi. Aku mengucek mata, masih berat karena semalam kurang tidur. Tapi hari ini adalah hari ospek, aku nggak boleh telat.
“Lily, cepat mandi! Nanti kesiangan!” teriak ibuku dari dapur.
Aku menghela napas, lalu melompat dari kasur. Setelah mandi dan berganti baju kemeja putih polos dan celana hitam sederhana, plus sepatu kets putih yang sudah kusiapkan semalam aku menatap diri di cermin.
“Semangat, Lily! Hari pertamamu!” bisikku sambil tersenyum.
Kampus hanya berjarak 20 menit dari rumah. Aku memilih naik angkot saja, biar lebih irit. Udara pagi masih sejuk, dan langit mulai berwarna jingga. Aku menyandang tas berisi botol minum, pulpen, dan buku catatan kecil. Jantungku berdebar-debar.
Sesampainya di kampus, suasana sudah ramai. Mahasiswa baru berkerumun di halaman depan, beberapa panitia ospek dengan kaos kuning terlihat sibuk mengatur barisan. Aku mencari kelompokku, Fakultas Sastra, lalu berdiri di barisan yang ditunjuk.
Tiba-tiba…
Tok.
Seseorang tak sengaja menabrak pundakku dari belakang.
“Maaf!” suara itu dalam, hangat, tapi terdengar agak gugup.
Aku menoleh dan waktu seakan berhenti.
Dia tinggi, mungkin sekitar 180 cm. Kulitnya sawo matang, rambut hitam sedikit ikal yang terlihat alami. Tapi yang paling menarik perhatianku… matanya. Tatapannya sayu, seperti menyimpan seribu cerita. Dan saat dia tersenyum malu… "Oh my God" Pipinya memiliki lesung kecil yang bikin senyumannya terlihat manis sekali.
“Nggak apa-apa,” jawabku, tiba-tiba suaraku jadi kecil.
“Aku Atar,” ujarnya, mengulurkan tangan.
“Lily,” balasku, berusaha tenang meski jari-jariku gemetar saat bersentuhan dengannya.
Dia tersenyum lagi, dan lesung pipinya muncul. Aku merasa sesuatu di dadaku… seperti lilin kecil yang baru saja dinyalakan.