Hanya satu kata yang bisa disimpulkan jika mendengar kerajaan api dan kerajaan es, permusuhan. Bertahun-tahun perang tak membuat mereka memilih jalan tengah untuk mengakhiri, malah kedua kerajaan itu seolah mewariskan permusuhan antar kerajaan.
Kerajaan api yang disebut sebagai Land Of Fire (LOV) yang dipimpin raja Henry benar-benar menaruh dendam terhadap sosok raja di kerajaan Iceland yakni raja Charles. Pembunuhan keluarga kerajaan sahabat Henry yang menjadi alasan sang raja ingin menundukkan tampuk kekuasaan raja Charles.
Pangeran tampan dari kerajaan LOV yang kini meneruskan balas dendam sang raja. Putra mahkota yang memiliki kekuatan sangat kuat bahkan diisukan tak terkalahkan tersebut menjadi salah satu kekuatan terbesar yang dimiliki kerajaan LOV.
Lain dengan kerajaan LOV, kerajaan Iceland memiliki seorang putri yang sangat cantik. Rambut putih khas keturunan keluarga kerajaan Iceland, mata bulat dengan warna kehijauan serta memiliki otak yang sangat cerdas menjadikan putri digadang-gadang menjadi wanita tercantik seantero negeri.
Putri Clarissa, dengan titel seorang putri di namanya tak membuat ia merasa seperti di negri dongeng yang menceritakan seorang putri pasti akan hidup bahagia bersama pangeran. Kehidupannya tak terlalu menyenangkan ditambah tuntutan dari kedua orangtuanya membuat putri Cla tertekan dan harus menjadi sosok sempurna.
Cla sangat menyukai bermain pedang sayangnya raja Charles menentang keras hobi anaknya itu hingga Cla hanya bisa belajar pedang secara sembunyi-sembunyi. Tapi perjuangannya tak sia-sia, buktinya saat ini ia sangat pandai bermain pedang.
Di sebuah hutan hiduplah kakek tua yang bersedia mengajari Clarissa ilmu pedang, kakek itu bernama mpu Geras.
"Ilmu pedangmu sudah semakin mumpuni, Nak. Kakek harap kamu dapat menggunakannya sebaik mungkin. Ilmu yang kita miliki adalah perlindungan diri bukan untuk melakukan kejahatan," pesan mpu Geras.
Clarissa mengangguk setuju, kakek guru memang orang yang sangat baik dan entah mengapa ia merasa sosok kakek guru adalah sosok ayah yang ia inginkan. Raja terlalu mengekang putri sehingga ia sangat kesulitan berekspresi saat berada di lingkungan kerajaan, di sana ia hanya dididik menjadi seorang putri yang lemah lembut bahkan kekuatan es yang ia miliki pun terlarang digunakan di kerajaan Iceland.
Raja berasumsi bahwa kekuatan Clarissa adalah kutukan bagi keturunan Iceland, bahaya akan datang, bencana akan menghancurkan, dan kerajaan pasti akan runtuh jika Cla terlalu sering ataupun menampakkan kekuatan es yang ia miliki. Padahal bagi Cla, kekuatan yang ia miliki samasekali bukan kutukan tapi mau bagaimana lagi seorang ayah pasti ingin melindunginya kan?
"Terimakasih kakek guru atas ilmu yang kakek ajarkan, seperti biasa kek saya harus segera kembali ke istana sebelum pengawal sadar bahwa saya sedang berkeliaran di hutan seperti ini," gurau Clarissa menbuat mpu Geras tersenyum sambil mengangguk.
***
"PENGHIANAT!" Murka Charles ketika mengetahui seorang prajuritnya menjadi sekutu pihak musuh dan membocorkan berita kerajaan Iceland kepada kerajaan musuh.
Tanpa ragu, pedang panjang nan tajam itu ditebaskan ke leher sang penghianat. Clarissa bergidik ngeri, takut dan tak tega melihat hukuman raja yang disaksikan di alun-alun kerajaan. Hukuman kerajaan Iceland memang sangat mengerikan tapi hingga saat ini tak ada yang berani menentang hukuman raja kejam bahkan sang ratu sekalipun.
Bisik-bisik rakyat terdengar ketakutan, Cla sudah tak bisa melihat kekejaman yang dipertontonkan di muka umum tersebut lebih baik ia pergi menemui kakek guru untuk belajar pedang.
Selama ini tak ada yang tahu bahwa sang putri memiliki kekuatan es bahkan sang kakek juga tak tahu hanya ayah dan ibunya saja yang mengetahui kutukan tersebut namun sang raja dengan tegas mengatakan putri harus menyembunyikan kekuatan itu agar tak terjadi bencana. Jelas putri menurut, selain karena ia sangat menyayangi kedua orangtuanya ia juga cukup takut jika benar kerajaan akan dalam masalah jika Cla mengeluarkan kekuatan es di lingkungan kerajaan.
Setelah melihat penjagaan ketat, prajurit bertebaran dimana-mana membuat Clarissa mengurungkan niatnya. Bisa-bisa ia ketahuan jika nekat kabur di saat penjagaan seperti ini, Clarissa memilih duduk di taman kerajaan.
Menjadi putri sangatlah membosankan, tidak bisa berbaur dengan anak seusianya, dilarang melakukan ini dan itu, hanya melakukan jika diperbolehkan, bahkan hingga hal-hal kecil pun diatur. Clarissa benar-benar merasa terikat, apakah semua putri merasakan hal yang sama dengannya?
"Permisi tuan putri, ada apa memanggil saya?" Tanya seorang berpakaian panglima lengkap dengan sebuah pedang yang ia bawa.
"Saya bosan, ajari saya berkuda." Pinta Clarissa kepada Robert yang merupakan panglima perang tangguh kepercayaan raja.
Robert panglima tampan yang biasa menemani Clarissa jika dilanda kebosanan, lelaki itu juga tak segan menuruti permintaan Cla. Jika di kerajaan tak ada Robert mungkin Cla benar-benar akan mati kebosanan.
Seekor kuda terbaik dipilih Robert untuk mengajari Clarissa, putri telah naik ke punggung kuda dan Robert tak berani mengajarkan terlalu jauh hingga ia hanya mengajarkan dasar berkuda sembari berjalan mengiringi kuda yang berjalan pelan. Clarissa paham bahwa Robert pasti takut jika raja marah dan Cla memakluminya.
Clarissa sangatlah pandai, meski hanya mendapat teori bukan praktik dari Robert ia sangat cepat mempelajarinya. Tanpa menghiraukan peringatan Robert, Clarissa memacu kuda dengan kecepatan tinggi membuat lelaki itu panik seketika. Tawa Clarissa sangat lepas, gadis yang suka tantangan dan petualangan berbeda dengan aturan kerajaan yang terikat. Clarissa sangat bahagia.
Tawa bahagia itu seketika sirna ketika retina Clarissa menangkap sosok raja yang tengah berdiri menatap murka ke arahnya. Tanpa membuang waktu, Clarissa menghentikan kuda yang ia tunggangi lalu mengikat di sebuah pohon. Clarissa tertunduk dalam, sepertinya ia akan mendapat hukuman.
"Masuk kamar!" Bentak raja membuat Clarissa terlonjak kaget.
Langsung saja gadis itu menurut, entah mengapa atau hanya perasaan Clarissa saja bahwa raja samasekali tak menyayanginya? Selalu bersikap arogan terhadapnya ah bukankah raja memang arogan kepada siapapun? Dan Clarissa merasa raja terlalu ketat padanya.
Kamar luas, makanan lezat, hidup enak, bertitel seorang putri, bahkan semua itu samasekali tak membuat Clarissa bahagia.
Suara langkah mendekat membuat Clarissa menengok pintu, ratu tengah berdiri anggun dengan dayang yang berada di kiri kanannya.
"Kalian tunggu diluar," perintah ratu kemudian menutup pintu.
"Ada apa?" Tanya ratu mendekati putri.
"Maafkan saya ibunda, saya hanya merasa bosan," jujur Clarissa menangkupkan kedua tangannya.
Anne menatap teduh lalu berkata, "jangan buat raja marah."
"Baik bunda," balas Clarissa merasa bersalah.
"Hari ini pasukan kerajaan akan kembali berperang," ungkap Anne dengan wajah gusar.
Clarissa masih menunduk menunjukkan sikap sopan, tangannya saling memeras memberikan kekuatan untuk diri sendiri.
"Kenapa harus terjadi perang bunda?" Lirih Clarissa.
Anne mendekat lalu menggenggam tangan anaknya, suasana kerajaan memang sangat kacau apalagi peperangan yang bisa dikatakan hampir setiap hari di setiap perbatasan. Tapi mau bagaimana lagi? Ambisi raja ingin memperluas kerajaan tak bisa dibantah siapapun termasuk dirinya.
"Ini biasa terjadi," jawab Anne.
Clarissa tak berani bertanya lebih jauh, bahkan dengan ibunya sendiri ia merasa tak bisa seutuhnya menjadi seorang anak. Sempat saat Clarissa keluar lingkungan kerajaan, melihat kehidupan di pedesaan dan merasa iri dengan kedekatan ibu dan anak di sana. Kalau bisa memilih mungkin Clarissa akan lebih memilih jadi orang biasa-biasa saja daripada terkekang aturan seperti ini.
"Kamu ikuti saja apa yang raja katakan, semua pasti baik-baik saja." Sorot mata ratu kian serius, melihat tingkah Clarissa yang sering bertentangan dengan perintah raja membuatnya khawatir.
"Kenapa Clarissa mendapat kutukan kekuatan es bunda?" Tanya Clarissa mengalihkan pembicaraan.
Anne langsung gugup, matanya langsung melirik prajurit serta dayang yang hilir mudik tampak dari jendela kamar Clarissa.
"Kamu tau kan raja sudah mengatakan bahwa kamu terlarang membahas dan menggunakan kekuatan itu?" Peringat Anne tegas.
Jawaban Anne benar-benar tak memberikan pencerahan apapun bagi Clarissa, dia butuh penjelasan bukan sanggahan. Tapi lagi-lagi ia tak bisa berbuat apapun, hanya bisa diam dan mengangguk santun.